Profil Maya Susmita, Guru Olahraga yang Jadi Penggerak Sepak Bola Wanita Solo
13 November 2025 16:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
Profil Maya Susmita, Guru Olahraga yang Jadi Penggerak Sepak Bola Wanita Solo
Dari MilkLife Soccer Challenge ke Timnas Wanita Indonesia, begini perjalanan karier Maya Susmita, penggerak sepak bola wanita di Tanah Surakarta. kumparanBOLANITA

Nama Maya Susmita mungkin belum begitu dikenal publik luas, tapi di dunia sepak bola wanita Solo, sosoknya jadi salah satu yang paling aktif membina pemain muda.
Perempuan asal Karawang itu kini dipercaya sebagai Head Coach MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Solo Seri 1 2025/26, ajang sepak bola wanita usia dini yang digagas MilkLife dan Djarum Foundation.
Di luar lapangan, Maya juga merupakan guru olahraga di SDN 02 Malangjiwan, Colomadu. Sekolah tempatnya mengajar pun turut berpartisipasi dalam turnamen MLSC.
Sebelum dikenal sebagai pelatih, Maya lebih dulu meniti karier sebagai pemain. Ia memulai langkahnya di Sekolah Sepak Bola (SSB) Putri Surakarta.
“Awal mula saya dari Putri Surakarta, kemudian Alhamdulillah di Liga 1 (2019) saya main di PSS Sleman,” kata Maya kepada kumparanBOLANITA di Lapangan Kota Barat, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (1/11).
Perjalanan Maya berlanjut ke jalur kepelatihan. Ia menempuh lisensi D Nasional, kemudian melanjutkannya ke lisensi C berkat konsistensinya yang terus aktif melatih.
“Awalnya tuh satu provinsi dipilih ikut serta, kemudian alhamdulillah lisensi D selesai. Karena masih aktif melatih, saya mendapat beasiswa lagi jadi C,” ungkap Maya.
Lisensi itu ia rampungkan pada 2020, dan setahun setelahnya, Maya mulai serius menekuni dunia kepelatihan. Saat ini, ia aktif melatih di Surakarta Football Academy (SFA).
Karier Kepelatihan Maya Susmita
Awal 2025, Maya menukangi tim All-Stars Solo di ajang MilkLife Soccer Challenge All Stars yang digelar di Supersoccer Arena, Kudus. Ia sukses membawa timnya ke final sebelum akhirnya kalah tipis 0-1 dari All-Stars Kudus.
Beberapa bulan kemudian, Maya ditunjuk menjadi asisten pelatih MilkLife Shakers U-12 di turnamen JSSL Singapore 7’s 2025 pada Juli, mendampingi Timo Scheunemann sebagai pelatih kepala. Di sana, timnya kembali tampil solid dan finis sebagai runner-up.
Langkah Maya tak berhenti di situ. Ia lalu naik ke jenjang lebih tinggi sebagai asisten pelatih Timnas Wanita Indonesia U-16 di Piala AFF 2025 yang digelar di Solo pada Agustus. Bersama tim, wanita kelahiran 1994 itu mengantar Garuda Muda Pertiwi melangkah hingga semifinal.
Tak lama berselang, Maya juga dipercaya bergabung dengan Timnas Wanita Indonesia U-17 di Kualifikasi Piala Asia di Myanmar. Meski tim belum berhasil lolos ke putaran final, pengalaman itu jadi pembelajaran berharga baginya.
Pengalaman panjangnya menangani kelompok usia muda membuat Maya paham betul dinamika anak-anak di lapangan. Ia tahu kapan harus tegas, dan kapan harus jadi sosok yang menyenangkan.
“Coach Timo selalu menekankan tentang perkembangan anak-anak gitu, pembinaan. Nah, itu juga yang saya jadikan contoh kepada teman-teman yang melatih. Kalau menekankan kepada anak-anak tuh tidak boleh keras. Memang boleh ada saatnya keras, tapi ada saatnya ada permainan,” ucap Maya.
Tantangan Melatih Sepak Bola Wanita
Bagi Maya, melatih pemain usia muda juga bukan hanya soal teknik dan strategi. Ia menyadari, mental anak-anak di level akar rumput sering kali jadi aspek penting yang kerap terlewatkan.
“Mungkin dari segi mental anak-anak. Karena sebelum mereka terjun ke dunia profesional, mereka tidak terlalu terbebani. Karena belum ada event atau ajang yang mereka ikuti,” ucap Maya.
“Tapi ketika mereka melihat kakak-kakaknya atau mungkin temannya di Timnas, jadi ada keinginan atau motivasi mereka untuk jadi lebih giat lagi berlatih dan ingin berada di posisi mereka,” sambungnya.
Maya juga menyoroti tantangan lain dalam melatih pesepak bola wanita muda, yakni menjaga suasana hati para pemain agar tetap stabil.
“Karena cewek itu mood swing banget ya. Apalagi di sekolah dia udah sekolah, capek, terus kita ngasih materi di sore hari, otomatis energinya berkurang,” ucap Maya.
“Jadi bagaimana kita jadi mood booster juga, dari model latihannya, pemanasannya kita bikin senang dulu biar dia lebih fokus lagi menerima arahan atau materi dari saya,” tutupnya.
