Wamenperin Ungkap Sektor Konstruksi ASEAN dalam Tren Positif
29 September 2025 19:04 WIB
·
waktu baca 3 menit
Wamenperin Ungkap Sektor Konstruksi ASEAN dalam Tren Positif
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menuturkan pertumbuhan sektor konstruksi di ASEAN menunjukkan tren yang positif.kumparanBISNIS

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menuturkan pertumbuhan sektor konstruksi di ASEAN menunjukkan tren yang positif.
Ia memberi contoh dalam catatan ASEAN Statistic, pertumbuhan di sektor tersebut ada di kisaran 4 persen selama 2015-2022. Dengan begitu, potensi ekspor yang dimiliki Indonesia juga cukup signifikan bahkan akan terus meningkat sampai tahun 2030.
“Indonesia memiliki potensi ekspor yang juga sangat signifikan dalam sektor ini. Pada tahun 2030 nilai ekspor Indonesia ke dunia untuk produk kaca, baja, dan semen diproyeksikan (meningkat) untuk kaca USD 473 juta, baja USD 729 juta, semen USD 447 juta,” ujar Faisol.
Namun, ia juga menjelaskan salah satu tantangan yang akan dihadapi Indonesia jika kesepakatan ini sudah aktif nantinya. Menurut Faisol, karena Indonesia adalah negara besar maka kebutuhan kaca, semen dan baja juga akan besar.
Hal ini akan membuat banyak produk negara-negara ASEAN lain ikut memasarkannya di Indonesia. Namun, hal itu akan dijawab dengan penguatan daya saing produk bahan bangunan Indonesia.
“Tantangan itu harus kita jawab. Supaya produk kita juga lebih murah, lebih berkualitas, punya daya saing dan bisa tembus ke pasar ASEAN,” kata Faisol usai rapat.
Baru Malaysia yang sudah melakukan ratifikasi tersebut untuk di ASEAN saat ini. Faisol menuturkan, ke depan negara-negara ASEAN lain juga turut melakukan ratifikasi.
“Jadi selanjutnya negara-negara lain juga akan melakukan proses yang sama seperti kita. Melakukan ratifikasi apakah melalui parlemen mereka ataukah langsung oleh pemerintahnya,” ujarnya.
Pemerintah Target Ratifikasi Sektor Konstruksi ASEAN Segera Rampung
Pemerintah menarget proses ratifikasi atau pengesahan dari ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Building and Construction Materials (MRA-BCM) bisa rampung tahun depan. Dengan begitu, akan ada pengakuan bersama antara negara ASEAN untuk sertifikasi dan penilaian bahan bangunan dan konstruksi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menuturkan, nantinya ratifikasi tersebut juga akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres).
“Adapun target implementasi diharapkan pada kuartal I tahun 2026. Kami mengusulkan rekomendasi pengesahan persetujuan MRA-BCM ini dapat dilakukan melalui Peraturan Presiden,” kata Budi dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat pada Senin (29/9).
Budi menjelaskan, tujuan utama dari kesepakatan tersebut adalah memberikan pengakuan bersama atas hasil pengujian atau sertifikasi bahan bangunan dan konstruksi yang diterbitkan oleh Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) yang terdaftar. MRA-BCM tersebut akan berlaku di semua aktivitas perdagangan bahan bangunan maupun laporan uji atau sertifikasi digunakan sebagai dasar tindakan regulasi.
“Cakupan produk yang diatur dalam persetujuan ini mencakup bahan bangunan dan konstruksi, di mana saat ini cakupannya masih terbatas pada semen, kaca, dan baja,” ujar Budi.
Dengan begitu, Budi melihat kesepakatan itu bisa memperkuat daya saing produk nasional, akses pasar lebih luas, sampai peningkatan infrastruktur mutu nasional.
Saat ini, Budi menuturkan bahwa sektor konstruksi Indonesia memiliki kekuatan dengan pertumbuhan yang pesat baik di domestik maupun di kawasan ASEAN. Selain itu, sub sektor utama seperti semen, baja, dan kaca Indonesia memiliki kapasitas produksi yang terus meningkat dan konsisten.
“Terutama untuk semen dan baja dan juga memiliki peluang pasar yang besar di ketiga subsektor tersebut,” kata Budi.
Nantinya, kesepakatan ini juga dipandang bisa mendorong peningkatan ekspor dan efisiensi dari segi waktu dan biaya karena bahan bangunan yang diekspor ke ASEAN tak memerlukan lagi pengujian ulang di negara tujuan.
