'Narcos: Mexico', Membangun Kerajaan dari Ganja
13 November 2018 16:12 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:05 WIB

'Narcos: Mexico', Membangun Kerajaan dari Ganja
'Narcos: Mexico' akan tayang di Netflix pada 16 November mendatang.kumparanHITS

Gurat-gurat lelah masih terlihat di wajah Diego Luna saat bertemu dengan kumparan dan sejumlah media dari Asia dalam acara 'Whatâs Next Asia' di Singapura, pekan lalu. Tapi penerbangan panjang dan kondisi cuaca yang lembab tak lantas menyurutkan semangatnya untuk berbagi cerita. Ia, bersama lawan mainnya, Michael Pena, dan Eksekutif Produser Eric Newman, datang untuk promosi serial terbaru Netflix, âNarcos: Mexicoâ.
Serial ini adalah lanjutan dari âNarcosâ yang sebelumnya mengangkat sosok Pablo Escobar. Meski jalan cerita tak bersinggungan secara langsung, namun dunia yang digambarkan dalam serial 10 episode itu masih terhubung.
âNarcos: Mexicoâ akan mengeksplorasi akar cerita dari peperangan modern terhadap narkoba, dimulai ketika para gembong narkoba di Meksiko belum terorganisir secara sistematis dan masih bergerak sendiri-sendiri di era 1980-an. Kita akan diperkenalkan dengan sosok yang mungkin tidak setenar Pablo Escobar, tapi pengaruhnya begitu besar di Guadalajara hingga Sinaloa. Dia adalah FĂ©lix Gallardo.
Sama seperti banyak âorang suksesâ lainnya, FĂ©lix Gallardo membangun kerajaannya dari nol. Dulunya ia hanya polisi yang bertugas menjaga anak dari seorang Gubernur Sinaloa, Leopoldo Sanchez Celis. Peluang dan ambisi telah mengubahnya menjadi sosok yang menakutkan.

Felix memulai kariernya di dunia hitam ketika melihat celah dari sistem yang korup. Ia menjadi penyambung lidah sekaligus aliran dana dari para gembong narkoba ke pejabat dan orang-orang berpengaruh di pemerintahan.
Dari satu kesempatan menuju kesempatan lainnya, Félix Gallardo mengambil alih jalur perdagangan narkoba milik organisasi kriminal Aviles setelah pemimpinnya terbunuh dalam baku tembak dengan polisi. Saat itu dia menjadi penyuplai ganja terbesar di dunia, dengan ladang yang luasnya ratusan kali lipat lapangan sepak bola.
Félix Gallardo tak hanya lihai dalam mengelola ladang ganja yang berkualitas. Pengalamannya melakukan lobi-lobi terhadap pemegang kebijakan telah membentuk mentalnya sebagai pebisnis yang penuh perhitungan. Hanya dialah yang bisa menyatukan para kartel di Meksiko untuk bergabung ke dalam sebuah konsorsium kriminal dan mereguk untung bersama-sama tanpa harus ada pertumpahan darah lagi.

Diego Luna masih berusia 5 atau 6 tahun saat kasus pembunuhan anggota Drug Enforcement Administration (DEA) Kiki Camarena (Michael Pena) terjadi di Meksiko. Kini, lebih dari tiga dekade kemudian, dia mendapat kesempatan untuk memerankan orang yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Bagi Diego, Félix Gallardo adalah kebalikan dari semua sifat aslinya.
âAku tidak sepintar dia, tentu saja tidak melakukan kekerasan seperti dia. Aku juga tidak bersedia mengorbankan hal yang paling penting dalam hidupku, yaitu keluarga dan teman-teman,â kata Diego dengan aksen Latin yang kental.
Tapi sebagai aktor, sudah tugas Diego untuk membawakan penampilan yang meyakinkan. Dia banyak menghabiskan waktu untuk melakukan riset dari buku, artikel dan literatur yang menggambarkan kondisi Meksiko di era tersebut, terutama yang berhubungan dengan sepak terjang Félix Gallardo.
âAku ingat kondisi Meksiko dari perspektif seorang anak kecil. Aku harus kembali dan melihat perspektif dari orang dewasa, hal-hal yang aku tidak lihat sebelumnya,â katanya.
âPenting bagiku untuk membuat ulang konteks di mana karakterku hidup, jadi aku bisa tahu bagaimana dia akan bereaksi dan bersikap. You know, banyak informasi tentang Felix Gallardo perihal apa yang dia capai, apa yang dia tunjukkan, dan sejarahnya, kemudian tentang kasus Kiki Camarena secara spesifik, karena ini kasus yang penting untuk memahami hubungan antara Meksiko dan Amerika Serikat,â tambah aktor yang memulai karier di film 'A Sweet Scent of Death' pada 1999.
Dalam membawakan karakter Félix Gallardo, Diego selalu berusaha menemukan pemicu dari sesuatu yang personal. Sehingga, ketika ia bersikap, penonton bisa memahami motivasinya. Karena bagaimanapun, dan sekejam apapun, Félix Gallardo tetaplah manusia yang bisa tersentuh oleh cinta, penyesalan, rasa bersalah, dan persahabatan.

Félix Gallardo memiliki julukan The Godfather karena dia bisa menyatukan orang-orang yang hampir tak mungkin disatukan dalam satu meja, kemudian membuat mereka setuju untuk bekerja sama. Itulah mengapa Félix sangat powerful.
âDia bisa mengorganisir berbagai tingkat kekuatan dalam sistem korup. Satu hal yang penting soal serial ini yang harus dipahami adalah, ini bukan cerita tentang satu orang jahat yang melakukan banyak hal. Dia juga bekerja untuk orang lain. Dia harus menjawab telepon dan diberitahu tugas yang harus dilakukan. Jadi kesimpulannya, bagaimana hal seperti ini bisa terjadi karena korupsi telah menjangkau tiap tingkat kekuasaan,â ucap aktor yang memerankan tokoh Cassian Andor di film âRogue One: A Star Wars Storyâ.

Di akhir perbincangan, Diego menyelipkan pesan bahwa kekerasan yang terjadi di Meksiko bukanlah milik Meksiko. Itu merupakan bagian dari hal yang lebih besar, yang terjadi di dua sisi perbatasan.
âSelama ada pasar, akan ada seseorang yang menyediakannya. Ini adalah isu yang melibatkan kita semua,â kata dia.
âNarcos: Mexicoâ yang juga dibintangi Michael Pena itu akan tayang di Netflix pada 16 November mendatang.
