Apa yang Dimaksud Restoran Fine Casual Dining? Ini Penjelasan Pengamat Kuliner

29 Oktober 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Apa yang Dimaksud Restoran Fine Casual Dining? Ini Penjelasan Pengamat Kuliner
Bagi pencinta kuliner, pasti sudah tidak asing dengan istilah restoran “fine dining” tapi apa bedanya dengan "fine casual dining"?.
kumparanFOOD
ESA restaurant salah satu restoran berkonsep fine casual dining di Jakarta. Foto: Dok. ESA
zoom-in-whitePerbesar
ESA restaurant salah satu restoran berkonsep fine casual dining di Jakarta. Foto: Dok. ESA
Bagi pencinta kuliner, pasti sudah tidak asing dengan istilah restoran“fine dining”. Gaya makan ini identik dengan suasana formal dan mewah, menggunakan bahan-bahan premium yang diolah oleh chef ternama. Namun, di tengah popularitasnya, kini muncul istilah baru yang disebut fine casual dining, apa itu?
Menurut Kevindra Soemantri, pengamat sekaligus penulis kuliner, fine casual dining merupakan gaya kuliner baru yang lebih modern dan santai, tapi tetap mempertahankan nuansa elegan.
Gaya ini bahkan disebut sebagai salah satu tren kuliner yang akan berkembang pada 2026 mendatang, berdasarkan laporan tren kuliner Marriott International bertajuk "The Future of Food 2026 Asia Pacific".
Lebih lanjut, Kevindra menjelaskan bahwa fine casual dining berbeda dari fine dining yang terkesan lebih formal, misalnya penggunaan taplak meja berwarna seragam dan aturan berpakaian yang ketat. Menurutnya, fine casual dining lebih menawarkan suasana dan dress code yang lebih santai, tanpa meninggalkan kesan berkelas.
Kevindra Soemantri, pengamat dan penulis kuliner. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
Fine dining klasik yang pakai taplak meja putih, table manner, itu sudah jadul dan hilang. Kalau dulu orang datang ke fine dining, itu harus pake jas atau gaun dan rapih dress code-nya. Tapi, sekarang kamu bisa pakai baju polo, celana jeans. Artinya, genre fine casual ini tidak intimidating, servisnya tidak kaku, jadi lebih casual,” ujar Kevindra, saat ditemui di sela-sela acara peluncuran Marriott Future Food 2026 di Jakarta, Selasa (14/10).
Menurut Kevindra, dalam dua dekade terakhir, tren kuliner di Indonesia memang terus beradaptasi mengikuti perkembangan gaya hidup dan selera generasi muda. Pada awal tahun 2000-an, fine dining dan casual dining masih memiliki jarak yang cukup besar.
Tak lama setelah itu, generasi X disebut membawa genre baru, yaitu lifestyle dining yang menawarkan konsep makan yang berada di tengah-tengah antara casual dan fine dining sehingga terasa lebih relevan bagi anak muda saat itu.
“Nah, 20 tahun berikutnya alias sekarang, ada lagi tren baru yang posisinya di antara fine dining dan lifestyle dining, yakni fine casual dining tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, kemunculan gaya kuliner ini tidak lepas dari perubahan cara pandang terhadap kemewahan, terutama di kalangan generasi muda. Kini, kemewahan lebih sering dimaknai lewat kenyamanan dan interaksi yang hangat, seperti waktu berkualitas bersama orang lain dan hubungan antar manusia yang lebih dekat.
Lebih jauh, Kevindra menilai bahwa tren di kalangan muda seperti slow travel dan slow living juga mencerminkan cara pandang baru terhadap kemewahan. Gaya hidup ini dinilai lebih santai, tapi tetap mencari pengalaman yang berkesan tanpa kehilangan sentuhan elegan.
Ilustrasi restoran. Foto: Shutterstock
Selain perbedaan pandangan soal kemewahan, Kevindra menambahkan bahwa tren ini juga berkaitan dengan cara generasi muda mengelola uang mereka.
“Jadi memang ada perbedaan generasi sama daya beli, gak harus daya belinya turun. Tapi, generasi yang baru itu lebih sadar uang mereka dipakai untuk apa, dan ya dipakai untuk sesuatu yang bermakna. Nah, restoran fine casual itu menawarkan pengalaman tersebut, seperti storytelling makanannya ataupun cerita-cerita bahan yang digunakan,” ucap Kevindra.
Untuk menu, menurutnya perbedaan utama untuk fine casual dining tersebut terletak pada cara restoran menggabungkan rasa yang familiar seperti cita rasa lokal dengan sentuhan kemewahan.
“Mereka memang ada yang menjual tasting menu atau set course, tapi fokusnya lebih pada familiarity, rasa-rasa yang akrab di lidah. Misalnya, hidangan yang terinspirasi dari makanan lokal. Mereka bisa saja menggunakan lobster impor, tapi memadukannya dengan bahan atau saus lokal yang lebih dekat dengan selera masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, dari segi harga, ia menilai perbedaan antara fine dining dan fine casual dining tidak terlalu jauh. Harga makanan di restoran fine casual tetap tergolong tinggi, meski banyak menggunakan bahan lokal yang sering diasosiasikan dengan harga lebih murah
“Ada stigma menggunakan bahan-bahannya lokal bisa lebih murah. Namun, bukan berarti kalau dia lokal itu harus murah. Menurut saya, jangan dimurahin agar kita memberdayakan petani. Jadi biar mereka punya rasa bangga kayak bahan-bahan bagus bisa dibeli dengan mahal dan akhirnya membuat orang-orang banyak menjadi petani lagi,” pungkasnya.
Reporter Salsha Okta Fairuz
Trending Now