Anak Juga Bisa Mengalami Tekanan Darah Tinggi, Kenali Faktor Pemicunya!

25 Juli 2025 14:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak Juga Bisa Mengalami Tekanan Darah Tinggi, Kenali Faktor Pemicunya!
Tekanan darah tinggi tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Kenali apa saja faktor pemicunya!
kumparanMOM
Ilustrasi dada anak sakit. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dada anak sakit. Foto: Shutter Stock
Penyakit tekanan darah tinggi mungkin dianggap hanya dialami oleh orang dewasa saja. Namun, faktanya, anak-anak juga bisa mengalaminya, Moms!
Sebuah studi terbaru dari American Heart Association mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan: satu dari tujuh anak di Amerika Serikat hidup dengan tekanan darah tinggi. Temuan ini mengejutkan, karena tekanan darah tinggi umumnya tidak dikaitkan dengan anak-anak.
Menurut direktur kardiologi Rumah Sakit Anak New Orleans, Dr. Thomas Kimball, kini penyakit tekanan darah tinggi tidak hanya dianggap sebagai penyakit orang dewasa.
“Akar masalah ini justru sering dimulai sejak masa kanak-kanak, akibat kebiasaan tidak sehat seperti pola makan buruk dan kurangnya aktivitas fisik,” jelas Dr. Kimball, dikutip dari Parents.
Penelitian yang dipimpin oleh Ahlia Sekkarie, PhD, ahli epidemiologi di CDC Amerika Serikat menganalisis data dari sekitar 2.600 anak berusia 8 hingga 19 tahun. Meskipun studi ini belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, hasilnya telah dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah American Heart Association di Chicago pada 6 September 2024.
"Hasilnya menujukkan 8,7 persen anak memiliki tekanan darah tinggi, dan 5,4 persen lainnya hampir memenuhi kriteria tersebut. Secara keseluruhan, sekitar 14 persen anak dan remaja mengalami atau hampir mengalami tekanan darah tinggi," ujar Dr. Cherilyn Davis, dokter anak di Elliston Pediatrics.

Mengapa Tekanan Darah Tinggi Bisa Terjadi di Usia Anak-anak?

Ilustrasi anak pusing setelah kejang. Foto: Shutter Stock
Menurut Dr. Davis, meski penyebab pastinya masih sulit dipastikan, beberapa faktor yang berkontribusi antara lain pola makan yang tidak baik, kurang olahraga, kebiasaan pola hidup buruk, kelebihan berat badan, dan obesitas.
Dr. Vincent J. Gonzalez, ahli jantung anak dan dewasa di Children’s Nebraska, menyebut tren ini kemungkinan disebabkan oleh banyak faktor. Ia mencatat anak dengan obesitas parah lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi, dan anak laki-laki cenderung lebih sering terdiagnosis dibanding perempuan.
Menurut Dr. Gonzalez, penyebab tekanan darah tinggi pada anak bisa berasal dari faktor yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup, maupun faktor yang tidak bisa diubah seperti kondisi medis (penyakit endokrin, ginjal, dan jantung), serta faktor genetik.
Sayangnya, salah satu tantangan terbesar dari tekanan darah tinggi adalah kondisi ini sering tidak menunjukkan gejala hingga kerusakan serius terjadi.
"Biasanya, ketika seseorang mengalami masalah kesehatan, gejalanya akan terasa. Namun, tekanan darah tinggi sering disebut sebagai ‘pembunuh diam-diam (silent killer)’ karena gejalanya kerap tidak muncul sama sekali," jelas Dr. Alan Sing, salah satu direktur kardiologi di Children’s Medical Center Plano.
Meski demikian, beberapa anak dengan tekanan darah tinggi mungkin mengalami keluhan ringan, seperti sakit kepala, penglihatan buram, atau mimisan. Sebagian hanya merasa tidak enak badan, tetapi mungkin sulit menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan.
Yang perlu menjadi perhatian utama adalah dampak jangka panjang bila hipertensi tidak diobati. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ vital, termasuk jantung, ginjal, mata, dan otak. Ini juga berkontribusi terhadap aterosklerosis —penyumbatan pembuluh darah— yang bisa berujung pada penyakit serius.
Menurut Dr. Sing, jika anak Anda didiagnosis memiliki tekanan darah tinggi, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, Moms.
“Banyak keluarga menganggap hipertensi bukan masalah besar, apalagi pada anak yang terlihat sehat. Padahal, diagnosis pada usia remaja berarti anak tersebut mungkin mengalami tekanan darah tinggi selama puluhan tahun ke depan, meningkatkan risiko komplikasi. Itulah mengapa kita harus serius dan aktif dalam mengontrol tekanan darah pada anak-anak," tutup dia.
Trending Now