Review Film: Pangku dan Kesunyian Seorang Ibu

1 November 2025 15:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Review Film: Pangku dan Kesunyian Seorang Ibu
Review Film: Pangku dan Kesunyian Seorang Ibu. Selengkapnya di sini.
kumparanHITS
Teaser Poster dari Film Perdana Reza Rahadian Berjudul, Pangku. Foto: Poplicist
zoom-in-whitePerbesar
Teaser Poster dari Film Perdana Reza Rahadian Berjudul, Pangku. Foto: Poplicist
Dalam lanskap sinema Indonesia yang beragam, film Pangku hadir sebagai sebuah karya debut penyutradaraan Reza Rahadian yang sunyi. Film ini memotret perjuangan dua perempuan, dua ibu dari kelas bawah di Jalur Pantura, yang hidupnya tak punya banyak pilihan.
Bertahan adalah satu-satunya pilihan. Dalam keterbatasan itu, kekuatan mereka sebagai seorang ibu justru memancar terang. Sebagai film debut, karya Reza sangat detail, sarat makna, dan terasa "festival" sekali.

Alur Cerita

Plot Pangku berpusat pada karakter Sartika yang diperankan Claresta Taufan. Sartika adalah seorang perempuan hamil yang meninggalkan kampung halamannya demi kehidupan yang lebih baik untuk anaknya.
Demi hidup yang lebih baik, nasib membawa Sartika ke sebuah kedai kopi di Pantura milik Bu Maya (Christine Hakim). Namun, Bu Maya akhirnya mengizinkan Sartika tinggal di rumahnya, melahirkan, hingga bekerja sebagai pelayan di kedai kopi pangku.
Film Pangku memenangkan empat penghargaan di Busan International Film Festival 2025. Foto: Dok. Istimewa
Dari situasi ini, seiring berjalannya waktu, dilema muncul pada karakter Sartika. Di satu sisi, ia terikat utang budi pada Bu Maya, namun di sisi lain ia mendambakan kehidupan baru bersama anaknya.
Di tengah ketidakpastian hidupnya, Sartika bertemu dengan Hadi (Fedi Nuril), seorang supir truk pengangkut ikan yang dengan tulus berusaha menolongnya keluar dari masa kelam.
Kehadiran Hadi membuat Sartika kembali bimbang antara kesempatan untuk meraih kebahagiaan atau terkurung dalam rutinitas yang melelahkan. Namun Hadi ternyata menimbulkan konflik, perasaan sakit hati, hingga pelajaran berharga yang kembali harus diterima lapang dada oleh Sartika.

Visual Realis

Reza Rahadian memilih pendekatan visual bergaya realis untuk menghidupkan kisah Sartika. Pengambilan gambar sengaja difokuskan pada ruang-ruang sempit untuk merepresentasikan keterbatasan yang dialami oleh tokoh utama.
Pilihan syuting di Indramayu dan pesisir utara Jawa Barat berhasil menampilkan suasana otentik yang mendukung narasi emosional film ini.
Beberapa elemen kecil seperti televisi, kran air, penggorengan hitam, minyak jelantah, dan bau ikan yang menyengat, menjadi penanda penting. Reza membuktikan bahwa konteks, situasi, waktu, dan budaya, bisa dijelaskan secara rinci lewat elemen film tanpa harus ada di dialog para aktornya.
Keseriusan Reza dalam mendirect sangat terlihat berkat solidnya gestur tubuh para aktor, ekspresi wajah, dan intonasi suara dari setiap karakter. Situasi realis juga dibantu oleh pencahayaan serta penggambaran lokasi sekitar, yang akurat pada porsinya.

