71 Tahun SGM, Berkomitmen untuk Terus Berkolaborasi Menutrisi Anak Bangsa

31 Agustus 2025 15:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
71 Tahun SGM, Berkomitmen untuk Terus Berkolaborasi Menutrisi Anak Bangsa
SGM menegaskan komitmennya untuk terus menutrisi anak bangsa.
kumparanMOM
71 Tahun SGM Menutrisi Anak Bangsa. Foto: Sarihusada
zoom-in-whitePerbesar
71 Tahun SGM Menutrisi Anak Bangsa. Foto: Sarihusada
Masih ada berbagai tantangan bagi kesehatan anak Indonesia, salah satunya berkaitan dengan pemenuhan gizi. Ya Moms, anemia akibat kekurangan zat besi masih menjadi salah satu masalah gizi utama yang dihadapi anak Indonesia.
Sayangnya, kondisi ini kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan kemampuan berpikir anak.
Untuk mewujudkan Generasi Emas 2045, diperlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, sektor swasta, masyarakat, media, organisasi, maupun akademisi untuk memastikan setiap anak Indonesia terpenuhinya hak gizinya.
Dengan semangat tersebut, Sarihusada sejak tahun 1954 dengan pabrik pertamanya di Yogyakarta, konsisten menutrisi anak bangsa melalui inovasi nutrisi berbasis sains yang sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia.
VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugujanto. Foto: Sarihusada
Memasuki 71 tahun, Sarihusada menegaskan komitmennya mendukung generasi emas yang sehat yang berkontribusi langsung terhadap Indonesia Emas 2045.
β€œSarihusada lahir di Yogyakarta 71 tahun yang lalu sebagai pionir produk nutrisi di Indonesia, dengan misi memenuhi kebutuhan gizi anak," ujar VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, di pabrik Sarihusada, Yogyakarta, Rabu (27/9).
Bagi SGM, Yogyakarta memiliki makna historis yang sangat penting sebagai kota awal solusi nutrisi bagi anak-anak Indonesia. Bukan hanya pabrik dan pusat riset, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan komitmen nyata bagi masyarakat Yogyakarta.
Mulai dari inisiatif pembangunan PAUD Generasi Maju di Taman Pintar, Duta 1000 Pelangi yang merupakan program edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya 1000 HPK serta peningkatan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang merubah gaya hidup terkait gizi seimbang untuk mencegah stunting, hingga upaya bersama pemerintah daerah untuk pencegahan stunting dan tanggap bencana.
Kunjungan Pabrik Sarihusada. Foto: Sarihusada
β€œKami menyadari bahwa saat ini anemia defisiensi besi menjadi masalah gizi utama yang dihadapi anak Indonesia. Untuk itu, komitmen ini kami wujudkan melalui inovasi produk bernutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak Indonesia. Selain itu, inovasi kami tidak hanya berfokus pada produk, tapi juga dalam aspek edukasi berbasis digital berupa pemanfaatan Kalkulator Zat Besi di www.generasimaju.co.id, sebagai alat praktis orang tua memantau kebutuhan zat besi si kecil,” lanjut Vera.

Mengatasi Tingginya Anemia Defisiensi Besi pada Anak Indonesia

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, prevalensi anemia pada anak usia 6-59 bulan mencapai 38,4%, artinya satu dari tiga anak Indonesia berusia di bawah lima tahun kekurangan zat besi.
Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima negara dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara.
Dalam acara yang sama, Dokter Spesialis Anak, dr. Devie Kristiani Sp.A, menjelasnkan dampak bila anak terkena anemia defisiensi besi.
β€œAnemia defisiensi besi sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa menentukan masa depan seorang anak. Zat besi tidak hanya membentuk hemoglobin untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, tetapi juga berperan dalam pembentukan neurotransmitter penting di otak yang memengaruhi konsentrasi, daya ingat, dan semangat belajar," jelasnya.
Dokter Spesialis Anak, dr. Devie Kristiani, SpA. Foto: Sarihusada.
Anak yang berisiko kekurangan zat besi juga memiliki kemampuan psikomotor yang lebih rendah sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar anak di sekolah. Oleh karena itu, pencegahan sejak dini mulai dari kehamilan, pola makan kaya zat besi dan vitamin C, hingga pemeriksaan berkala melalui deteksi dini dengan alat skrining dan monitoring asupan zat besi adalah investasi terbaik.
Penelitian pada anak umur 1-3 tahun di Jakarta juga menunjukkan bahwa konsumsi susu pertumbuhan berperan signifikan dalam membantu melengkapi nutrisi harian selain dari makanan dan memenuhi kebutuhan zat gizi penting anak, termasuk zat besi, zinc, kalsium, vitamin B12, vitamin C, dan vitamin E, dibandingkan susu cair biasa.
"Dengan demikian, pemenuhan nutrisi yang tepat dapat menjadi langkah efektif untuk mencegah anemia sekaligus mendukung tumbuh kembang optimal anak,” tutup dr. Devie.
Trending Now