Hilang Jati Diri Bangsa, Pesan Kemerdekaan dari Teater Keliling
17 Agustus 2017 15:25 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:15 WIB

Sebuah monolog dari seorang veteran perang kemerdekaan Indonesia di pentas teranyar Teater Keliling membuka lakon yang diberi judul 'Sang Saka' pada sore itu.
Terpancar kebahagiaan kala si veteran itu bercerita soal masa lalunya. Tentang istri, keluarga, hingga semangat berkumpul bersama para pejuang lainnya. Namun, sebaris kemudian rawut wajahnya berubah, dahi mengernyit, serta suara lirih terdengar kala ia meratapi kepergian kawan-kawan sesama pejuang.
Emosinya memuncak, kepedihan menghujam, ketika kawan seperjuangan mati di pangkuannya.

Usai mengenang masa lalu, si veteran perang yang masih hidup di zaman revolusi ini mulai mengutarakan keresahannya akan kaum muda sekarang. Dalam monolog itu pun ia bercerita, soal kaum millenial yang kini melupakan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia.
Kaum yang saat ini mengartikan eksistensi sebagai sebuah pencitraan, bukan lagi soal jati diri. Hal itu membuat mereka lupa akan sejarah dan membuat bangsa ini susah. Merdeka yang dibayangkan oleh para orang tua bukanlah seperti sekarang ini. Hilangnya jati diri itulah inti cerita 'Sang Saka'.

Monolog itu mengisahkan tentang, tiga orang sahabat yang bertemu kembali untuk berpetualang mencari harta karun. Mereka rupanya sedang mencari harta karun yang tengah menjadi ulasan paling atas di dunia maya.
Sosok Komer digambarkan sebagai pria yang tergila-gila akan media sosial. Handphone pabrikan China yang selalu ia bawa adalah 'senjata' untuk terus eksis di dunia maya.
Kor, sahabat Komer, perempuan desa yang merantau ke Jakarta. Digambarkan dengan sosok yang gelamor dan penuh prestise. Semua hal harus bisa ia dapatkan, tak peduli dengan cara apapun, sekalipun harus menipu, tak masalah baginya.
Kemudian Pati, sahabat Komer dan Kor. Asli Jakarta, anak yang diadopsi dari panti asuhan. Karakternya yang keras dengan idealisme tinggi membuat dia terlihat acuh. Namun dibalik itu semua, dia selalu berusaha mengambil kesempatan agar bisa bertahan hidup.
Perjalanan perburuan mereka lakukan di dalam hutan belantara. Namun perjalanan itu membuka rahasia pada setiap diri mereka tentang pemuda-pemudi yang lupa diri, dan memupuskan rasa cintanya terhadap negeri.

Harta karun yang jadi perbincangan di dunia maya berhasil mereka temukan. Akan tetapi harta karun itu tidak seperti yang mereka bayangkan selama ini. Bukan emas, berlian, atau tumpukkan uang yang menggiurkan.
Harta itu berbentuk perempuan mengenakan baju merah yang direfleksikan sebagai 'Sang Saka' yang tersimpan rapi dalam kotak. Harta itu menuntun mereka ke sebuah dimensi waktu imajiner detik-detik proklamasi kemerdekaan.
Banyak hal yang coba ditunjukkan oleh Rudolf Puspa sebagai sutradara, dan Dolfry Inda Suri sebagai penulis naskah dalam lakon 'Sang Saka'.

Seperti biasa, pentas Teater Keliling selalu bagaikan refleksi dan kritik atas kejadian sebenarnya di Indonesia. Kondisi negeri dan para penghuninya yang dibahas di dalam sebuah perjalanan mencari harta kali ini pun menjadi wujud kritik dari Teater Keliling soal penggambaran kondisi Indonesia setelah 72 tahun merdeka.
Monolog bertajuk 'Sang Saka' dari Teater Keliling ini merupakan pentas ke lima mereka pada Agustus. Sebelumnya 'Sang Saka' telah dipertunjukkan di Surabaya, Malang, Bali, dan Makassar.
Cerita yang dipertunjukkan pada Selasa (15/8) sore di gedung UKMF KSS FKIP UNILA Lampung ini, tetap menampilkan ilustrasi musik dan tarian yang menjadi salah satu khas Teater Keliling.
Suasana pertunjukkan pun terasa lebih hidup dengan melibatkan penonton di dalamnya. Membuat pertunjukkan itu menjadi lebih kuat dalam menyampaikan pesan untuk mengkritik keadaan Indonesia belakangan ini.
