Demi Berhemat di Swiss, Mahasiswa Ini Pilih Makanan Kucing untuk Asupan Protein

16 Oktober 2025 16:53 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Demi Berhemat di Swiss, Mahasiswa Ini Pilih Makanan Kucing untuk Asupan Protein
Mahasiswa yang dijuluki “The Artful Cheapskate” itu menarik perhatian publik setelah mengaku mengonsumsi makanan kucing demi memenuhi kebutuhan proteinnya.
kumparanFOOD
ilustrasi memilih makanan untuk kucing. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi memilih makanan untuk kucing. Foto: Shutter Stock
Seorang mahasiswa S3 asal China yang berkuliah di Swiss menjadi viral di media sosial karena cerita gaya hidup hematnya. Baru-baru ini, laki-laki yang dijuluki “The Artful Cheapskate” itu menarik perhatian publik setelah mengaku mengonsumsi makanan kucing demi memenuhi kebutuhan proteinnya.
Dilansir South China Morning Post (SCMP), sejak awal mahasiswa tersebut memang bertekad untuk hidup hemat agar bisa membiayai program doktoralnya secara mandiri. Terlebih, biaya hidup di Swiss tergolong cukup tinggi sehingga ia harus bertahan dengan jatah makan yang terbatas.
Lewat media sosial, ia membagikan kisah hidup hematnya hingga kini memiliki sekitar 12 ribu pengikut. Sebelum datang ke Swiss, ia sudah menabung sekitar Rp 699 juta setelah lulus dari sekolah kedokteran di China, sebelum akhirnya memulai studi doktoral di sebuah lembaga riset ternama di Swiss.
"Aku melihat banyak mahasiswa yang membiayai kuliahnya sendiri berhenti di tahun ketiga karena tak sanggup menanggung biaya kuliah dan hidup. Karena itu, sejak sebelum ke Swiss aku sudah bertekad hidup hemat. Mahasiswa internasional tidak boleh bekerja secara legal, jadi aku harus benar-benar berhemat,” ujarnya, dikutip dari SCMP, Selasa (7/10).
Salah satu pengakuan yang paling mengejutkan dari kisah hidup hematnya adalah keputusannya untuk mengonsumsi makanan kucing demi memenuhi kebutuhan protein dan menjaga massa otot.
Mengutip Hindustan Times, dalam salah satu unggahannya ia menceritakan kalau makanan kucing itu biasa ia beli di supermarket Swiss, Migros.
Ilustrasi Tabungan atau Menabung. Foto: Shutterstock
“Banyak orang terkejut dengan pilihanku, tetapi aku sudah menghitungnya. Satu kantong makanan kucing seberat 3 kg harganya hanya 3,75 franc Swiss (sekitar Rp 78 ribu) dan mengandung 32 persen protein. Artinya, satu franc (sekitar Rp 20 ribu) bisa memberiku 256 unit protein, lebih hemat daripada makanan apa pun yang kutemukan di Swiss sejauh ini,” ujarnya, dikutip dari Hindustan Times.
Selain menambah asupan protein, mahasiswa tersebut juga mengaku rambutnya kini tampak lebih sehat sejak rutin mengonsumsi makanan kucing.
“Teman-teman sesama mahasiswa PhD saya mulai mengalami kerontokan rambut, tetapi makanan kucing mengandung bahan yang bisa membuat bulu kucing berkilau dan lembut, dan rambutku belum pernah sebagus ini sebelumnya,” katanya.
Biasanya, makanan kucing memiliki bau yang cukup menyengat. Namun, mahasiswa tersebut mengatakan bahwa ia mengakalinya dengan mencampurnya bersama kacang.
“Jangan pernah mencampurnya dengan susu. Berdasarkan pengalamanku, cara terbaik untuk menutupi baunya adalah dengan memakannya bersama kacang. Rasa kenyangnya juga bisa bertahan lama,” tambahnya.
Selain mengonsumsi makanan kucing, ia juga mengaku kerap mendonorkan darah di Swiss demi mendapatkan makanan gratis.
“Donor darah di sini jauh lebih berlimpah dibandingkan di China. Kamu bisa mengambil minuman dan cokelat sepuasnya. Selain itu, ada juga sandwich, sup, keripik, dan permen jeli. Rasanya seperti prasmanan. Aku selalu menjadwalkan donor darah saat jam makan siang karena saat itulah supnya paling panas dan makanannya paling banyak,” katanya.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, keteguhan mahasiswa itu akhirnya membuahkan hasil. Berdasarkan laporan SCMP, ia telah meraih beasiswa dan akan segera mengikuti program kunjungan di Universitas Harvard. Ia menegaskan akan terus menjalani prinsip “hemat yang sehat” bahkan saat berada di Boston nanti.
Bagaimana menurut kalian?
Reporter Salsha Okta Fairuz
Trending Now