Review No Other Choice: Ketidakadilan Melahirkan Balas Dendam
10 Oktober 2025 15:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Review No Other Choice: Ketidakadilan Melahirkan Balas Dendam
Review No Other Choice: Ketidakadilan Melahirkan Balas Dendam. Selengkapnya di sini. kumparanHITS

Pada 2018 lalu, saat masih kuliah, saya pertama kali nonton film Oldboy karya Park Chan-wook. Film itu mind-blowing buat saya. Chan-wook berhasil mendirect Choi Min-sik yang masih muda, menjadi sosok gagal, frustasi, dan terlihat penuh beban sepanjang film. Soal plot twist, bagi saya, Oldboy adalah film dengan plot-twist, sekaligus tema balas dendam terapik sejauh ini.
Dari situ, saya mulai mencari tahu karya-karya Chan-wook lainnya. Saya lalu menonton dua saudara Oldboy, Symphaty for Mr. Vengeance dan Lady Vengeance, yang termaktub dalam trilogi Vengeance. Temanya balas dendam. Dua film terakhir tak kalah bagusnya dengan Oldboy.
Saya lalu menyusun hipotesa sederhana; siapa pun pemainnya, apa pun genrenya, kalau di tangan Park Chan-wook pasti hasilnya memuaskan. Sebab, Chan-wook sutradara yang sangat hati-hati dalam bercerita dan mengutamakan kualitas dalam sentuhannya.
Lima tahun belakangan, Chan-wook hanya menghasilkan dua film. Decision To Leave (2022), membuat namanya kembali bersinar di Cannes, Blue Dragon Film Award, hingga Asian Film Award.
Memasuki 2025, Chan-wook hadir lewat film No Other Choice. Film ini bukan thriller seperti Oldboy (2003) atau Handmaiden (2016), melainkan sebuah komedi gelap yang menusuk jantung industri kertas, soal kepala keluarga yang di-PHK, serta persoalan kelas menengah lainnya.
No Other Choice dibintangi oleh aktor Lee Byung-hun sebagai Man-su, seorang spesialis di pabrik kertas yang dipecat. Man-su, yang merasa telah mencapai segalanya dan puas dengan hidupnya, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan pahit pemecatan.
Film ini mengikuti perjuangan Man-su yang putus asa mencari pekerjaan kembali demi melindungi istri dan kedua anaknya, mempertahankan rumah tangga yang telah ia bangun dengan susah payah.
Kisah Man-su semakin kelam ketika ia terpaksa melakukan pembunuhan berantai untuk menyingkirkan pesaing demi satu posisi pekerjaan, hanya untuk menemukan pekerjaan.
Rasanya pahit ketika melihat setiap cerita kecil dalam potret film ini, ada kegelisahan kelas menengah, obsesi mempertahankan status ekonomi, hingga kapitalisme yang menekan manusia sampai batasnya.
Satire dan Balas Dendam
Bagi saya, Park Chan-wook adalah sutradara kelas jempolan soal satire. Hampir tiap filmnya terasa satir dan gelap.
Di No Other Choice, kegelapan itu kembali tertata. Film ini sukses menyajikan sindiran terhadap kapitalisme, industri AI, toxic masculinity, dan trauma keluarga.
Menariknya, ada nada komedi yang diselipkan untuk menggambarkan beragam isu krusial tersebut. Penonton bisa tertawa di awal film, sedikit mual di pertengahan, dan akhirnya merasa getir dan tersadarkan di bagian ending.
Menariknya lagi, isu balas dendam kembali jadi sajian utama dalam karya Chan-wook. Berbeda dari Oldboy, No Other Choice adalah balas dendam karakter utama bagi sistem dan kelas sosial. Man-su, tokoh utama, keluar sebagai korban keganasan sistem.
Sistem yang jelek itu membuatnya seolah percaya bahwa persoalan sistemik bisa diberangus dengan cara keren yang sistematis pula.
Teknis yang Memukau
Chan-wook membidani bentuk visual dan isi dalam film ini menjadi suguhan indah, lokal, dan kontras. Film ini sangat minim CGI. 2 jam lebih, saya amati hanya satu CGI yang digunakan, yaitu saat Man-su mencoba menyelinap ke rumah kandidat pelamar kerja lainnya, dan disambut ular.
Musik dan scoring yang masuk ke telinga pun semuanya bukan hiasan. Setiap hal yang hadir dalam frame adalah sarana mengantarkan kisah satire tentang manusia yang makin terbunuh, oleh sistem kapitalis.
No Other Choice adalah tamparan keras bahwa sistem yang busuk dan tak adil bisa merusak relasi antar manusia. Persaingan antara manusia dan teknologi juga jadi open ended menarik yang tersaji di akhir film.
No Other Choice tidak menyajikan plot twist cemerlang seperti Oldboy atau The Handmaiden. Namun Chan-wook mengagetkan penggemar lewat keahlian barunya: komedi yang lucu sekaligus sesak, tertawa sekaligus merenung.
Sesudah kredit bergulir, muncul rasa takut di benak saya: bagaimana jika suatu hari kita semua berada di posisi Man-Su?