Sartika dan Bu Maya: Dua Sisi Kekuatan Perempuan

Hubungan antara Sartika dan Bu Maya menjadi kekuatan sekaligus konflik dalam film ini. Sartika merepresentasikan perjuangan seorang ibu yang berusaha bertahan hidup di tengah stigma masyarakat.
Sementara Bu Maya menampilkan sisi lain dari kekuatan perempuan yang lahir dari kerasnya kehidupan, yang terkadang harus mengambil pilihan sulit demi bertahan.
Jumpa pers film Pangku di Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (16/10). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Film ini tidak bermaksud menghakimi fenomena "kopi pangku," melainkan menyoroti sisi kemanusiaan dan pilihan hidup yang sulit yang dihadapi oleh para perempuan di lingkungan tersebut.
Ada masanya ketika saya merasa bahwa Sartika mewakili para perempuan di seluruh Indonesia yang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Claresta Taufan terlihat sangat amat cocok berdiri sebagai Sartika.
Tak sia-sia riset Claresta berinteraksi langsung dengan para perempuan yang seprofesi di Pantura, untuk memahami perspektif dan cerita hidup mereka. Dari semua segi, Claresta berhasil memerankan Sartika dengan sangat baik.
Di sisi lain, Bu Maya adalah representasi dari perempuan yang lebih tua, yang telah lebih dulu ditempa oleh kerasnya kehidupan. Christine Hakim, dengan jam terbang yang tak perlu diragukan lagi, menghidupkan karakter Bu Maya dengan kompleksitas yang mendalam.
Jumpa pers film Pangku di Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (16/10). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Bu Maya bukan karakter hitam-putih; ia adalah produk dari lingkungan yang keras, yang mungkin pernah mengalami perjuangan serupa dengan Sartika.
Christine Hakim sendiri mengungkap, meskipun ia tidak memiliki anak biologis, ia dapat merasakan kekhawatiran seorang ibu terhadap anaknya, sebuah perasaan yang ia salurkan ke dalam perannya.

Kesunyian Seorang Ibu

Tema perjuangan seorang ibu sebenarnya bukan hal baru. Kita pernah menyaksikan ketangguhan ibu dalam Athirah (2016), yang diangkat dari kisah nyata ibunda Jusuf Kalla. Atau yang terbaru, Bila Esok Ibu Tiada (2024), di mana Christine Hakim juga memerankan seorang ibu bernama Rahmi Sutanto.
Berbeda dengan film di atas, Pangku menawarkan perspektif yang lebih sunyi dan kelam. Jika Athirah dan Bila Esok Ibu Tiada menonjolkan konflik dan perjuangan dalam konteks keluarga besar, Pangku justru menyoroti kesendirian dan perjuangan ibu seorang diri di tengah pahitnya hidup.
Film ini tidak hanya berbicara tentang pengorbanan, tetapi juga bagaimana sistem dan keadaan bisa memaksa seorang ibu membuat pilihan sulit yang mungkin bertentangan dengan nuraninya.
Karakter Bu Maya juga menjadi pembeda yang signifikan. Ia bukan sosok ibu yang idealis, melainkan seorang penyintas yang pragmatis.
Bu Maya kontras dengan gambaran ibu yang lebih konvensional dalam banyak film Indonesia. Hubungan antara Sartika dan Bu Maya yang kompleks, sebagaimana penolong dan penjebak, juga menjadi dinamika yang jarang dieksplorasi dalam film bertema serupa.
Reza Rahadian, yang juga menulis naskah bersama Felix K. Nesi, terinspirasi dari perjuangan ibunya sebagai seorang single mother dan ingin mendedikasikan film ini sebagai sebuah penghormatan untuk para ibu. Pangku adalah surat cinta yang amat romantis untuk seorang ibu.

Terasa Lama di Beberapa Titik

Keindahan visual dan elemen kecil dalam film Pangku agaknya terasa berlebihan dan lama di beberapa titik. Pangku adalah film yang sangat festival.
Bagi penonton yang tak terbiasa, rasanya membosankan di beberapa titik. Namun bagi beberapa penggemar lainnya, film ini seharusnya dinilai sempurna.
Pada akhirnya, Pangku adalah pengingat bahwa di balik riuhnya Jalur Pantura, ada kesunyian yang dipeluk erat oleh para ibu.
Gala Premiere film Pangku di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (28/10/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Mereka mungkin tidak memiliki suara yang lantang, tetapi kekuatan mereka dalam bertahan hidup demi anak-anak mereka adalah sebuah narasi yang kuat dan menggugah.
Melalui akting memukau dari Christine Hakim dan Claresta Taufan, film ini berhasil menyampaikan pesan tentang ketangguhan perempuan tanpa harus banyak berkata-kata.
Pangku adalah sebuah karya yang layak diapresiasi, bukan hanya karena debut penyutradaraan Reza Rahadian, tetapi persembahannya untuk seorang ibu; sosok yang mungkin terbata mendoakanmu di setiap tengah malam.
Trending Now