Anemia hingga Obesitas Jadi Ancaman Kesehatan Ibu Hamil, Bagaimana Mencegahnya?
7 Agustus 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Anemia hingga Obesitas Jadi Ancaman Kesehatan Ibu Hamil, Bagaimana Mencegahnya?
Kesehatan ibu hamil di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari tingginya angka anemia, obesitas, hingga RSV.kumparanMOM

Ketua Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI)–Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp. OG, Subsp, Obginsos, MPH, menjelaskan berbagai masalah kesehatan yang berisiko tinggi terhadap kehamilan perkembangan janin, seperti anemia, tuberkulosis (TBC), kurang energi kronik (KEK), obesitas, hingga infeksi virus seperti RSV (Respiratory Syncytial Virus).
Penjelasan ini dipaparkan dr. Ocviyanti dalam acara Diskusi Publik "Dua Generasi, Satu Ancaman: Pentingnya Cegah RSV di Jakarta Selatan, Rabu (6/8).
Apa Saja Ancaman Kesehatan Ibu Hamil di Indonesia?
1. 30-40 Persen Ibu Hamil Alami Anemia
Anemia masih menjadi masalah kesehatan utama bagi ibu hamil di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 30-40 persen. Anemia merupakan kondisi rendahnya jumlah sel darah merah atau hemoglobin di dalam tubuh.
“Kenapa kalau dia anemia? Tentunya imunitasnya jelek,” ujar Prof. Ocviyanti.
Jika seorang perempuan sejak remaja sudah mengalami anemia dan tidak memenuhi kebutuhan gizinya dengan cukup, maka bisa berdampak ketika ia hamil.
Pemerintah pun sudah menerapkan pemberian tablet tambah darah pada perempuan sejak remaja sebagai bentuk pencegahan anemia.
Kemudian saat Anda hamil, maka perbanyaklah konsumsi makanan protein hewani yang bisa mencukupi kebutuhan protein dan zat besi selama kehamilan. Ini wajib dilakukan, terutama bila ibu hamil sudah diketahui mengalami kondisi anemia.
2. Indonesia Peringkat Dua Dunia untuk Kasus Tuberkulosis
Indonesia menempati urutan kedua di dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis (TBC) terbanyak. Bila TBC sampai menyerang ibu hamil, maka bisa berdampak pada kesehatan janinnya juga hingga komplikasi persalinan.
“Yang kedua, Indonesia adalah nomor dua sedunia yaitu tuberkulosis atau TBC. Sudahlah ibu hamil ini TBC, kena Respiratory Syncytial Virus (RSV) juga. Kalau dia enggak melahirkan prematur, aneh. Biasanya dia lahirnya jadinya prematur,” tuturnya.
3. Tubuh Kurus dan Gemuk Sama-sama Berisiko
Masalah gizi pada ibu hamil juga menjadi sorotan, sebab sekitar 17–18 persen ibu hamil mengalami Kurang Energi Kronik (KEK), yang ditandai dengan kondisi tubuh kurus dan kekurangan nutrisi.
Di sisi lain, sekitar 20 persen ibu hamil mengalami obesitas. Keduanya sama-sama memiliki risiko tinggi terhadap kehamilan, Moms.
“Yang berat, gemuk. Lebih berat lagi, 20 persen ibu Indonesia itu kegemukan. Itu berisiko untuk preeklampsia. Preeklampsia itu yang tiba-tiba tekanan darahnya naik. Akibatnya dia terpaksa melahirkan bayi yang kecil di dalam kandungan atau prematur,” imbuhnya.
Prof. Ocviyanti menyebut, tingginya angka kelahiran prematur juga dinilai sebagai salah satu faktor penyebab lambatnya penurunan angka stunting di Indonesia.
“Angka stunting kita nggak cepat-cepat juga turunnya. Angka stunting saat ini antara 15-20 persen. Tapi angka (kelahiran) prematur kita hampir 30 persen,” katanya.
Perlindungan Ibu dan Janin Melalui Vaksin
Oleh karena itu, sebagai upaya mencegah berbagai masalah kesehatan pada ibu hamil, Prof. Ocviyanti menekankan pentingnya perlindungan melalui imunisasi lengkap dasar.
“Yang kita inginkan apa? Tidak ada anak yang baru lahir boleh sakit apa pun. Kalau bisa sampai 5 tahun. Inilah cerita mengapa kita ingin melindungi ibu maupun janinnya dengan vaksin,” pungkasnya.
