Telkom Connect-in: Penyu-lamat 2025 Lakukan Konservasi Penyu Pantai Pelangi
2 September 2025 17:37 WIB
·
waktu baca 4 menit
Telkom Connect-in: Penyu-lamat 2025 Lakukan Konservasi Penyu Pantai Pelangi
Telkom Indonesia menghadirkan program Connect-in: Penyu-lamat 2025 untuk melakukan edukasi soal sampah dan konservasi penyu di Pantai Pelangi, Bantul. kumparanBISNIS

PT Telkom Indonesia (Persero) sukses menyelenggarakan program Telkom Connect-in: Penyu-lamat 2025 di pesisir Pantai Pelangi, Bantul, DI Yogyakarta pada Sabtu (23/8). Langkah ini menegaskan komitmen Telkom terhadap keberlanjutan lingkungan. Mereka pun melibatkan 50 karyawan TelkomGroup dari seluruh Indonesia.
Penyelenggaraan Telkom Connect-in: Penyu-lamat ini dilakukan mengingat ancaman yang serius dari krisis sampah dan degradasi ekosistem di Indonesia. Tiap tahunnya, Indonesia menghasilkan sekitar 69,9 juta ton sampah (KLHK, 2023).
Sayangnya, hanya 9–10 persen di antaranya yang benar-benar dikelola dengan baik. Sisanya dibakar, ditimbun, atau berakhir mencemari sungai dan laut. Polusi ini tidak hanya mengganggu kesehatan manusia, tetapi juga mengancam satwa laut, termasuk penyu.
Padahal, enam dari tujuh spesies penyu dunia, hidup di perairan Indonesia. Banyak penyu mati karena menelan plastik atau terperangkap sampah, menyebabkan cedera hingga menurunnya tingkat reproduksi.
Tidak hanya melibatkan karyawan, Telkom juga berkolaborasi dengan Social Event POISE Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dan IEEE Indonesia.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan meliputi beach clean-up dengan hasil pengumpulan 150 kg sampah plastik, pelatihan waste management bersama ISI Yogyakarta dan Telkom University, pelatihan fotografi dan ekowisata bersama Komunitas Fotografi Telkom, penanaman 150 pandan laut, serta pelepasan 100 tukik sebagai simbol konservasi pesisir berkelanjutan.
Partisipasi karyawan dalam kegiatan ini bukan hanya sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari budaya employee volunteering yang terus diperkuat Telkom. Dengan turun langsung ke lapangan, para relawan dapat merasakan dampak nyata kontribusi mereka terhadap lingkungan sekaligus membangun kepedulian kolektif.
Berbagai studi global menunjukkan bahwa program corporate volunteering tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat dan alam, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan, meningkatkan kepemimpinan, dan menumbuhkan kebanggaan karyawan terhadap perusahaan.
Bagi Telkom, nilai ini sejalan dengan misi membangun keberlanjutan melalui inovasi dan kolaborasi.
Venny, salah satu karyawan TelkomGroup Jakarta yang ikut sebagai salah satu relawan, mengatakan bahwa Penyu-lamat 2025 ini jadi pengalaman yang luar biasa.
“Biasanya saya sehari-hari sibuk dengan pekerjaan, tapi kali ini bisa langsung turun ke lapangan, membersihkan pantai, menanam pandan laut, sampai melepas tukik ke laut. Rasanya seperti mengembalikan sesuatu yang kita pinjam dari alam. Program ini juga bikin kami para karyawan lebih kompak, sekaligus sadar bahwa sekecil apa pun aksi kita bisa berdampak besar untuk keberlanjutan,” jelas Venny.
Pantai Pelangi, Titik Mendarat Empat Jenis Penyu
Pantai Pelangi menjadi Lokasi pelaksanaan karena pantai ini menjadi salah satu titik pendaratan bagi empat jenis penyu, terutama penyu lekang yang sering bertelur pada periode April–Oktober.
Menurut penggiat konservasi setempat, setiap sarang penyu lekang bisa berisi 80 hingga 140 butir telur, dan jumlah sarang terus meningkat tiap tahunnya. Inilah yang membuat Telkom melihat pentingnya mendukung penuh upaya pelestarian di Pantai Pelangi, Bantul.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Bantul Ir. Fenti Yusdayati yang turut hadir mewakili Bupati Bantul menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya Penyu-lamat kepada Telkom dan seluruh pihak yang terlibat.
“Kegiatan hari ini menjadi bukti nyata hasil kolaborasi lintas sektor antara mahasiswa, akademisi, perusahaan, dan pemerintah untuk konservasi lingkungan,” tambahnya
Senior General Manager Social Responsibility Telkom, Hery Susanto, menegaskan bahwa program Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), khususnya inisiatif employee volunteering, diharapkan mampu mendorong karyawan Telkom untuk tidak hanya hadir sebagai pekerja, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas tantangan sosial dan lingkungan.
Menurutnya, kegiatan seperti Penyu-lamat memberi pengalaman berharga bagi relawan untuk merasakan langsung pentingnya konservasi, sekaligus menumbuhkan empati dan jiwa kepemimpinan.
“Pada akhirnya, kami percaya bahwa perusahaan yang kuat lahir dari karyawan yang peduli dan terlibat aktif untuk kebaikan masyarakat dan lingkungan,” ujar Hery.
Melalui Telkom Connect-in: Penyu-lamat 2025, Telkom membuktikan bahwa komitmen terhadap lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata. Sebagai bagian dari program TJSL, inisiatif ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 13 (Climate Action), poin 14 (Life Below Water), dan poin 15 (Life on Land).
Dengan melibatkan karyawan, komunitas, akademisi, hingga pemerintah daerah, Telkom menghadirkan program yang terarah, berdampak, dan berkelanjutan demi keberlangsungan ekosistem pesisir serta kesejahteraan masyarakat Indonesia.
