Mahasiswa ITB Olah Limbah Kulit Jeruk Jadi Bioinsektisida

19 September 2025 13:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa ITB Olah Limbah Kulit Jeruk Jadi Bioinsektisida
Mahasiswa ITB berhasil mengolah limbah kulit jeruk menjadi bioinsektisida, bahkan sukses membawa pulang prestasi dalam ajang International Student Project Competition (ISPC) 2025.
kumparanFOOD
Tim mahasiswa ITB olah limbah kulit jeruk jadi bioinsektisida dan meraih prestasi di ISPC 2025. Foto: Dok. itb.ac.id
zoom-in-whitePerbesar
Tim mahasiswa ITB olah limbah kulit jeruk jadi bioinsektisida dan meraih prestasi di ISPC 2025. Foto: Dok. itb.ac.id
Jeruk jadi salah satu buah yang paling mudah ditemui. Si kecil berwarna oranye ini tak hanya segar untuk dimakan, tapi juga kaya manfaat, mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan jantung, melancarkan pencernaan, sampai mendukung kesehatan tulang.
Namun, siapa sangka kalau bagian kulitnya yang biasanya langsung dibuang ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat?
Itulah yang dilakukan oleh dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Hanif Yusran Makarim (Rekayasa Pertanian) dan Muhammad Daffa Anrizky (Teknik Bioenergi dan Kemurgi). Mereka berhasil mengolah limbah kulit jeruk menjadi bioinsektisida, bahkan sukses membawa pulang prestasi dalam ajang International Student Project Competition (ISPC) 2025, bagian dari International Green Scientific Competition (IGSC) yang digelar oleh Fakultas Teknik UNNES.
Lewat karya berjudul โ€œValorization of Orange Peel and Clove Extracts into Nanoengineered d-Limonene-Eugenol Bioinsecticide for Sustainable Pest Controlโ€, tim ini mengangkat permasalahan hama Spodoptera frugiperda pada tanaman jagung. Hama ini dikenal sering merusak tanaman dan menimbulkan kerugian besar bagi petani.
Ilustrasi kulit jeruk. Foto: Kukuh dwi susilo/Shutterstock
Mereka memanfaatkan dua bahan alami yang selama ini kurang termanfaatkan, yaitu kulit jeruk dan cengkeh. Dari kulit jeruk, mereka mengambil senyawa d-limonene yang membuat hama enggan memakan daun jagung. Sementara dari cengkeh, mereka mengekstrak eugenol yang bisa menyerang sistem saraf hama. Agar lebih stabil dan tahan lama, kedua senyawa ini kemudian diemulsifikasi dengan surfaktan Span 80 dan Tween 80.
Karya mereka juga akan dipublikasikan dalam International Conference of Innovative Biofrontiers Students. Publikasi ini melibatkan kolaborasi lintas bidang dengan dukungan dari Jefri Gunawan (Teknik Pangan), Andian Sandi Pamungkas (Teknologi Pasca Panen), dan Gilang Putranto (Mikrobiologi) yang turut membantu dalam penulisan karya tersebut.
Lebih dari sekadar prestasi, inovasi ini menawarkan tiga solusi sekaligus, mulai dari mengurangi limbah kulit jeruk, menekan dampak buruk pestisida kimia, serta membantu petani mengendalikan hama jagung dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
Trending Now