
Yang Terdampak dari Kasus eFishery
27 Oktober 2025 19:52 WIB
·
waktu baca 11 menit
Yang Terdampak dari Kasus eFishery
Sebelum tersandung kasus manipulasi laporan keuangan, eFishery sempat digandeng pemerintah dan pembudidaya ikan. Saat startup akuakultur itu bermasalah, mereka ikut terimbas. #kumparanBISNISkumparanBISNIS
Sebanyak 40 eFeeder terpasang di 40 kolam pada lahan seluas lima hektare di Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Masing-masing kolam berisi 15.000–20.000 ikan nila—90% nila hitam, 10% nila merah. Kolam-kolam itu milik Adrianus Mario, seorang pembudidaya ikan yang menekuni dan mewarisi bisnis ikan yang dibangun pada 1991 oleh orang tuanya.
eFeeder adalah alat pemberi pakan otomatis untuk budi daya ikan yang dikontrol melalui smartphone. Alat besutan eFishery ini, berdasarkan pengalaman Mario, sangat efektif dalam mendukung usahanya. Waktu tak terbuang untuk menabur pakan secara manual.
Namun, mayoritas dari 40 eFeeder yang dipasang Mario ternyata sudah tak berfungsi. Lebih dari 30 unit eFeeder kini teronggok begitu saja di pinggir kolam, jadi wadah penyimpanan pakan sementara. Para pekerja pun harus kembali menabur pakan secara manual.
Awalnya teknisi perawatan alat itu masih datang sekali dalam sebulan pada Desember, hingga pada Februari 2025 praktis teknisi tak lagi bisa dihubungi. Aplikasi yang mengendalikan alat-alat itu pun sudah tak lagi bisa diakses
“Pengaturan (pemberian pakan) sudah tidak bisa diubah lagi karena aplikasinya pun sudah tidak bisa diakses. Jadi yang masih bisa bekerja itu dengan pengaturan yang terakhir yang masih bisa diakses gitu. Jadi sebetulnya untuk kita pun nggak bisa dipakai juga,” kata Mario saat ditemui kumparan, Jumat (24/10).
Kolam yang dimiliki Mario sudah menggunakan alat eFishery sejak 2019. Awalnya, ia mengenal teknologi eFeeder itu dari perbincangan para sales pakan yang kerap datang ke tempatnya sekitar 7 tahun lalu. Beberapa di antara mereka merupakan mantan pegawai eFishery di masa awal berdiri.
Dalam obrolannya, para sales menggembar-gemborkan keunggulan produk mereka yang bisa memberi pakan otomatis dengan mengatur jadwal dan takaran sesuai kebutuhan ikan. “Saya mendengar (eFishery) sudah cukup lama ya sekitar 2017-2018 lah gitu,” kata Mario.
Kemudian pada tahun 2019, beberapa sales eFishery mendatanginya secara khusus untuk menawarkan program promosi. Mario pun tergiur dan mencoba 2 unit terlebih dahulu untuk uji coba dua bulan. Dari percobaan itu, ia mengaku cocok dan akhirnya menyewa 40 alat.
“Jadi di awal percobaan itu kebetulan ya mungkin kita temukan ada ya kecocokan lah. Artinya bisa membantu juga. Makanya dari 2019 itu setelah trial baru kita bertahap kita coba sampai mungkin sekarang per terakhir itu total ada sekitar 40 unit ya untuk auto feeder-nya gitu,” ujar Mario yang melanjutkan kolam peninggalan orang tua sejak tahun 90-an itu.
Mario sempat mengalami masa ketidakjelasan status kerja sama dengan eFishery. Setelah sistem alat pakan otomatis di kolamnya berhenti berfungsi, ia sempat mencoba menghubungi pihak perusahaan untuk meminta perbaikan.
Namun, hingga berbulan-bulan tak ada tindak lanjut. Alih-alih mendapatkan perbaikan alat, tagihan bulanan sebesar Rp 150 ribu per alat setiap bulan tetap dikirim. Beberapa bulan kemudian, Mario sempat dihubungi kembali oleh pihak eFishery.
Mereka justru menawarkan skema take over agar alat-alat itu bisa dibeli. Tapi tawaran itu justru membuatnya ragu hingga memutuskan kontrak pada Februari 2025.
“Cuma pertanyaan saya adalah kalau saya beli dan ada kerusakan, apa yang saya lakukan? Kan seperti itu. Seperti kita membeli produk pada umumnya lah. Beli motor, beli mobil (ada garansi),” kata Mario.
