Kumparan Logo

Argentina yang Berpusat pada Messi

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lionel Messi (ilustrasi). (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Lionel Messi (ilustrasi). (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)

Bagi beberapa kesebelasan, bertumpu pada satu pemain saja adalah sebuah petaka. Bayangkan saja andai penggawa yang jadi andalan tampil melempem atau bahkan absen, bisa ditebak kelangsungan tim tersebut akan berakhir seperti apa.

Selain itu individualisme juga bertentangan dengan sepak bola yang secara hakikatnya berisi kolektivitas antarpemain. Tottenham Hotspur, misalnya, yang sempat dijuluki --atau lebih tepatnya diolok-olok-- 'Harry Kane FC' lantaran terlalu bergantung pada Harry Kane untuk memproduksi gol.

Namun, hal itu tak berguna di mata Jorge Sampaoli. Nakhoda Tim Nasional (Timnas) Argentina itu tak segan mengatakan jika kesebelasannya saat ini adalah 'tim Messi'.

"Ini adalah 'tim Messi'. Setiap kali tampil, dia selalu bermain lebih baik," kata Sampaoli seperti dilansir beINSport.

Tapi tunggu dulu, bukan berarti Sampaoli akan mengandalkan sosok Lionel Messi seorang. Yang dimaksud mantan pelatih Sevilla itu adalah dengan mengumpulkan para pemain yang bisa bersinergi dengan Messi.

"Kami harus melihat, dalam format yang kami gunakan, pemain yang dapat terhubung baik dengan Messi."

Hal yang paling kentara adalah saat Sampaoli tak memanggil Paulo Dybala untuk melakoni laga persahabatan melawan Italia, Sabtu (24/3/2018) dini hari WIB, di Etihad Stadium. Secara garis besar, tipikal permainan Dybala serupa dengan La Pulga, yakni sebagai playmaker yang juga ditugaskan untuk mencetak gol. Padahal, peran semacam ini tak bisa diemban lebih dari satu pemain dan bakal menghambat permainan jika keduanya tampil bersamaan.

Laga kontra Venezuela dan Peru di babak kualifikasi Piala Dunia Zona CONMEBOL lalu bisa dijadikan acuan. Messi dan Dybala diturunkan bersamaan dalam skema 4-2-3-1. Hasilnya? Argentina hanya mampu meraih hasil imbang dan hanya mencetak sebiji gol. Sebaliknya, saat Dybala ditepikan, Messi justru sukses mencetak trigol di laga penentuan melawan Ekuador.

"Karena Messi adalah pusat perencanaan yang kami buat. Kami memberinya porsi penting saat pengambilan keputusan saat latihan, persiapan dan mengenai koneksi yang Messi dapatkan dari setiap pemain, dalam hal persamaan dan perbedaan dengannya," ucap Sampaoli

Upaya semacam ini memang terdengar asing. Namun, bagi kesebelasan yang dihuni Messi dengan sejuta maginya akan menjadi hal yang amat logis.

"Daya magnet Leo di sini dan di Barcelona memungkinkan kami untuk memimpin dari tempat yang berbeda," lanjut pelatih berusia 58 tahun tersebut.

Sementara, untuk memilah karakteristik tandem ideal bagi Messi, cara paling mudah adalah dengan menyalin komposisi skuat Barcelona saat ini. Untuk menggantikan figur, Luis Suarez contohnya, Sampaoli memilih Gonzalo Higuain ketimbang Mauro Icardi --terlepas dari Sergio Aguero yang mesti ditepikan karena cedera. Alasannya, ya, karena penyerang Juventus itu lebih mahir dalam menciptakan peluang selain kewajibannya sebagai algojo.

Higuain, pilihan Sampaoli. (Foto: Reuters/Stringer)
zoom-in-whitePerbesar
Higuain, pilihan Sampaoli. (Foto: Reuters/Stringer)

Menurut Squawka, Higuain mencatatkan rata-rata 1,08 umpan kunci per laga, lebih baik dari Icardi yang tak genap menyentuh angka satu. Torehan 6 assist yang diukir Higuain juga kian meyakinkan Sampaoli untuk menyandingkannya dengan Messi di garda terdepan. Sementara untuk pos winger, Angel Di Maria jadi pilihan nomor wahid karena agresivitasnya dari sisi sayap.

Sedangkan satu slot lainnya kemungkinan bakal dihuni Maximiliano Meza yang tampil impresif bersama Indipendiente. Spesialisasinya dalam melancarkan dribel --tertuang lewat rata-rata 2,6 per laga-- dibutuhkan Sampaoli untuk menambah varian serangan. Boleh dibilang, pemain berusia 25 tahun itu akan membantu Messi seperti yang dilakukan Ousmane Dembele bersama Barcelona.

Untuk meng-kopi peran Paulinho yang dinamis, Sampaoli menjatuhkannya kepada Leandro Paredes. Kendati beroperasi gelandang bertahan, ek spemain AS Roma itu terhitung produktif karena telah menghasilkan 4 gol dan 5 assist untuk Zenit St. Petersburg.

X post embed

Apa yang dilakukan Sampaoli memang terdengar pragmatis. Tapi mungkin metode semacam ini bakal menjawab misteri kegagalan Messi bersama Argentina. Jika sebelum-sebelumnya Argentina mengandalkan Messi seorang, kini lebih ke arah bagaimana membentuk skuat yang maksimal, dengan Messi sebagai komandonya.

Trending Now