Makanan Kukusan Sehat, Budaya Kuliner Lokal dari Zaman Jawa Kuno yang Kini Viral

18 November 2025 13:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Makanan Kukusan Sehat, Budaya Kuliner Lokal dari Zaman Jawa Kuno yang Kini Viral
Belakangan viral di media sosial pedagang makanan kukusan yang diserbu generasi muda saat sedang mencari menu sarapan di pinggir jalan.
kumparanFOOD
Ilustrasi makanan kukusan sehat yang viral. Foto: Habs Photography/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan kukusan sehat yang viral. Foto: Habs Photography/Shutterstock
Belakangan viral di media sosial pedagang makanan kukusan yang diserbu generasi muda saat sedang mencari menu sarapan di pinggir jalan. Makanan lokal kukusan ini kembali ngetren yang padahal sudah menjadi kebiasaan makan masyarakat sejak zaman Jawa kuno.
Umumnya, seporsi menu sarapan kukusan yang dijual berisi potongan dari aneka umbi seperti ubi jalar, ubi ungu, singkong, hingga labu kuning. Kemudian juga ada melengkapinya dengan pilihan jagung, pisang, kacang, hingga edamame.
Seporsi kukusan ini pun kini dijual dengan harga sekitar Rp 5-10 ribu, tergantung isian yang dipilih. Para generasi muda beranggapan dengan mengonsumsi menu sarapan berupa menu kukusan bisa membuat tubuh lebih sehat.
Nah, ternyata menurut pakar kuliner sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, kebiasaan makan ala masyarakat lokal ini sudah menjadi bagian dari pengetahuan dan teknologi alami sejak zaman Jawa kuno.
"Pengetahuan mengenai hasil bumi berkembang menjadi makanan untuk kesehatan. Ada pengetahuan bagaimana mengonsumsi makanan itu terbagi menjadi mutih, ngrowot, dan ngalong. Jadi, orang Jawa itu sudah punya teknologi alami sejak zaman kuno," ujar Prof. Murdijati kepada kumparanFOOD.
Ilustrasi makanan kukusan sehat yang viral. Foto: Ika Rahma H/Shutterstock
Lebih lanjut, Prof. Mur, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa pengetahuan alami masyarakat Jawa tersebut berkembang. Masyarakat Jawa kemudian membagi-bagi pengetahuan pangan akan hasil bumi itu menjadi beberapa kategori.
Dia menyebutkan, berdasarkan ilmu masyarakat Jawa ada lima kategori pembagian jenis hasil bumi menurut cara penyimpanan dan penangannya.
Pertama, ada yang disebut "polo kependem". Prof. Mur mengatakan, "Polo kependem, artinya hasil bumi yang terletak (tumbuhnya) dalam tanah 'kependem'; seperti ubi jalar, singkong, talas, garut, dan ganyong. Polo sendiri artinya jumlahnya banyak, menunjukkan 'mereka yang' kependem."
Selain polo kependem, adapula empat kategori hasil bumi lain. Ada "pari" atau padi, kemudian "polowija" atau palawija yang termasuk di dalamnya hasil bumi seperti jagung, kacang, kedelai, dan biji-bijian lain.
Selanjutnya, "polo" atau "pala gemantung" yang merupakan tanaman berbuah menggantung; jambu, mangga, jeruk, dan lainnya. Terakhir, "polo" atau "pala kesimpar" adalah hasil bumi yang terletak di atas tanah layaknya labu kuning, parang, semangka, atau melon.
Kemudian, dari hasil bumi yang sudah dikategorikan itu masyarakat menyajikan berdasarkan kreasi masing-masing. Misalnya di Jawa Timur, masyarakatnya gemar menghidangkan polo kependem dengan tambahan cocolan saus petis.
Kemudian, Prof. Mur mencontohkan di Kalimantan dan Jawa Barat hasil bumi yang dimasak dengan cara dikukus atau direbus tersebut bisa jadi disajikan dengan cara yang berbeda lagi, mengikuti selera pangan masyarakat setempat.
Nah, kalau di tempat kamu bagaimana penyajian makanan kukusan satu ini?
Trending Now