Cerita Pasien Gagal Ginjal: Perjuangan Masih Panjang Usai Transplantasi

9 Oktober 2025 16:00 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cerita Pasien Gagal Ginjal: Perjuangan Masih Panjang Usai Transplantasi
Meski sudah menjalani transplantasi, pasien gagal ginjal masih harus menjalani perjuangan seumur hidup.
kumparanMOM
Ilustrasi anak gagal ginjal. Foto: narikan/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak gagal ginjal. Foto: narikan/Shutterstock
Transplantasi ginjal dianggap sebagai terapi paling ideal bagi pasien yang mengalami gagal ginjal kronik. Meski terbukti meningkatkan harapan dan kualitas hidup pasien gagal ginjal, namun angka transplantasi di Indonesia masih rendah. Dibanding negara-negara Asia lainnya, hanya 130 kasus pada 2018-2019, jauh tertinggal dari Thailand dengan 781 kasus, Vietnam 1.000 kasus, Korea Selatan 3.583 kasus, dan Turki mencapai 5.455 kasus.
Selain itu masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk dapat melakukan transplantasi ginjal. Rendahnya aksesibilitas untuk melakukan terapi transplantasi ini ditengarai terjadi karena adanya keterbatasan jumlah donor ginjal, lamanya waktu tunggu, tingginya biaya, serta keterbatasan infrastruktur layanan kesehatan.
Di tengah keterbatasan itu, pengalaman dari seorang remaja asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, memberikan gambaran pentingnya prosedur ini dalam menyelamatkan hidup sekaligus memulihkan kualitas hidup pasien
NF (16), remaja asal Tanjung Pinang, didiagnosis gagal ginjal kronik akibat kelainan bawaan renal agenesis saat usianya baru delapan tahun. Sejak saat itu, hari-harinya dipenuhi perawatan medis dengan rutinitas yang melelahkan, termasuk harus bolak-balik rumah sakit untuk menjalani cuci darah atau hemodialisis yang membuatnya sering kehilangan waktu belajar dan bermain.
Setelah beberapa waktu, NF beralih ke metode CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), namun prosedur ini tetap menyita banyak waktunya karena harus dilakukan lima kali sehari yang akhirnya dijalani NF dalam kurang lebih selama 13 bulan sebelum akhirnya orangtua NF memilih agar anaknya melakukan transplantasi ginjal.
Titik balik hidupnya terjadi pada April 2019. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, ia menerima donor ginjal dari ayahnya. Transplantasi tersebut bukan hanya menyelamatkan hidupnya, tetapi juga memberinya kesempatan untuk kembali beraktivitas dengan lebih baik. Kini, enam tahun berselang, meskipun ia masih harus mengonsumsi obat imunosupresan seumur hidup, namun kehidupannya jauh lebih stabil dibanding masa awal sakitnya.
Dengan tetap menjaga protokol kesehatan dan kebersihan lingkungan secara ketat, NF kini bisa menjalani homeschooling, mengikuti les biola, les bahasa Mandarin, hingga berbagai kegiatan lainnya. Kehidupannya kembali dipenuhi interaksi dan aktivitas yang memberi warna baru, meski tetap dijalani dengan kewaspadaan agar kondisinya tetap terjaga.