Masalah yang dialami Mario tak berdiri sendiri. Kekacauan yang menimpa eFishery yang mencuat pada akhir 2024, saat startup akuakultur yang berdiri sejak 2013 itu terseret dugaan manipulasi laporan keuangan yang berdampak terhadap para pengguna.
Kasus dugaan fraud eFishery mencuat pada Desember 2024 setelah seorang whistleblower melaporkan kejanggalan dalam laporan keuangan perusahaan. Investigasi internal menemukan eFishery diduga memanipulasi pendapatan hampir USD 600 juta.
Data internal menunjukkan pendapatan riil hanya sekitar US$157 juta dengan kerugian USD 35,4 juta, jauh dari klaim laba USD 16 juta kepada investor.
Penyelidikan juga mengungkap penggelembungan jumlah perangkat alat pakan otomatis dari klaim 400.000 unit, hanya sekitar 24.000 yang benar-benar ada. Pada pertengahan 2025, Bareskrim Polri menahan CEO Gibran Huzaifah bersama dua eksekutif senior lainnya atas dugaan penggelapan dana lebih dari Rp 15 miliar.
Kemitraan dengan Pemerintah
Sebelum menghadapi kasus manipulasi laporan keuangan, eFishery memiliki banyak mitra yang menggunakan jasa mereka untuk mendigitalisasi sistem pemberian pakan ikan. Mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga para pembudidaya perseorangan, pernah menjadi bagian dari ekosistem eFishery.
Kementerian KKP mulai bekerja sama dengan eFishery pada 2023. Mulanya, kerja sama ini dilakukan dengan menyewa eFeeder sebanyak 256 unit, yang digunakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) di Karawang, Jawa Barat. Pada tahun berikutnya, jumlah unit yang digunakan meningkat menjadi 422 unit karena barang bagus dan skala tambak kian besar.
Stafsus Menteri KKP, Doni Ismanto Darwin memastikan kerja sama dengan eFishery dilakukan melalui proses seleksi yang ketat. Sebelum menjalin kemitraan, setiap inovasi harus memenuhi norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK).
Menurut Doni, keputusan menggandeng eFishery bukan semata karena statusnya sebagai startup besar, melainkan karena model bisnis dan teknologinya dinilai layak diuji di lapangan.
Alat automatic feeder yang ditawarkan eFishery menggunakan sistem sewa dengan harga sekitar Rp 340 ribu per unit.
Dari segi teknis, Direktur Ikan Air Payau Kementerian KKP Fernando J. Simanjuntak mengatakan penerapan alat itu digunakan dalam kegiatan modeling budidaya ikan nila salin di area seluas 80 hektare di Karawang. Menurut Nando, penggunaan alat eFishery membuat proses pemberian pakan menjadi tepat waktu, tepat jumlah, dan terintegrasi.
“Efishery saat itu menawarkan produk yang mungkin menjadi salah satu solusi di kendala-kendala yang terjadi di usaha budidaya,” kata pria yang disapa Nando kepada kumparan.
Di BPBAP Karawang, Kementerian KKP berpandangan cara konvensional memberi pakan tak lagi bisa diandalkan. Sebab, tambak nila salin seluas 80 hektare itu tengah diarahkan ke sistem industri yang menuntut efisiensi tinggi.
Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang Kementerian KKP, M. Tahang mengatakan selama ini pakan menyerap hingga 70 persen biaya produksi sehingga balai mencoba teknologi automatic feeder eFishery agar pemberian pakan lebih hemat dan tepat waktu.
“Sebenarnya visinya Pak Menteri (Wahyu Sakti Trenggono) itu kan memang percaya kepada segala sesuatu yang berbasis teknologi untuk mempercepat sebuah produktivitas. Nah, kenapa kita itu menggandeng eFishery itu, filosofinya dulu dari Pak Menteri itu memang ingin memberikan ruang kepada inovasi-inovasi dimanfaatkan untuk membantu produktivitas tambak-tambak kita,” kata Doni.
Dari sisi manfaat, Nando mengatakan digitalisasi memiliki peran besar dalam mendorong transformasi sektor budidaya perikanan di Indonesia. Ia mencatat, ada lebih dari 1,3 juta rumah tangga pembudidaya yang perlu dibantu agar bisa beradaptasi dengan teknologi baru untuk menambah penghasilan.
“Kita mau men-shortcut semua tahapan-tahapan itu sehingga nanti muaranya adalah bagaimana produk-produk yang dihasilkan lebih efektif efisien, kemudian memasarkannya juga lebih efektif efisien, dan akhirnya para pelaku pembudidaya itu mempunyai nilai tambah yang lebih dari sebelumnya.”
