Mellenia Dinda Saputri, Wasit Wanita di MilkLife Soccer Challenge Malang
18 November 2025 14:23 WIB
·
waktu baca 3 menit
Mellenia Dinda Saputri, Wasit Wanita di MilkLife Soccer Challenge Malang
Wasit wanita asal Malang ini berbagi cerita soal perjalanannya menjadi wasit hingga tantangan yang ia hadapi ketika memimpin laga usia dini.kumparanBOLANITA

Di gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Malang Seri 1 2025/26 yang berlangsung di Stadion Gajayana pada 11-16 November, ada satu sosok yang menarik perhatian karena perannya di lapangan. Ia adalah Mellenia Dinda Saputri.
Wasit kelahiran Malang, 31 Mei 2000, itu dipercaya memimpin sejumlah laga di turnamen besutan MilkLife dan Djarum Foundation tersebut. Baginya, bisa melihat langsung potensi pesepak bola wanita muda di kota sendiri adalah sebuah kebanggaan.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan juga bangga. Bangganya apa? Bangga bisa melihat potensi pemain-pemain muda yang sangat bagus ini di Kota Malang,” kata Mellenia kepada kumparanBOLANITA, Minggu (16/11).
Sebelum menekuni dunia perwasitan, Mellenia—yang kini tengah menyelesaikan studi Magister Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang—lebih dahulu aktif sebagai pemain sepak bola. Pengalaman itu membuatnya memahami dinamika di lapangan, hingga akhirnya pada 2020, ia mantap terjun sebagai wasit.
Selama menjadi pengadil lapangan, perempuan yang akrab disapa Leni itu telah memimpin sejumlah pertandingan, antara lain Porprov, Liga 4 2025, dan HYDROPLUS Piala Pertiwi All-Stars di Kudus. Ia kini mengantongi lisensi C1 Nasional yang didapatkannya pada 2024 lalu.
Mellenia juga membagikan pengalamannya ketika harus berjuang keras mendapatkan lisensi tersebut. “Susah banget, harus latihan terus-menerus. Setiap hari itu saya benar-benar latihan, pagi, sore. Terus juga ada tes teorinya juga, kan,” ungkap Mellenia.
Tantangan Pimpin Laga Usia Dini
Mellenia menilai tantangan terbesar saat memimpin pertandingan usia dini adalah komunikasi. Ia harus bisa menjelaskan pelanggaran dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak.
“Misalnya saat lemparan ke dalam. Lemparan ke dalam kan ada dua (yang diperhatikan), tangan sama kaki. Nah, kalau semisal salahnya di tangan, dikasih tahu, ‘Tangannya salah, Dek, tapi kakinya udah benar’. Kalau semisal tangannya udah benar, ternyata kakinya salah, ‘Tangannnya udah benar, lemparannya udah bagus, tinggal kakinya jangan loncat’,” kata Mellenia.
Bagian paling menyenangkan buat Mellenia saat menjadi wasit justru datang dari energi para pemain muda.
“Menurut saya kalau paling serunya itu spontanitas sama energi mereka itu sangat sangat luar biasa. Jadi kayak mereka itu emang bermain dari hati. Dan mereka mainnya itu benar-benar tulus. Jadi kalau semisal mereka kalah, itu kayak sedih banget,” ucap Mellenia.
Ia juga bercerita bahwa ada satu momen paling membekas selama menjadi wasit. Momen itu terjadi setelah Mellenia memimpin sebuah pertandingan.
“Jadi saya selesai mimpin laga, terus tiba-tiba ada anak kecil. Ya, pemain itu nyamperin. Dia bilang, ‘Kak, saya kalau besar juga pengin jadi wasit.’ Di situ saya kayak merasa keberadaan saya ini berdampak positif buat mereka,” tutup Mellenia.
