Wamentan: Ekspor Telur RI ke AS Terbuka Lewat Tarif 19 Persen

16 Juli 2025 14:32 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamentan: Ekspor Telur RI ke AS Terbuka Lewat Tarif 19 Persen
Wamentan Sudaryono merespons kesepakatan mengenai penurunan tarif bea keluar barang-barang ke AS yang turun menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen sebelum.
kumparanBISNIS
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Wamentan Sudaryono merespons kesepakatan baru mengenai penurunan tarif bea keluar barang-barang ke Amerika Serikat (AS) yang turun menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen sebelum.
Menurutnya hal ini jadi kabar baik untuk rencana ekspor telur dan unggas ke AS. Sudaryono menilai keputusan negosiasi itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tarif impor paling rendah di antara negara Asean, meski sejumlah negara kini masih terus berunding dengan AS.
β€œMemang telur sama unggas kita sudah selesai bahkan surplus. Kita berusaha untuk ekspor. Termasuk enggak hanya ke Amerika, ke UAE. Kemarin presiden juga taken free trade dengan Uni Eropa. Dan kita bisa kirim ke sana juga,” katanya saat ditemui di DPR, Senayan, Rabu (16/7).
Sudaryono juga mengakui saat ini permintaan juga sudah datang dari AS, meski Ia belum bisa menjelaskan jumlah permintaan telur yang diminta. β€œKarena Amerika ada lagi krisis telur kan. Kita lihat kondisi sekarang,” ujarnya.
Sebelumnya Badan Pangan Nasional (Bapanas) sempat menjelaskan neraca telur ayam nasional saat ini memang mengalami surplus.
Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2025 yang dihimpun Bapanas, produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 6,4 juta ton, sementara kebutuhan bulanan hanya sekitar 518 ribu ton. Dengan kondisi ini, Indonesia diproyeksikan akan tetap mengalami surplus telur.
Menariknya, negara-negara yang selama ini mengekspor grand parent stock (GPS) ayam ke Indonesia justru mengalami kekurangan pasokan dan lonjakan harga telur.
Amerika Serikat, Prancis, serta beberapa negara Eropa yang menjadi pemasok utama GPS kini tengah berjuang menghadapi krisis pasokan akibat wabah penyakit unggas serta meningkatnya biaya produksi.
Trending Now