Inovasi Mahasiswa USU Bikin Kemasan Makanan Stirofoam Ramah Lingkungan

16 Oktober 2025 13:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
clock
Diperbarui 17 November 2025 17:52 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Inovasi Mahasiswa USU Bikin Kemasan Makanan Stirofoam Ramah Lingkungan
Mahasiswa USU berhasil menciptakan BIOFLAEIS, yaitu biofoam ramah lingkungan yang dibuat dari limbah pelepah kelapa sawit (Elaeis guineensis) dan daun pepaya (Carica papaya).
kumparanFOOD
Mahasiswa USU bikin kemasan makanan ramah lingkungan dari pelepah sawit dan daun pepaya. Foto: Universitas Sumatera Utara
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa USU bikin kemasan makanan ramah lingkungan dari pelepah sawit dan daun pepaya. Foto: Universitas Sumatera Utara
Saat membeli jajanan, kita sering melihat makanan dikemas menggunakan wadah stirofoam, bukan? Ya, bahan ini memang banyak dipilih karena sifatnya yang ekonomis, ringan, dan praktis. Tak heran jika banyak pelaku usaha kuliner mengandalkannya untuk kemasan makanan.
Namun di balik kepraktisannya, stirofoam menyimpan risiko besar bagi kesehatan dan lingkungan. Sebagai bahan yang sulit terurai, limbah stirofoam bisa mencemari tanah dan air, bahkan membahayakan ekosistem jika tidak dikelola dengan baik.
Melihat masalah tersebut, sekelompok mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan solusi inovatif. Lewat program Kreativitas Mahasiswa -Kewirausahaan (PKM-K), mereka berhasil menciptakan BIOFLAEIS, yaitu biofoam ramah lingkungan yang dibuat dari limbah pelepah kelapa sawit (Elaeis guineensis) dan daun pepaya (Carica papaya).
Limbah pelepah kelapa sawit yang biasanya hanya menumpuk ternyata kaya akan selulosa dan hemiselulosa, sementara daun pepaya yang produksinya melimpah namun jarang dimanfaatkan menyimpan senyawa bioaktif dengan sifat antibakteri dan antijamur.
Kedua bahan baku ini kemudian dikombinasikan menjadi BIOFLAEIS, sebuah kemasan makanan ramah lingkungan yang tidak hanya mudah terurai (biodegradable), tetapi juga mampu menjaga kualitas daya simpan makanan, menjadikannya solusi inovatif untuk menggantikan plastik dan stirofoam sekali pakai.
Inovasi ini digagas oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Shintia Florensia Silaban, Yeggin Damanik, Feodora Nicole Holongy Sitompul, dan Gita Triani Sinaga dari jurusan Teknik Kimia, serta Letminda Oftavya Purba dari Ekonomi Pembangunan.
Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan kreativitas, Shintia dan tim ingin menjadikan BIOFLAEIS bukan sekadar produk, melainkan gerakan moral yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap isu lingkungan. Langkah ini penting karena persoalan sampah plastik sering kali dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, padahal dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Mahasiswa USU bikin kemasan makanan ramah lingkungan dari pelepah sawit dan daun pepaya. Foto: Universitas Sumatera Utara
Dosen pembimbing, Ilham Perkasa Bako, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap inovasi ini. Ia menilai BIOFLAEIS bukan hanya sekadar karya kewirausahaan, tetapi juga bukti nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjawab persoalan sehari-hari.
β€œBIOFLAEIS menunjukkan bahwa kreativitas mahasiswa bisa menjembatani sains, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Dari bahan yang sering dianggap sampah, lahir produk bernilai yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Menurut Ilham, inilah esensi pendidikan tinggi, tidak hanya melahirkan teori, tetapi juga solusi yang membumi dan berdampak langsung.
Produk ini kini siap untuk dipasarkan. Tim memanfaatkan media sosial dan promosi langsung kepada pelaku UMKM kuliner, kafe, dan restoran.
Strategi tersebut dipilih karena konsumen muda serta pelaku usaha kecil menengah kini semakin sadar akan gaya hidup berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, BIOFLAEIS diharapkan dapat lebih cepat dikenal, diterima, serta membuka peluang kolaborasi dengan industri yang peduli lingkungan.
Ke depannya, tim berambisi untuk mengembangkan BIOFLAEIS lebih luas dengan menggandeng pelaku usaha, masyarakat, serta mitra lokal. Dukungan dari berbagai pihak diyakini dapat memperkuat posisi BIOFLAEIS sebagai solusi nyata dalam mengurangi limbah plastik sekaligus mengoptimalkan potensi limbah pertanian Indonesia.
Rektor USU Prof. Muryanto Amin mendukung dan mendorong peran mahasiswa untuk berinovasi dan mengembangkan solusi yang berkelanjutan khususnya bagi lingkungan. Muryanto berharap, program seperti ini dapat menjadi wadah yang tepat bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan keterampilan mereka dalam menghasilkan solusi inovatif.
Keberhasilan tim Bioflaeis ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak inovasi serupa, serta mendukung gerakan global untuk mengurangi penggunaan plastik dan bahan-bahan berbahaya bagi lingkungan.
Trending Now