Doni menambahkan teknologi eFishery juga berdampak pada hasil tangkapan. Dia mencontohkan, hasil budidaya di Balai Perikanan Karawang secara konvensional satu hektare tambak hanya menghasilkan sekitar 60 ton ikan.
Sementara dengan penggunaan automatic feeder dari eFishery mampu mendongkraknya hingga 80 ton.
Kementerian KKP sempat berniat memperpanjang kerja sama dengan eFishery untuk tahun 2025. Tahang selaku Kepala Balai Karawang, berkirim surat pada Januari 2025 untuk mengajukan perpanjangan sewa namun tidak direspon.
Berdasarkan hasil evaluasi internal sejak 2023 hingga 2024 kerja sama dengan eFishery berjalan baik. Setelah melalui rangkaian evaluasi, uji coba, dan perbandingan dengan penyedia teknologi serupa, balai memutuskan ingin memperpanjang sewa karena kinerjanya serta layanan purna sewa yang konsisten.
“Ternyata terjadi sesuatu (kasus fraud) sehingga tidak direspon. Akhirnya alatnya diambil kembali,” kata Tahang. Pengambilan alat ini menandakan kontrak Kementerian KKP dan eFishery berakhir di 2025.
Dampak Minim ke Pembudidaya
Di sisi lain, manfaat auto feeder eFishery belum sepenuhnya dirasakan oleh pembudidaya skala kecil seperti Mario. Menurut dia, alat itu memang membantu dari sisi konsistensi pemberian pakan, tetapi belum berdampak nyata terhadap hasil panen.
Berdasarkan pengalaman Mario, keuntungan utama justru ada pada ketepatan jadwal dan jumlah pakan. Dengan alat otomatis, pakan diberikan sesuai waktu yang sudah diprogram, misalnya pukul 07.00 pagi, 14.00 siang, dan 16.00 sore tanpa bergantung pada kesiapan tenaga kerja.
Konsistensi itu membuat pemberian pakan menjadi lebih rata. Tetapi belum diikuti perbaikan pada feed conversion ratio (FCR) sebagai indikator utama efisiensi budidaya ikan.
“Artinya dari jumlah pakan yang diberikan menjadi hasil panen itu harusnya ada perbaikan. Tapi kalau di saya sih jujur belum ada, belum menemukan hasil itu lah gitu,” ujarnya.
Bukan hanya menggunakan auto-feeder, Mario juga ikut dalam program penjualan ikan eFishery di tahun 2023. Melalui skema ini, hasil panennya diserap langsung oleh perusahaan dengan sistem bisnis ke bisnis (B2B).
Di awal, program tersebut terlihat menjanjikan. Mario menjadi salah satu pembudidaya yang ikut sejak eFishery mulai merintis sistem penyerapan hasil budidaya dari petani ikan.
Awalnya, penyerapan hasil oleh eFishery berjalan baik dan meningkat bertahap. Hingga pertengahan 2024, hampir 95 persen produksi tambak Mario diserap oleh eFishery. Saat itu, CEO eFishery bahkan datang langsung ke tambaknya bersama rombongan investor.
“Efishery minta tolong kepada saya untuk ini jadikan sebagai showcase untuk investor gitu sebetulnya,” ucapnya.
Namun situasi berbalik hanya dalam hitungan minggu pasca kedatangan CEO eFishery ke tambaknya. Sekitar Mei 2024, eFishery mengubah kebijakan pembelian ikan secara tiba-tiba yang menurut Mario justru sangat merugikan pembudidaya.
Efishery di saat itu mengubah kebijakan sistem penarikan ikan dengan menurunkan harga beli, dari Rp 29 ribu menjadi hanya Rp 23 ribu per kilogram.
Mario menduga setelah perusahaan meninjau ulang kelayakan bisnis dan margin keuntungan, eFishery kemudian melakukan survei harga di berbagai daerah dan menetapkan harga pembelian berdasarkan harga terendah yang ditemukan di lapangan.
“Kita tahu mungkin setiap daerah dan setiap tempat itu kan memang mungkin punya standar yang berbeda-beda, punya biaya produksi yang berbeda-beda juga. Jadi ya menentukan harga yang berbeda-beda gitu,” ujarnya.
Meski demikian, menurut Mario, angka tidak sesuai dengan harga pokok produksi (HPP) di wilayahnya. Harga Rp 23 ribu itu diambil dari survei eFishery pada harga ikan di Waduk Cirata atau Waduk Jatiluhur.
