Cuti Hamil, Apakah Amanda Ilestedt & Pesepak Bola Wanita Lain Tetap Digaji?

14 Maret 2024 18:35 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cuti Hamil, Apakah Amanda Ilestedt & Pesepak Bola Wanita Lain Tetap Digaji?
Amanda Ilestedt harus cuti panjang karena hamil anak pertamanya. Tapi, apakah ia dan pesepak bola wanita lainnya mendapat hak penuh selama maternity leave? #bolanita #bola #bolasports #text
kumparanBOLANITA
Amanda Ilestedt, bek Arsenal dan Timnas Wanita Swedia. Foto: Arsenal
zoom-in-whitePerbesar
Amanda Ilestedt, bek Arsenal dan Timnas Wanita Swedia. Foto: Arsenal
Amanda Ilestedt baru saja mengumumkan kehamilan anak pertamanya pada Rabu (13/3) kemarin. Setelah ini, bek asal Swedia itu dipastikan bakal cuti panjang selama proses kehamilannya. Namun, pertanyaannya, apakah sang pemain bakal tetap mendapat gaji dari klubnya?
Nah, dalam aturan yang dirilis oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) pada 2022 lalu, pemain yang mentas di dua divisi tertinggi sepak bola wanita Inggris akan tetap mendapat upah selama cuti hamil. Kompetisi yang dimaksud yakni Liga Inggris Wanita dan Women’s Championship (Divisi Dua Liga Inggris Wanita).
Berdasarkan kebijakan tersebut, pemain yang cuti karena hamil akan mendapat gaji 100 persen dari klubnya selama 14 pekan pertama. Selain remunerasi, pihak klub juga diwajibkan untuk tetap memberikan beragam tunjangan bagi sang pemain.
“Pemain yang mengambil cuti hamil akan dibayar 100 persen dari gaji mingguannya, serta tunjangan lainnya selama 14 minggu pertama,” bunyi laporan yang dirilis dari situs FA Women’s League and Competitions.
Perjanjian ini merupakan hasil dari konsultasi FA dan PFA dengan klub-klub di WSL dan Championship. Kebijakan itu pun sudah diterapkan sejak musim 2022/23 lalu.
“Saya senang bahwa kami dapat mewujudkan perjanjian ini dan ini merupakan langkah yang signifikan untuk sepak bola wanita,” tutur Kelly Simmons, Direktur Sepak Bola Wanita FA.
“Kesejahteraan pemain selalu menjadi prioritas nomor satu kami dan kebijakan baru ini memastikan para pemain mendapatkan dukungan yang lebih baik, baik itu karena cuti hamil atau akibat cedera jangka panjang,” lanjut Simmons.
Dalam perjanjian tersebut, bukan hanya pemain yang mengambil cuti hamil yang harus dibayarkan upahnya. Tapi, pemain yang cedera, sakit, dan mengalami cedera jangka panjang juga akan mendapat upah penuh dari klub.
Tapi, durasi gaji penuh yang harus dibayarkan beragam. Pemain yang cedera panjang, misalnya, ia akan menerima gaji pokok selama 18 bulan pertama, kemudian setengah dari gaji mereka selama durasi cedera setelahnya. Pada aturan sebelumnya, pemain hanya menerima gaji penuh selama enam bulan saja jika cedera.
Peraturan seperti ini sebenarnya tak hanya diterapkan di Inggris. Aturan cuti hamil ini juga diterapkan oleh Federasi Sepak Bola Malta (MFA).
Selain harus membayar upah bagi pemain yang cuti hamil, klub juga harus memenuhi beberapa hal, antara lain yakni menentukan tingkat akses terhadap layanan olahraga berdasarkan nasihat medis, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan alternatif, dan hak untuk kembali beraktivitas bagi pemain.
Tak cukup sampai di situ, MFA juga tidak memperbolehkan klub untuk mendaftarkan pemain di luar masa pendaftaran reguler untuk menggantikan pemain yang sedang cuti hamil.
Namun, lain halnya dengan yang terjadi di Jerman. Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), mengatakan bahwa Frauen Bundesliga (Liga Jerman Wanita) tak memerlukan aturan khusus soal ini. Sebab, aturan cuti hamil sudah ada undang-undangnya di tiap negara bagian.
"Saat ini tidak ada kebutuhan untuk mengatur masalah ini (cuti hamil) berdasarkan undang-undang asosiasi, karena undang-undang kesehatan dan keselamatan kerja (ada di) negara bagian,” tutur DFB kepada DW pada Januari 2022 lalu.
Logo FIFA di markas besarnya di Zurich, Swiss. Foto: Reuters/Arnd Wiegmann
Kebijakan maternity leave yang diterapkan oleh Inggris dan Malta bermuara dari aturan FIFA yang dirilis dalam Regulations on the Status and Transfer of Players pada Maret 2022 lalu. Dalam rilisnya, FIFA menerapkan beberapa kebijakan, yakni:
Aturan soal cuti hamil ini memang sangat diperlukan karena menguntungkan bagi pesepak bola wanita. Sebab, ada beberapa kasus di mana pemain yang hamil tak mendapat haknya, bahkan berujung dicampakan oleh klub tempatnya bermain.
Sara Bjork. Foto: Clive Brunskill / POOL / AFP
Salah satu kasus yang paling ramai mencuat di publik adalah cerita Sara Bjork Gunnarsdóttir di Lyon. Saat itu, ia dicampakkan oleh timnya karena hamil. Gunnarsdottir memang tak langsung disisihkan, namun cara Lyon perlahan menyisihkan sang pemain cukup kejam.
Mulanya, Gunnarsdottir tak mendapat gaji sebulan setelah ia mendapatkan cuti hamil dari Lyon. Lalu, ia diancam saat menanyakan gajinya kepada pihak klub.
Situasinya memuncak setelah Gunnarsdottir melahirkan dan kembali ke klub. Ia mengaku dapat perlakuan berbeda. Padahal, pemain asal Islandia itu mengaku menjaga kebugaran tubuhnya pasca melahirkan.
Parahnya lagi, Gunnarsdóttir tak diizinkan membawa anaknya saat laga tandang. Sebab, bayi yang dibawa Gunnarsdóttir dianggap bisa mengganggu pemain lainnya dalam perjalanan.
Gunnarsdottir pun akhirnya membawa kasus ini ke pengadilan dengan menggandeng FIFPro. Untungnya, mereka menang di pengadilan. Lalu, Lyon diperintahkan untuk membayar gaji yang belum dibayarkan kepada Gunnarsdóttir. Jumlahnya harus persis dengan yang ada di kontrak, tak boleh kurang sepeser pun.
Lyon sempat banding dan meminta FIFA untuk menjelaskan keputusannya. Tapi, FIFA menyebut pihak klub telah lalai saat Sara Gunnarsdóttir menjalani masa kehamilan. Tak ada yang memeriksa bahkan melihat kondisi fisik serta mentalnya.
Trending Now