5 Anak di Riau Meninggal Akibat Flu Babi, Kemenkes Imbau Jaga Kebersihan

26 November 2025 14:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
5 Anak di Riau Meninggal Akibat Flu Babi, Kemenkes Imbau Jaga Kebersihan
Kemenkes menyampaikan lima anak di Indragiri Hulu, Riau, meninggal akibat flu babi. Simak apa penyebabnya, Moms!
kumparanMOM
Ilustrasi Influenza A/H1pdm09 (flu babi). Foto: Corona Borealis Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Influenza A/H1pdm09 (flu babi). Foto: Corona Borealis Studio/Shutterstock
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengalami lonjakan di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Hingga 23 November 2025, tercatat 224 warga mengalami gangguan pernapasan.
Nah Moms, saat ini seluruh warga yang mengalami ISPA sudah membaik. Namun, Kemenkes RI melaporkan terdapat lima kasus kematian pada anak.
Dalam rilis yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, hasil laboratorium menunjukkan kelima anak tersebut positif terjangkit Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Influenza A/H1pdm09, atau yang dikenal juga dengan flu babi, pernah menjadi wabah di beberapa negara pada tahun 2009.

Soroti Kurangnya Kebersihan Lingkungan di Wilayah Pedalaman

Munculnya ratusan kasus gangguan pernapasan di wilayah pedalaman Riau tersebut menjadi persoalan serius, terutama berkaitan dengan sanitasi, gizi, dan akses kesehatan. Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan minimnya fasilitas kesehatan dasar di wilayah tersebut.
Dusun Datai diketahui tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur. Kondisi ini dianggap meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak.
Selain masalah lingkungan, ditemukan pula banyak warga dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah. Hasil laboratorium menunjukkan adanya kombinasi infeksi flu babi, pertusis, adenovirus, dan bocavirus.
Ilustrasi anak kekurangan gizi. Foto: Kevin Herbian/Shutterstock
Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan rendahnya kekebalan tubuh membuat warga rentan terhadap penyakit.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, menyampaikan kondisi lingkungan di Dusun Datai menjadi penyebab penyakit mudah menyebar.
โ€œKami menemukan rumah padat, ventilasi minim, nyamuk banyak, dan warga hidup dalam paparan asap kayu bakar setiap hari. Situasi seperti ini membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular, terutama pada balita,โ€ ujar Sumarjaya.
Ia menegaskan, krisis ISPA di dusun tersebut bukan sekadar persoalan medis, tetapi terkait erat dengan sanitasi, perilaku hidup, dan akses layanan kesehatan.
โ€œJika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang,โ€ kata Sumarjaya.

Langkah Kemenkes untuk Menangani Kasus ISPA

Untuk merespons kondisi tersebut, Kemenkes bersama pemerintah daerah setempat melakukan pengobatan massal, memperkuat intervensi gizi, dan memberikan perhatian khusus kepada balita dan ibu hamil melalui pemberian makanan tambahan (PMT), vitamin, dan pemantauan kesehatan.
Edukasi terkait etika batuk, penggunaan masker, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga diperluas, Moms.
Ilustrasi Influenza A/H1pdm09 (flu babi). Foto: Kateryna Kon/Shutterstock
Tim kesehatan juga melakukan pengambilan sampel tambahan untuk memastikan tidak ada patogen lain yang beredar, mengingat variasi gejala dan temuan multipatogen sebelumnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Kemenkes bersama pemda mulai menyusun perbaikan lingkungan. Termasuk pembuatan tempat pembuangan sampah, kerja bakti pembersihan area rawan nyamuk, hingga pemisahan area memasak dan area tidur di rumah warga. Edukasi berbentuk media juga disiapkan untuk sekolah-sekolah terpencil.
Sumarjaya menekankan penanganan tidak berhenti pada pengobatan kasus, tetapi memastikan perbaikan lingkungan dan akses kesehatan dilakukan secara bertahap di Dusun Datai dan tujuh dusun terisolir lainnya.
โ€œKami ingin memutus siklus kerentanan ini. Intervensi lingkungan dan gizi adalah kunci agar kejadian seperti ini tidak terulang,โ€ tutupnya.
Trending Now