Berkeliling Menikmati Manisnya Cerita Kota Jakarta dalam Seporsi Dessert

12 September 2025 16:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Berkeliling Menikmati Manisnya Cerita Kota Jakarta dalam Seporsi Dessert
Kota Jakarta menjadi saksi sejarah besar Indonesia. Di kota ini juga banyak kisah kuliner menarik mulai dari yang pahit hingga manis.
kumparanFOOD
Suasana Knots di Kemang Timur, Jakarta Selatan-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI di beberapa kafe Jakarta (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Knots di Kemang Timur, Jakarta Selatan-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI di beberapa kafe Jakarta (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Kota Jakarta menjadi saksi sejarah besar Indonesia. Di kota ini juga banyak kisah kuliner menarik mulai dari yang pahit hingga manis. Seperti pengalaman kumparanFOOD kali ini yang menyelami manisnya kisah Jakarta dan dibawa berkeliling bersama Disparekraf DKI sebagai rangkaian acara Jakarta Dessert Week 2025, pada Kamis (11/9).
Perjalan kami dimulai dengan mengunjungi Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat. Di sana kami dibawa untuk menyelami kembali kisah perjuangan masyarakat Jakarta, khususnya Indonesia dalam meraih kemerdekaan.
Fam Trip JDW ini kemudian dilanjutkan dengan menaiki Royal Transjakarta yang dipandu oleh seorang tour guide bernama Ara dari Himpunan Pramuwisata Indonesia. Selama perjalanan menuju tempat dessert pertama, kami turut mendengarkan penjelasan Ara mengenai sejarah dari beberapa kawasan di Jakarta yang kami lalui.

