Bukan Hanya Genetik, Faktor-faktor Ini Turut Pengaruhi Kecerdasan Anak!

9 September 2025 11:11 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bukan Hanya Genetik, Faktor-faktor Ini Turut Pengaruhi Kecerdasan Anak!
Kecerdasan anak tidak hanya bergantung pada faktor genetik, tapi juga sangat dipengaruhi oleh nutrisi hingga stimulasi lingkungan.
kumparanMOM
Bukan Hanya Genetik, Faktor-faktor Ini Turut Pengaruhi Kecerdasan Anak! Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Bukan Hanya Genetik, Faktor-faktor Ini Turut Pengaruhi Kecerdasan Anak! Foto: Shutter Stock
Banyak yang percaya kecerdasan anak lebih banyak diturunkan dari orang tuanya. Dalam penelitian, faktor genetik memang memiliki peranan penting dalam membentuk kecerdasan anak, yaitu sekitar 40-60 persen. Dan sebagian besar diturunkan oleh ibu.
Namun, menurut dokter spesialis anak dan expert kumparanMOM, dr. Reza Abdussalam, Sp.A, faktor genetik bukanlah satu-satunya penentu kecerdasan anak. Tetapi juga ada faktor nutrisi, stimulasi, pola asuh, dan kualitas tidur, terutama di masa-masa awal kehidupan.
Maka dari itu, orang tua tetap punya peran besar dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan anak melalui pola asuh dan lingkungan yang tepat.
Yuk, pahami faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kecerdasan anak, selain karena faktor genetik!

Selain Genetik, Ini Faktor-Faktor yang Dapat Pengaruhi Kecerdasan Anak!

1. Nutrisi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Ilustrasi janin 22 Minggu. Foto: Shutter Stock
Salah satu fase paling krusial dalam pembentukan kecerdasan anak berada di 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
β€œDi mana jaringan otak terbentuk 80 persen pada masa tersebut dan hampir 90 persen pada anak usia 5 tahun,” kata dr. Reza kepada kumparanMOM, Senin (8/9).
Jika ibu hamil dan anaknya mengalami kekurangan zat gizi penting seperti protein, zat besi, yodium, omega-3, asam folat, dan vitamin D selama periode 1.000 hari pertama kehidupan, maka perkembangan kognitifnya bisa terganggu. Oleh karena itu, penting untuk memastikan asupan nutrisi Anda dan si kecil tercukupi pada periode tersebut.
2. Stimulasi dan Pola Asuh
Ilustrasi Ayah dan Bayi Foto: Shutterstock
Selain gizi, stimulasi dari lingkungan dan pola asuh juga punya pengaruh besar. Stimulasi yang rutin dan bervariasi akan membantu membentuk koneksi antar-sel otak yang lebih kompleks dan kuat.
β€œSemakin bervariasi rangsangan yang diterima, maka semakin kompleks hubungan antara sel-sel otak. Semakin kompleks dan kuat hubungan antara sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari. Simulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi,” tuturnya.
3. Tidur Berkualitas
Siapa yang anaknya masih kerap tidur di tengah malam? Mulai sekarang, cobalah untuk memajukan jam tidur malamnya. Karena tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting bagi perkembangan otak anak. Mengapa?
Ilustrasi bayi tidur. Foto: Shutterstock
Karena bila anak mendapat tidur yang cukup dan berkualitas, maka akan membantu proses konsolidasi dan maturasi (mematangkan) sel otak. Aktivitas neuron yang terjadi selama tidur membantu memperkuat koneksi otak.
Lalu dalam pertumbuhan anak juga ada faktor penting Rapid Eye Movement (REM) sleep atau merupakan tahap penting tidur di mana sebagian mimpi terjadi. Tidur REM merupakan salah satu dari empat tahap yang dilalui otak selama tidur.
Bila anak kurang mendapat tidur REM sejak masa bayi, maka dapat merusak perkembangan otak dan menurunkan plastisitas otak saat dewasa. Oleh karena itu, tidur bukan sekadar istirahat, melainkan bagian dari proses penting pertumbuhan otak anak.
4. Penuhi Tiga Kebutuhan Dasar: Asuh, Asih, Asah
Ilustrasi ibu punya anak bayi dan balita. Foto: GOLFX/Shutterstock
Untuk mendukung kecerdasan dan tumbuh kembang anak secara optimal, dr. Reza juga menekankan pentingnya memenuhi tiga kebutuhan dasar, yaitu:
-Asuh: Kebutuhan fisik-biomedis seperti ASI, gizi seimbang, imunisasi, dan lingkungan bersih.
-Asih: Kebutuhan akan kasih sayang dan keamanan emosional dari orang tua.
-Asah: Kebutuhan stimulasi mental melalui interaksi, permainan edukatif, dan kesempatan belajar.
Trending Now