Review Abadi Nan Jaya: Plot Hole, Bencana Besar, dan Solusi
25 Oktober 2025 12:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Review Abadi Nan Jaya: Plot Hole, Bencana Besar, dan Solusi
Review film Abadi Nan Jaya karya Kimo Stamboel yang baru tayang di Netflix.kumparanHITS

Sutradara Kimo Stamboel kembali dengan karya terbarunya, Abadi Nan Jaya, yang resmi tayang di Netflix mulai 23 Oktober 2025. Lepas dari citra horor penuh darah yang melekat padanya, Kimo menyajikan sebuah bencana zombi yang ternyata bisa dikatakan melahirkan ketulusan dan solusi atas masalah disfunctional family.
Berlatar di sebuah desa asri bernama Wanirejo di dekat Yogyakarta, Abadi Nan Jaya memperkenalkan kita pada keluarga Sadimin (Donny Damara), seorang pengusaha jamu tradisional kaya raya.
Ambisinya untuk awet muda dan mempertahankan kekuasaan bisnis jamunya, Wani Waras, membuatnya nekat menciptakan sebuah ramuan baru.
Namun, alih-alih mendapatkan keabadian, jamu tersebut menjadi pemicu malapetaka yang mengubah penduduk desa menjadi mayat hidup yang haus darah.
Di tengah kekacauan ini, penonton diperkenalkan pada kepingan-kepingan retak dari keluarga Sadimin. Hubungan yang sudah lama mati di antara mereka menjadi pertaruhan utama untuk bertahan hidup.
Potret Keluarga yang Terluka
Kekuatan Abadi Nan Jaya tidak hanya terletak pada teror zombi yang digarap dengan serius, seperti riasan dan efek visual yang sangat meyakinkan. Namun, penokohan dalam film ini begitu rapi dan kuat.
Sadimin (Donny Damara) hadir seperti sosok patriarki yang terjebak dalam obsesi keabadian. Karakternya menjadi simbol keserakahan manusia yang berujung pada kehancuran. Donny Damara berhasil menampilkan sosok kepala keluarga yang menolak tua dan tanpa sadar menciptakan mitos keabadiannya sendiri.
Sementara, Kenes (Mikha Tambayong), menjadi putri yang berulang kali merasakan sakit hati. Kenes dikhianati oleh suaminya, Rudy (Dimas Anggara), dan sahabatnya sendiri, Karina (Eva Celia), yang justru menikahi ayahnya. Luka batin ini membuatnya menjadi seorang ibu yang sangat protektif terhadap putranya, Raihan.
Bambang (Marthino Lio), adik Kenes, anak laki-laki yang dipandang sebelah mata oleh keluarganya. Bambang muncul sebagai pengangguran yang gemar bermain game. Bambang dan Kenes punya perbedaan pandangan yang besar soal keluarga.
Sementara Karina (Eva Celia), adalah istri muda Sadimin sekaligus sahabat Kenes. Di balik statusnya sebagai ibu tiri, Karina digambarkan sebagai sosok yang cerdas, peduli, dan merindukan persahabatannya dengan Kenes. Eva Celia menyebut karakternya pada awalnya terkesan dangkal dan materialistis, namun seiring berjalannya cerita, sisi pedulinya lebih terlihat.
Empat tokoh di atas layak disorot karena melahirkan banyak konflik dalam film. Perkembangan karakter dan hubungan mereka perlahan membaik. Kesadaran timbul justru ketika semuanya dihadapkan sebuah bencana besar.
Wabah Zombi Sebagai Terapi Keluarga
Kimo Stamboel, yang berkolaborasi dengan penulis Agasyah Karim dan Khalid Kashogi, dengan cerdas menjadikan wabah zombi bukan sekadar elemen horor.
Di Abadi Nan Jaya, bencana adalah katalis yang memaksa anggota keluarga untuk menghadapi sifat zombi dalam diri sendiri dan hubungan mereka dalam keluarga.
Penonton justru diajak merenung, mana yang lebih menakutkan, mayat hidup di luar sana atau hubungan keluarga yang sudah lama mati?
Konflik antara Kenes dan Karina, misalnya. Mereka penuh dengan dendam dan sakit hati. Namun, hubungan mereka perlahan membaik ketika mereka harus saling melindungi, agar tidak mati.
Bambang yang selama ini dianggap tidak berguna, menunjukkan keberanian dan ketulusannya. Para pemeran yang selamat harus bersatu dan berjuang untuk bertahan, sebuah ironi yang sangat mulia dan layak untuk direnungkan.
Plot Hole dan Kecanggungan
Akan tetapi, Abadi Nan Jaya tetap punya kekurangan di beberapa titik. Pendapat saya, ada beberapa pertanyaan yang melahirkan plot hole di sepanjang film.
Misalnya, mengenai asal-usul jamu hingga bisa mengubah manusia menjadi zombi. Penjelasan itu sangatlah minim di babak pertama dalam film. Kedua, apa yang menyebabkan zombi itu tidak jadi ganas ketika terkena air? Nampaknya bagi penonton awam, adegan itu akan sia-sia dan terkesan membuang waktu.
Kurangnya pengenalan tentang motif utama dari jamu tersebut berdampak ke beberapa elemen kecil lain, soal suara, petasan, hingga limitasi solusi yang tersaji. Sepintas terlihat tak ada jalan keluar. Namun apabila ditambah dengan sedikit penjelasan, penonton akan semakin paham dan lebih bergairah saat menonton.
Yang patut disyukuri, Abadi Nan Jaya berhasil memadukan horor zombi dengan kearifan lokal yang kental. Penggunaan jamu sebagai sumber wabah, latar pedesaan, musik dangdut dan acara sunatan, membuat film ini terasa begitu "Indonesia".
Kimo Stamboel membuktikan bahwa teror zombi bisa disajikan dengan cita rasa Indonesia yang khas tanpa kehilangan identitasnya.
Pada akhirnya, Abadi Nan Jaya lebih dari sekadar film zombi. Film adalah sebuah narasi tentang bagaimana sebuah tragedi besar mampu meruntuhkan ego, dan pada akhirnya, menumbuhkan kembali ketulusan yang telah lama hilang dalam sebuah keluarga.
