WIKA Tanggung Kerugian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Setiap 3 Bulan

12 November 2025 18:29 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
WIKA Tanggung Kerugian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Setiap 3 Bulan
WIKA mengaku ikut merugi akibat proyek KCIC. Dengan penyertaan modal Rp 6,1 triliun, WIKA juga masih menagih utang Rp 5 triliun yang belum dibayar KCIC.
kumparanBISNIS
Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengungkap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung milik KCIC turut memberikan dampak kerugian terhadap perseroan. Pasalnya, WIKA tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi pemegang saham KCIC.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menjelaskan bahwa penyertaan modal WIKA ke PSBI mencapai Rp 6,1 triliun. Dengan kondisi KCIC yang masih merugi secara operasional karena pendapatan tiket belum sesuai target, WIKA pun ikut menanggung dampaknya.
โ€œKita punya porsi Rp 6,1 triliun atau sekitar 32 persen dari total pemegang saham. Setiap akhir tahun atau setiap triwulan kita akan membukukan kerugian dari efek kereta cepat,โ€ kata Agung dalam public expose WIKA secara daring, Rabu (12/11).
Adapun komposisi pemegang saham PSBI adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar 58,53 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36 persen, PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08 persen. Sementara pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd mencakup CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen, dan CRIC 5 persen.
WIKA menjadi satu-satunya kontraktor asal Indonesia dalam pembangunan proyek KCIC, tergabung dalam konsorsium High Speed Railway Contractor Consortium (HSRCC) dan menangani sekitar 25 persen pekerjaan konstruksi bawah atau fondasi.
Namun, Agung mengakui bahwa dalam proses pembangunan tersebut, WIKA mengalami sengketa (dispute) dengan pihak KCIC yang menyebabkan kerugian besar. Saat ini, proses penyelesaian perselisihan tersebut masih berlangsung.
Ia juga menyebut pihaknya tengah menunggu langkah dari PT Danantara Indonesia terkait penyelesaian masalah utang KCIC, yang diharapkan bisa berdampak positif terhadap kinerja keuangan WIKA.
โ€œPolemik di kereta cepat ini sekarang ditangani oleh Danantara. Kita sedang menunggu seperti apa hasilnya, apakah nanti dilakukan restrukturisasi di KCIC atau ada pengambilalihan investasi dari empat pemegang saham yaitu KAI, WIKA, PTPN, dan Jasa Marga oleh pemerintah,โ€ kata Agung.
โ€œTentunya kalau proyek ini diambil alih pemerintah, dampaknya akan positif bagi WIKA,โ€ lanjutnya.
Tagih Utang Rp 5 Triliun ke KCIC
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito. Foto: Dok. PT Wijaya Karya
Selain menanggung kerugian, WIKA juga masih menunggu pembayaran utang dari KCIC senilai Rp 5 triliun. Agung mengatakan, pihaknya telah mengajukan klaim resmi dan membawa kasus tersebut ke Singapore International Arbitration Centre (SIAC).
โ€œUntuk klaim WIKA yang Rp 5 triliun lebih, saat ini sedang berproses di SIAC, Singapura,โ€ ujarnya.
Meski begitu, Agung belum bisa memastikan peluang keberhasilan atas klaim tersebut karena proses arbitrase masih berjalan.
โ€œKita akan mengikuti jalannya sidang, jadi belum bisa menyimpulkan seberapa besar peluang keberhasilannya. Tapi data-data kita sudah cukup lengkap, jadi tinggal menunggu keputusan akhir,โ€ tutupnya.
Trending Now