Kekecewaan Anggy Umbara soal Penanganan LSF di Film Gundik: Saya Frustrasi
20 Mei 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kekecewaan Anggy Umbara soal Penanganan LSF di Film Gundik: Saya Frustrasi
Anggy Umbara merasa ada inkosisten standar sensor yang diterapkan oleh LSF.kumparanHITS

Sutradara Anggy Umbara mengaku frustrasi dengan penanganan Lembaga Sensor Film (LSF) untuk film terbarunya, Gundik. Usai menggelar gala premiere pada Jumat (16/5) lalu, Anggy masih berkutat dengan masalah sensor film oleh LSF.
Birokrasi LSF hingga proses revisi yang berlarut-larut menghambat distribusi film dan membuat Anggy cukup frustrasi.
“Frustrasi, jujur, satu jam yang lalu kami mengeluhkan soal sensor yang belum juga selesai. Dari Oktober tahun lalu kami sudah mengajukan, revisi sudah kami ikuti, tapi tetap saja diminta ubah lagi,” kata Anggy Umbara.
Oleh LSF, Gundik awalnya diajukan untuk klasifikasi usia 21 tahun. Pihak Umbara Brothers Film pun bolak-balik revisi demi mendapatkan izin tayang untuk usia 17 tahun.
Versi sensor usia 17 tahun baru lolos pada hari H gala premiere. Akibatnya, versi Gundik yang ditayangkan saat gala premiere masih merupakan versi 21 tahun atau director’s cut.
Beberapa adegan ekstrem seperti potong kepala dan minum darah pun ditampilkan.
"Yang kalian tonton sekarang ini adalah versi 21 tahun. Versi 17 tahun baru disetujui tadi siang,” ujar Anggy.
Standar Keji yang Seperti Apa?
Masalah sensor ini bukan pertama yang dihadapi Anggy Umbara selaku filmmaker. Sejak materi promosi awal Gundik, teaser poster sempat ditolak karena dinilai tidak sesuai klasifikasi umur.
“Teaser posternya sudah kena masalah. Disuruh bikin yang ‘lebih ramah’. Tapi kami bingung, lebih ramah buat horor itu seperti apa? Pakai senyuman? Belum jelas ini standarnya," ungkap Anggy.
Anggy menilai, ada inkonsisten standar sensor yang diterapkan oleh LSF. Di beberapa film lain, adegan serupa seperti minum darah bisa mendapat klasifikasi usia lebih rendah.
“Ada film lain, minum darah tapi dapat rating 13 tahun. Kalian pasti bingung juga kan?” tanya Anggy.
Bagi Anggy, masalah utamanya adalah penilaian sensor dilakukan oleh pihak berbeda di setiap tahap.
"Jadi yang menyensor pertama, beda dengan yang merevisi, nanti yang cek ulang lagi juga beda. Gimana mau sinkron?” ucap Anggy.
Anggy menegaskan bahwa kritik ini adalah masukan untuk LSF agar lebih baik ke depannya.
"Ini bahan belajar, agar lembaga sensor tidak lagi menjadi penghalang bagi para pembuat film untuk berkarya. Kreativitas kita jadi terbatas karena aturan yang membingungkan," tutup Anggy.
kumparan telah menghubungi LSF soal masalah ini, tetapi belum mendapatkan respons.