Mencicipi aneka dessert modern bercita rasa kuliner tradisional khas Jakarta

Mini tartlets tankoko-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Sampai tak terasa, kami sudah tiba di toko dessert pertama yakni Chicory di Menteng. Bakery bergaya European ini menyuguhkan aneka patisserie artisan yang menggugah selera.
Menariknya, saat di perjalanan, Ara juga menjelaskan bagaimana konsep Chicory yang lokasinya cukup hidden gem di sebuah kawasan Menteng. Bakery ini sengaja mengambil lokasi yang mengumpat karena pengin membuat para tamunya nyaman dan jauh dari kebisingan.
"Kalau diperhatikan, Chicory ini kafenya enggak ada colokan, lho dan bahkan susah signal juga. Ini karena, tempat ini ingin pengunjungnya fokus ngobrol, diskusi bisnis dan lainnya. Bahkan suasana kafe juga dibuat enggak begitu terang biar lebih nyaman," terang Ara.
Aneka patisserie di Chicory, Menteng-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Ya, benar saja, begitu kumparan memasuki area kafe, memang suasana bak berada dalam sebuah ruang tamu di rumah begitu terasa. Homey dan cozy. Lampu ruangannya juga agak redup dan hanya bermodalkan cahaya alami dari sorot matahari yang masuk ke dalam ruangan.
Di setiap meja juga sudah tersaji sebuah mini tartlets. Oh rupanya ini menu khusus dari Chicory dalam rangka JDW 2025 kali ini. Kue mini ini dinamakan tankoko, terinspirasi dari jajanan semasa kecil sang juru patry Chicory yakni kue rangi.
Mini tart ini memiliki paduan rasa dari creamy dan gurihnya cream cheese serta aroma harum gula aren serta renyahnya kelapa parut. Untuk sajian one bite, cake seharga Rp 50 ribuan ini cukup mengenyangkan.
Ara, tour guide dari Himpunan Pramuwisata Indonesia memandu perjalanan fam trip JDW menggunakan Royal TransJakarta. Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Usai menikmati tankoko, tak lama kami langsung diajak ke lokasi kedua di Kemang, Jakarta Selatan. Di perjalanan, Ara kembali menceritakan bagaimana awal mula Menteng bisa menjadi salah satu kawasan elite di Jakarta.
"Lokasi di sini memang sangat tertutup dari zaman dulunya karena memang banyak orang-orang kaya yang tinggal di sini sampai dengan hari ini. Makanya kita bilang, old money-nya Jakarta pasti punya rumah di Menteng, walaupun sekarang kebanyakan yang menempati ART-nya karena kebanyakan dari mereka juga tinggal di luar negeri," jelasnya.
Setelah melewati Menteng, kami memasuki wilayah Kuningan, Jakarta Selatan untuk menuju Mampang dan Kemang. Di perjalanan Ara menjelaskan mengapa wilayah ini dinamakan "Kuningan".
"Karena dulunya di sini adalah wilayah dari orang-orang Kerajaan Kuningan, Jawa Barat. Wilayah ini dulunya banyaknya adalah peternakan sapi. Barulah mulai zaman gubernur Ali Sadikin dibangunlah gedung-gedung tinggi dan peternakan-peternakan sapinya dipindahkan ke Jakarta Timur di wilayah Pondok Rangon," ujar Ara.
Sementara itu, Ara juga menjelaskan bahwa batas timur dari wilayah orang-orang kaya Jakarta dulunya adalah kawasan Salemba. Dan Pasar Rumput, sesuai namanya, menjadi lokasi tempat pembelian rumput untuk pakan kuda-kuda orang kaya di Menteng.
"Ya, orang zaman dulu naiknya kuda, kalau sekarang kan kudanya besi, ya," ucap Ara sambil bercanda.
The bolen-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Tak terasa, sambil mendengarkan cerita sejarah Jakarta kami pun sampai di restoran kedua, yakni Knots di Kemang Timur. Restoran bergaya industrial ini lebih tampak terang dan ramai. Kebetulan kami juga sampai tepat saat jam makan siang.
Di Knots rombongan awak media ini disajikan chicken chop dengan butter rice sebagai menu makan siang. Sementara untuk menu dessert kolaborasi dengan JDW ada dua, yaitu the bolen dan the rangi.
Sesuai namanya, kedua dessert ini terinspirasi dari camilan tradisional Indonesia yakni kue bolen pisang dan rangi. Hanya saja, kedua dessert-nya disajikan lebih modern layaknya sajian penutup di restoran berkelas.
The rangi-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Misalnya saja, pada sajian the bolen untuk pastry luarnya yang renyah dibentuk bak sangkar burung. Sementara isiannya, tentu saja pisang yang sudah dilapisi butter, dark chocolate dan keju cheddar.
Namun agak berbeda terlihat pada sajian the rangi yang menyerupai cake. Kue ini menggunakan basis rengginang renyah, kemudian ditumpuk dengan kue rangi lembut, krim gual aren, kelapa mousse yang gurih dan chocolate. Sebagai topping-nya ada es krim rasa kelapa dan di bawahnya saus gula aren legit.
Natsuka di Urban Forest Cipete-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Perjalanan kami belum selesai, namun ini menjadi tujuan terakhir. Selanjutnya kami dibawa ke Natsuka, Urban Forest Cipete. Kafe satu ini adalah salah satu tempat menikmati matcha hits di Jakarta Selatan.
Di sini tentunya kami disuguhkan matcha latte dan dessert kolaborasi untuk JDW 2025. Sebagai sajian pertama, terhidang segelas Uji matcha latte (Rp 68 ribu). Segelas minuman cantik dengan paduan matcha asal Uji, Kyoto, Jepang dengan susu oat dan susu sapi.
Cita rasa minuman ini tidak terlalu grassy. Matchanya punya rasa umami yang lembut, nutty, creamy, dan smooth, pas sekali untuk penikmat matcha pemula yang tidak terlalu suka pahit dan sepat ala teh hijau.
Uji matcha latte-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI sambil (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Kemudian, datanglah sepiring dessert bernuansa putih bak awan yang ternyata bernama miso no shiro (Rp 95 ribu). Hidangan penutup ini memadukan es krim bercita rasa miso yang mirip salted caramel, kemudian diberi crunchy roasted white chocolate dan di dalamnya terdapat silky fan puding yang creamy.
Miso no shiro-Fam trip Jakarta Dessert Week 2025 bersama Disparekraf DKI (11/9/25). Foto: Azalia Amadea/Kumparan
Paduan manis, creamy, sedikit asin, dan renyah dari sajian dessert ini sangat seimbang. Benar-benar memanjakan lidah dan menjadi penutup manis dalam perjalanan mencicipi aneka dessert kami kemarin.
Rupanya, bagi mereka yang sudah bertransaksi dengan membeli aneka dessert kolaborasi dari beberapa kafe atau restoran dengan JDW kali ini, bisa mengumpulkan stamp melalui aplikasi Indonesia Dessert Week dan berkesempatan mendapatkan ragam hadiah.
Trending Now