Obat Seumur Hidup bagi Pasien Gagal Ginjal

Ilustrasi anak sakit ginjal. Foto: SURAKIT SAWANGCHIT/Shutterstock
Pasien gagal ginjal kronik yang telah menjalani transplantasi tetap terikat pada perawatan jangka panjang. Salah satunya adalah kewajiban mengonsumsi obat imunosupresan seumur hidup agar ginjal baru tidak ditolak tubuh. Di sinilah tantangan baru muncul, terutama bagi pasien yang jauh dari kota besar seperti NF yang tinggal di Tanjung Pinang di Kepulauan Riau.
Setelah menjalani transplantasi pada 2019, NF menghadapi kenyataan bahwa obat yang dibutuhkan belum tersedia di kotanya. Berbagai upaya pun harus dilakukan agar NF dapat memperoleh obat tersebut di kotanya. Meski kini telah tersedia, kendala distribusi sempat membuat keluarga cemas. Dalam beberapa bulan terakhir, ibu dari NF juga menghadapi masalah pergantian merek obat.
β€œKalau obatnya diganti merek, saya belum berani. Jadi kami sering minta bantuan ke grup atau komunitas pasien, apakah ada stok berlebih. Kami khawatir perubahan ini dapat memengaruhi kondisi tubuhnya, karena di komunitas pasien anak pascatransplantasi ada yang mengalami efek samping setelah mencoba obat yang baru. Pada pasien pascatransplantasi, sistem imunnya ditekan serendah mungkin agar tidak terjadi penolakan, sehingga kami belum sepenuhnya yakin dengan pergantian merek obat tersebut,” ujar ibu dari NF.
Selain harus rutin mengonsumsi obat, NF juga diwajibkan menjalani pemeriksaan kadar tacrolimus secara berkala. Tacrolimus merupakan obat utama untuk mencegah penolakan ginjal pascatransplantasi. Di Tanjung Pinang, pemeriksaan ini tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan dan hanya tersedia di fasilitas kesehatan swasta dengan biaya lebih dari satu juta rupiah setiap kali tes. NF pun harus menjalaninya setidaknya dua kali dalam sebulan.
Jika suatu saat diperlukan pergantian obat, frekuensi pemeriksaan kadar tacrolimus harus lebih sering dari biasanya. Apabila hal itu terjadi, orang tua NF terpaksa pindah sementara ke Jakarta agar kondisi NF dapat diawasi langsung oleh dokter dengan pengawasan kesehatan yang optimal selama menjalani terapi obat baru.
Langkah ini penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas pengobatan, namun tentu saja menambah beban biaya yang jauh lebih berat bagi NF dan keluarganya, di tengah perjuangannya menjaga keberlangsungan fungsi ginjal pascatransplantasi.

Transplantasi Masih Jadi Jalan Panjang

Ketika mempertimbangkan pengobatan pada pasien gagal ginjal kronik, transplantasi ginjal menawarkan hasil terbaik dengan biaya yang relatif lebih rendah dalam jangka panjang serta memungkinkan pasien kembali produktif karena tidak lagi terikat pada jadwal hemodialisis atau CAPD.
Hingga 2023, total prosedur transplantasi ginjal di Indonesia baru mencapai sekitar 1.155 kasus, dengan sekitar 80 persen di antaranya dilakukan di RSCM Jakarta. Jumlah ini masih jauh dari kebutuhan nyata, mengingat tingginya angka penderita gagal ginjal kronik di tanah air. Pada 2025, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa transplantasi ginjal baru dapat dilakukan secara terbatas di 19 pusat transplantasi.
Transplantasi ginjal di Indonesia sendiri menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Menurut ahli nefrologi, tingkat keberhasilan transplantasi ginjal di Indonesia sudah setara dengan negara-negara maju, yakni 90–93 persen. Keberhasilan ini memberi harapan besar bagi penderita gagal ginjal.
Namun, hasil jangka panjang tetap sangat bergantung pada keteraturan minum obat serta pemantauan kadar tacrolimus. Survei yang dilakukan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menunjukkan 74% pasien cenderung mengalami penurunan kadar takrolimus, dan 39% pasien mengalami peningkatan kadar kreatinin dengan 13 persen diantaranya mengalami kenaikan lebih dari batas normal setelah penggantian penggantian obat.

Harapan dari Tanjung Pinang

Bagi NF, hidup pascatransplantasi adalah anugerah sekaligus perjuangan. Ia dan keluarganya berharap pemerintah lebih serius memastikan dua hal: ketersediaan obat imunosupresan yang stabil dan pembiayaan pemeriksaan penting seperti tacrolimus, terutama di daerah. Kendala lain yang ialah regulasi transplantasi yang hanya mengatur donor hidup.
β€œSejak usia 8 tahun, anak kami sudah berjuang. Kini, setiap obat maupun makanan yang masuk ke tubuhnya selalu kami perhatikan dan pilih dengan hati-hati, demi menjaga kualitas hidupnya,” jelas ibu dari NF.
Kisah NF menegaskan bahwa transplantasi bukan akhir perjuangan, melainkan awal perjalanan baru. Agar anak-anak seperti NF tak sekadar bertahan hidup, pemerintah perlu memastikan ketersediaan obat yang tepat, pemeriksaan, dan layanan medis tersedia hingga ke daerah.
Trending Now