Untuk Pertama Kalinya China Tak Beli Kedelai AS, Alihkan Impor ke Brasil

19 September 2025 14:46 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Untuk Pertama Kalinya China Tak Beli Kedelai AS, Alihkan Impor ke Brasil
Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa China kembali menggunakan komoditas pertanian sebagai alat tawar dalam perselisihan dagang dengan AS.
kumparanBISNIS
Donald Trump dan Xi Jinping di KTT G20 Foto: REUTERS/Saul Loeb
zoom-in-whitePerbesar
Donald Trump dan Xi Jinping di KTT G20 Foto: REUTERS/Saul Loeb
Untuk pertama kalinya sejak setidaknya tahun 1999, China belum membeli kedelai dari Amerika Serikat (AS) di awal musim ekspor, Juni 2025.
Mengutip Bloomberg, langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa China kembali menggunakan komoditas pertanian sebagai alat tawar dalam perselisihan dagang dengan AS.
Sebagai pembeli kedelai terbesar di dunia, China punya pengaruh besar terhadap pasar global. Kini, mereka kembali memakai strategi menahan pembelian kedelai AS, seperti yang dilakukan saat perang dagang pertama di era Presiden Donald Trump.
Data dari Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan bahwa hingga 11 September, China belum memesan satu pun pengapalan kedelai AS. Ini pertama kalinya terjadi sejak pencatatan dimulai pada 1999.
Padahal tahun lalu, AS menyumbang seperlima dari total impor kedelai China, dengan nilai lebih dari USD 12 miliar atau lebih dari separuh total ekspor kedelai AS.
Dengan stok dalam negeri yang cukup, China ingin menunjukkan bahwa mereka bisa bersabar dan siap menggunakan komoditas sebagai alat tawar dalam negosiasi dagang.
Presiden Xi Jinping dijadwalkan berbicara dengan Trump hari ini, Jumat (19/9). Pembicaraan keduanya di tengah ketegangan soal pembatasan semikonduktor dan ekspor logam tanah jarang.
Sebelum itu, China meningkatkan tekanan dengan mengumumkan bahwa Nvidia melanggar aturan antimonopoli berdasarkan hasil investigasi awal.
Menurut Even Pay, analis pertanian di Trivium China, pendekatan China terhadap kedelai mirip dengan strategi mereka terhadap logam tanah jarang, hasil perencanaan jangka panjang sejak perang dagang sebelumnya.
Para pembeli China disebut enggan membeli kedelai AS karena tarif tinggi dan ketidakpastian politik yang menyertainya.
Strategi ini mulai membuahkan hasil. Petani AS yang sedang panen besar justru menghadapi harga kedelai yang sangat rendah.
Dikenai Tarif 20 Persen
Ilustrasi produksi kedelai. Foto: Reuters/Stringer
Mereka yang merupakan basis suara utama Trump sudah memperingatkan akan krisis perdagangan dan keuangan, serta mendesak pemerintah agar mencabut tarif agar bisa menjual ke China. Saat ini, kedelai AS yang masuk ke China masih dikenai tarif lebih dari 20 persen.
Sementara itu, di China suasananya lebih tenang. Pabrik penggilingan kedelai, peternak babi, dan produsen pakan sudah mengamankan pasokan dari Brasil.
Bahkan beberapa di antaranya menggandakan stok. Pemerintah China juga punya cadangan nasional sebagai penyangga tambahan. Kedelai ini terutama dipakai untuk membuat bungkil kedelai (pakan babi) dan minyak goreng.
Sumber anonim menyebut bahwa importir China telah membeli cukup kedelai untuk kebutuhan sepanjang 2025, sehingga mereka baru akan membutuhkan pasokan dari AS paling cepat pada kuartal pertama 2026.
Biasanya, China memang mengandalkan kedelai AS antara Oktober hingga Februari, sebelum panen di Amerika Selatan tiba. Mereka biasanya memesan jauh-jauh hari demi harga murah. Namun dengan ketegangan dagang yang masih berlanjut, importir enggan ambil risiko.
Harga kedelai berjangka di Chicago naik pada Jumat, namun masih mencatat penurunan secara mingguan. Strategi China ini tak hanya soal kedelai.
Mereka juga mengurangi pembelian jagung, gandum, dan sorgum dari AS, meski tetap membeli dari Brasil, Kanada, dan Australia. Selain karena perlambatan ekonomi, langkah ini juga sejalan dengan upaya China untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari AS.
Porsi impor gandum dan biji-bijian asal AS ke China pun terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, menurut analisis Bloomberg atas data bea cukai China.
Dengan kondisi ini, sektor pertanian terutama kedelai diprediksi jadi topik utama dalam negosiasi dagang antara Trump dan China. Trump sendiri disebut telah mendesak China agar melipatgandakan pembelian kedelai AS.
Andy Rothman, mantan diplomat AS yang kini menjadi CEO Sinology LLC, menyebut bahwa meski Trump ingin ada kemajuan, kesepakatan dagang yang nyata kemungkinan tidak akan tercapai hanya lewat telepon. Pertemuan langsung masih disiapkan.
Menjelang pembicaraan itu, China memang berusaha sedikit meredakan ketegangan. Mereka kembali membeli minyak mentah AS setelah enam bulan berhenti. Mereka juga membatalkan investigasi antimonopoli terhadap Android milik Google.
Namun menurut Rothman, kedelai tetap jadi isu sentral. Alih-alih menargetkan pembelian 'tak masuk akal' seperti di kesepakatan dagang fase pertama dulu, kini kedua negara mungkin akan membuat target yang lebih realistis.
Risiko Pasokan
Ilustrasi produksi kedelai. Foto: Reuters/Ueslei Marcelino
Meski demikian, strategi China ini juga mengandung risiko. Harga kedelai Brasil melonjak sejak awal tahun, dan jika panen di Amerika Selatan terganggu, pasokan bisa menipis. Jika itu terjadi, China terpaksa menggunakan cadangan lebih cepat dari yang direncanakan.
Beberapa pelaku industri di China mengaku waspada. Salah satu manajer pengadaan menyebut bahwa ia baru mengamankan pasokan hingga bulan depan.
Sementara itu yang lain memperingatkan bahwa jika tiba-tiba ada gelombang impor kedelai AS, harga pakan bisa anjlok dan mengacaukan strategi stok yang selama ini dibangun.
Meskipun dikenai tarif, AS sebenarnya tetap menjadi pemasok kedelai yang paling efisien dan murah. Jadi, menurut Even Pay, makin lama China menahan diri untuk tidak membeli dari AS, makin besar pula biaya yang harus ditanggung.
Pada perang dagang pertama dulu, China masih memberi pengecualian khusus agar sejumlah barang pertanian dari AS tetap bisa masuk.
β€œKalau nanti ada kesepakatan, pasti akan tetap ada permintaan dari pembeli China untuk kedelai AS,” kata Pay. β€œMasalahnya memang perang dagang, bukan karena permintaannya benar-benar hilang," imbuh dia.
Trending Now