Fakta-fakta soal Berhubungan Seksual setelah Menopause

22 Februari 2024 19:06 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fakta-fakta soal Berhubungan Seksual setelah Menopause
Seputar fakta hubungan seksual suami istri setelah mengalami menopause.
kumparanMOM
Fakta-fakta soal Berhubungan Seksual setelah Menopause. Foto: dok.Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Fakta-fakta soal Berhubungan Seksual setelah Menopause. Foto: dok.Shutterstock
Perubahan hormonal pada masa menopause dapat menimbulkan efek fisik dan emosional. Perubahan ini juga dapat mempengaruhi gairah dan kehidupan seks seseorang lho, Moms.
Ketika seseorang mencapai usia 40-an, kadar estrogen dan progesteronnya mulai menurun, kemudian pada akhirnya menstruasi akan berhenti. Ketika seseorang tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan, itu menandai dimulainya menopause.
Dikutip dari Medical News Today, beberapa orang mengalami menopause dini. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor genetik, kondisi medis, atau beberapa jenis perawatan medis. Efek menopause akan langsung terasa jika seseorang menjalani operasi untuk mengangkat indung telur atau rahim.
Terlepas dari kapan menopause dimulai dan apa penyebabnya, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi hasrat dan pengalaman berhubungan seks seseorang.
Ilustrasi berhubungan seksual. Foto: Shutterstock

1. Efek Pada Fisik

Selama periode menopause, hormon yang bertanggung jawab atas kesuburan dan kehamilan akan menurun. Hal ini menyebabkan perubahan pada pembuluh darah dan jaringan vagina beserta vulva.
Salah satu dampak dari perubahan ini adalah atrofi vulvovaginal. Jaringan vulva dan vagina kehilangan elastisitas dan kelembapannya, yakni menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan lipatannya. Jaringan yang lebih tipis bisa membuatnya lebih mudah memar dan teriritasi.
Jaringan juga menerima lebih sedikit pelumasan. Hal ini memperparah gesekan saat berhubungan intim dan meningkatkan risiko kerusakan.
Dampak fisik yang dapat mempengaruhi hubungan seks saat menopause antara lain:
Ilustrasi berhubungan seksual. Foto: Aloha Hawaii/Shutterstock
-Penurunan tonus vagina atau hilangnya elastisitas dinding vagina
-Nyeri, pendarahan, atau rasa terbakar saat berhubungan seks
-Perasaan sesak saat berhubungan intim
-Penurunan libido atau dorongan seksual
-Kesulitan untuk menjadi atau tetap terangsang
-Infeksi saluran kemih berulang

2. Efek Emosional

Fluktuasi hormon juga dapat berdampak emosional, mempengaruhi tidur, dan suasana hati. Selain itu, kelelahan, kecemasan, mudah tersinggung, kesulitan konsentrasi dan depresi, sangat umum terjadi.
Kondisi ini dapat mempengaruhi pengalaman atau kenikmatan seks seseorang. Berkurangnya gairah seks atau ketidakmampuan menikmati seks juga dapat mempengaruhi keintiman.
Beberapa orang juga mengalami kesedihan saat menopause karena mereka merasa telah mencapai akhir masa mudanya. Orang tersebut juga bisa kehilangan minat pada aktivitas yang dulunya mendatangkan kesenangan, termasuk seks.
Ilustrasi lansia, kakek dan nenek. Foto: Shutterstock
Efek emosional paling umum yang mengganggu hubungan seks meliputi:
-Kecemasan
-Mudah marah
-Kurangnya konsentrasi dan motivasi
-Kelelahan
-Depresi atau kesedihan
-Rasa kehilangan atau penyesalan
-Hilangnya hasrat atau minat seksual
-Hilangnya rasa percaya diri dan keintiman
Kendari demikian, tidak semua orang mengalami efek emosional negatif selama menopause kok, Moms. Beberapa orang memiliki perasaan terbebas sehingga tidak perlu lagi mengkhawatirkan kehamilan atau menstruasi. Banyak juga yang justru melihatnya sebagai awal dari tahap baru yang menarik dalam hidupnya.
Trending Now