Swasembada Jagung Dinilai Bisa Tekan Harga Telur dan Ayam
10 Juni 2025 14:58 WIB
·
waktu baca 3 menit
Swasembada Jagung Dinilai Bisa Tekan Harga Telur dan Ayam
Target swasembada jagung dinilai punya dampak besar terhadap ketahanan pangan nasional, salah satunya di sektor peternakan.kumparanBISNIS

Target swasembada jagung dinilai punya dampak besar terhadap ketahanan pangan nasional, salah satunya di sektor peternakan.
Pengamat pertanian Syaiful Bahari menjelaskan bahwa jagung adalah komponen utama pakan ternak, khususnya unggas. Jika Indonesia bisa mandiri dalam produksi jagung, maka ketergantungan pada impor pakan bisa ditekan, sehingga harga daging ayam dan telur lebih stabil dan terjangkau.
“Kalau ekosistem industri jagung dan pakan bisa dibenahi, Indonesia bukan saja bisa swasembada jagung, tapi juga bisa jadi pemain besar daging unggas seperti Brasil,” ujar Syaiful kepada kumparan, Selasa (10/6).
Namun, ia menyoroti bahwa saat ini hampir seluruh rantai pasok jagung dari hulu ke hilir masih dikuasai oleh korporasi besar. Mulai dari industri benih, pembelian hasil panen, hingga pengolahan pakan dan industri peternakan.
“Petani hanya jadi penanam, dan peternak sangat tergantung pada pakan dari korporasi (saat ini),” tambah Syaiful.
Menurutnya, absennya negara dalam hilirisasi industri jagung membuat pasar tidak merata.
“Sebenarnya tidak terlalu sulit bagi pemerintah untuk mendorong industrialiasi pembibitan benih jagung dan pakan unggas di setiap daerah yang dikelola oleh industri kecil menengah. Sehingga penyerapan pasar jagung bisa merata, tidak hanya dimonopoli korporasi,” jelas Syaiful.
Ia juga menyinggung adanya ketimpangan lokasi antara sentra produksi jagung dan wilayah peternakan unggas. Ia menyebut bahwa produksi jagung banyak terkonsentrasi di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, sementara peternak unggas justru tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat. Kondisi ini, menurutnya, menyebabkan hambatan dalam distribusi.
“Nah yang (saat ini) membuat kita (Indonesia) impor jagung karena sentra produksi jagung dengan peternakan itu beda,” tambah Syaiful.
Senada dengan Syaiful, Ekonom Pertanian dari CORE Indonesia, Eliza Mardian, menyebut hampir 60 persen biaya produksi peternak unggas berasal dari pakan. Karena itu, peternak saat ini memilih jagung impor agar produksi tetap efisien.
“Peternakan itu banyaknya di Jatim, Jabar, Sumbar, Jateng jadi terkendala oleh biaya logistik yang tinggi dan infrastruktur pasca-panen yang terbatas jadi jagung petani lokal mahal bgt dibandingkan jagung impor,” tambah Eliza.
Menurutnya, jika Indonesia ingin swasembada jagung tanpa memengaruhi produksi pakan ternak, dibutuhkan infrastruktur pasca panen seperti pengeringan, silo, dan gudang pendingin yang lebih efisien agar peternak bisa menggunakan jagung petani domestik dengan harga yang lebih memadai.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyatakan mulai tahun depan Indonesia sudah tidak akan melakukan impor jagung di mana pada tahun lalu impor masih dilakukan sekitar 500.000 ton.
“Kira-kira tahun 2026 sudah tidak impor lagi pak menteri? Ekspor hehe, terima kasih. Saya diberi jaminan oleh dua tokoh Indonesia yang hebat Menteri Pertanian dan Kapolri menjamin tahun 2026 Indonesia tidak impor lagi jagung,” kata Prabowo saat meninjau panen jagung di Bengkayang, Kalimantan Barat, dikutip Selasa (10/6).
Prabowo juga menerima laporan terkait peningkatan produksi jagung pada kuartal pertama tahun ini. Ia mengungkap peningkatan produksi terjadi hingga 48 persen. Pada hari ini Indonesia juga akan melakukan ekspor perdana jagung. Ekspor tersebut dilakukan ke Kuching, Malaysia.
