Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Belum Tega Nonton Arema di Stadion

11 Agustus 2025 18:12 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Belum Tega Nonton Arema di Stadion
Wakil Pembina Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK), Juwariyah, mengaku masih belum sanggup masuk ke Stadion Kanjuruhan,
kumparanBOLA
Sejumlah aktivis dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan menggelar aksi doa bersama dan menyalakan lilin di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta, pada Jumat malam (27/6/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah aktivis dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan menggelar aksi doa bersama dan menyalakan lilin di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta, pada Jumat malam (27/6/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Wakil Pembina Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK), Juwariyah, mengaku masih belum sanggup masuk ke Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pasca-tragedi 1 Oktober 2022. Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Kanjuruhan itu menewaskan 135 orang usai laga Arema FC dan Persebaya Surabaya, dan menjadi salah satu bencana stadion terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Setelah insiden tersebut, Stadion Kanjuruhan direnovasi dan kembali digunakan Arema FC saat menjamu PSBS Biak di ajang Super League Indonesia pada Senin (11/8) sore WIB. Namun, kehadiran kembali pertandingan di stadion itu masih meninggalkan luka mendalam bagi sebagian keluarga korban.
Pelaksanaan Super League Indonesia di Stadion Kanjuruhan masih menjadi luka mendalam bagi keluarga korban. Juwariyah menjelaskan sebagian keluarga korban memilih untuk tidak hadir di stadion, meski ada juga yang kembali menonton pertandingan di sana.
β€œKalau saya pribadi masih belum tega. Kalau melarang ke sana itu bukan hak saya. Itu bukan hak keluarga korban,” ujar Juwariyah, kepada kumparan, Senin (11/8).
Juwariyah mengaku hingga kini belum pernah masuk ke lapangan Stadion Kanjuruhan pasca renovasi. Ia hanya datang ke Gate 13 untuk mengikuti doa bersama setiap Sabtu Kliwon.
β€œSaya kalau masuk ke lapangannya belum sama sekali. Mungkin kalau di Gate 13, saya mesti kalau doakan di sana setiap Sabtu Kliwon kita ada doa bersama,” ungkapnya.
β€œSaya tetap tidak bisa (masuk). Soalnya anak saya meregang nyawa di sana. Masa saya tega ke sana? Mungkin nanti kalau ke sana, tabur bunga atau ada acara lain seperti pengajian, itu mungkin. Tapi sampai sekarang saya tidak bisa,” ucapnya.
Arema FC bersama seluruh tim melakukan doa bersama sebagai bentuk penghormatan dan pengingat atas 1000 hari tragedi kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan. Foto: Instagram/ @aremafcofficial
Juwariyah juga menyampaikan harapannya agar setiap peringatan 1 Oktober diperingati sebagai hari duka sepak bola. Ia menyoroti kebijakan instansi pemerintah yang mengenakan atribut Arema pada hari tertentu, namun tidak melakukan hal serupa untuk mengenang korban Tragedi Kanjuruhan.
β€œHari ini semua pemkot, semua aparat, semua pegawai negeri disuruh pakai baju Arema. Tapi kenapa 1 Oktober? Tolonglah pakai baju hitam atau mengibarkan bendera 135 itu yang saya harapkan. Kayak pegawai-pegawai negeri, tolonglah pakai baju hitam, ucapan duka. Berarti peduli sama korban. Itu harapan saya,” tutup Juwariyah.
Reporter: Kevin Siadari
Trending Now