Padahal menurut Mario, harga itu adalah harga ikan yang masih berada di tengah waduk, belum memasukkan biaya angkut dari tengah keramba ke darat dan pengiriman ke Jabodetabek, sehingga harga riil ikan bisa mencapai Rp 28 ribu–Rp 29 ribu per kilo.
Tak hanya Mario, Adi seorang pembudidaya di Taman Edukasi Perikanan Mina Park, Ciseeng, Bogor pernah memiliki pengalaman beli putus satu alat feeder dari eFishery.
Menurut dia, alat tersebut tidak bermanfaat bagi petani ikan yang memiliki satu kolam. Cara tradisional pemberian pakan lebih dirasa lebih cocok untuk Adi.
Tujuan Adi membeli alat tersebut sebenarnya sebagai edukasi terkait teknologi yang berkembang di sektor akuakultur. Tetapi secara pribadi, ia tidak terkesan dengan alat tersebut.
“Sebenarnya kan dampak ke petani menurut saya kecil aja kan dia bukan satu-satunya pemain. Kecuali dia pemain utama gitu. Kan nggak ngaruh juga,” kata Adi.
Kegagalan eFishery Jadi Pelajaran Berharga
Dosen dan Kepala Inkubator Bisnis SBMITB di Bandung, Dina Dellyana, menilai kasus yang menimpa eFishery menjadi momentum penting bagi ekosistem startup lokal belajar dan berbenah.
Dia berkata kasus fraud tersebut sempat mengguncang komunitas alumni ITB—terlebih karena CEO eFishery, Gibran, juga merupakan alumni yang selama ini dibanggakan lewat pencapaian eFishery sebagai salah satu startup agritech pertama di Indonesia berstatus unicorn.
“Bagusnya adalah ini jadi pembelajaran sebenarnya baik buat startup komunitas, startup lokal dan juga buat investor itu sendiri. Dengan adanya ini kan semua jadi rethinking bahwa ‘oh ternyata sekarang investor nggak bisa lagi pakai cara terdahulu dalam melihat startup’,” kata Dina.
Dina menyebut fase ini sebagai masa koreksi, bukan kemunduran. Dari guncangan ini diharapkan muncul pembelajaran tentang bagaimana membangun fondasi yang lebih sehat bagi pertumbuhan startup di masa depan.
“Jadi harus lebih hati-hati melihat ada aspek governance yang harus lebih kuat, terus juga mungkin auditing jadi harus lebih ketat dan disiplin juga,” katanya.
Doni mengatakan pemerintah melihat potensi startup di bidang perikanan masih sangat besar. Dia menyinggung proyek Kementerian KKP untuk revitalisasi tambak pantura seluas 75 ribu hektare dengan alokasi anggaran Rp 26,3 triliun.
Dia menyebut proyek ini menjadi peluang besar bagi kolaborasi antara pemerintah dan pelaku startup di sektor perikanan. Dengan luas tambak mencapai 75 ribu hektare, revitalisasi Pantura membutuhkan dukungan teknologi dari hulu ke hilir mulai dari konstruksi, sistem monitoring, hingga manajemen budidaya.
“Jadi kalau kita ngomong startup yang berupa inovasi ya. Startup itu kan kuncinya inovasi. Kalau dia punya inovasi, ya sangat banyak (potensi). Itu kita baru ngomong satu revitalisasi tambak Pantura.”
Tak hanya revitalisasi tambak pantura, Doni juga menyinggung potensi besar di proyek WaiNgapu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nilai mencapai Rp 7,2 triliun. Menurutnya, angka tersebut menggambarkan besarnya aliran investasi yang akan digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan kawasan budidaya baru.
Belum lagi jika bicara nilai ekspor komoditas seperti udang yang saat ini mencapai sekitar 2 miliar dolar AS per tahun. Oleh karena itu, Doni melihat sektor perikanan masih sangat menjanjikan bagi inovasi teknologi. Beberapa startup lain seperti JalaTech dan Aruna menunjukkan inovasi akuakultur terus hidup.
Yang terpenting, kata dia, para pegiat startup bisa melihat permasalahan di lapangan dan memberikan solusi yang tepat. Seperti yang dilakukan eFishery, yang secara ide dinilai sangat bagus dan dapat diadopsi oleh startup lain.
“Makanya teman-teman yang kategori startup itu ya harus melihat dulu masalah, baru menjadi problem solver dengan teknologinya. Karena setahu saya itulah dasarnya startup gitu loh,” tutup Doni.