IDAI Ungkap Anak Paling Berisiko Cacingan: Wajib Potong Kuku dan Pakai Alas Kaki

22 Agustus 2025 15:30 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
IDAI Ungkap Anak Paling Berisiko Cacingan: Wajib Potong Kuku dan Pakai Alas Kaki
Berkaca dari kasus Raya, kebiasaan bermain di tanah bisa membuat anak rentan terkena cacingan. Ini yang harus diperhatikan orang tua!
kumparanMOM
Ilustrasi anak bermain tanpa alas kaki. Foto: Nanako Yamanaka/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak bermain tanpa alas kaki. Foto: Nanako Yamanaka/Shutterstock
Kasus balita 4 tahun di Sukabumi, Raya, yang meninggal akibat cacingan akut menjadi pengingat bagi orang tua untuk memperhatikan lagi kebersihan diri dan lingkungan, serta pola hidup sehari-hari. Raya mengembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan selama 9 hari di rumah sakit. Cacing seberat lebih dari 1 kg juga telah dikeluarkan dari tubuhnya.
Keluarga Raya hidup dalam kemiskinan di Desa Cianaga. Rumahnya tidak memiliki kamar mandi, dan sehari-hari Raya mandi di empang.
Di bawah kolong rumahnya yang berbentuk panggung, diduga di sanalah Raya terpapar larva cacing gelang. Ya Moms, area itu ternyata sering menjadi tempat bermain Raya. Saat kumparan mengunjungi rumahnya, banyak kotoran ayam berserakan di tanah, serta barang dan karung bekas tergeletak.

Anak Paling Berisiko Kena Cacingan, Perhatikan Kebersihan Lingkungan Sekitar!

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2023, yaitu hampir 80 persen populasi yang terkena cacingan adalah anak-anak usia sekolah. Dan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) menjadi yang paling banyak menginfeksi orang-orang, baik di Indonesia maupun dunia.
"Karena anak aktif bermain di tanah, di luar rumah, jadi mungkin edukasi mereka tentang perilaku hidup bersih dan sehat belum maksimal. Kenapa itulah anak usia sekolah yang paling banyak," ujar anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, DR. Dr. Riyadi, SpA, Subs IPT(K), dalam webinar yang diselenggarakan IDAI, Jumat (22/8).
Ilustrasi anak mandi hujan. Foto: TORWAISTUDIO/Shutterstock
Sementara kelompok selanjutnya yang rentan terinfeksi cacingan adalah anak-anak usia prasekolah atau 2-5 tahun. Sebab, anak di usia ini masih belum memahami sepenuhnya tentang mana saja yang berbahaya atau tidak untuk disentuh.
Beberapa contoh cacing yang siklus hidupnya memerlukan media tanah (soil transmitted helminth) antara lain cacing gelang, cacing cambuk, cacing benang, dan cacing tambang.
Menurut Dr. Riyadi, pada kasus infeksi cacing gelang, misalnya, satu cacing dewasa saja bisa menghasilkan 200.000 telur per hari, dengan masa hidup 1-2 tahun. Dalam siklus hidupnya, telur cacing gelang memerlukan tanah liat serta lingkungan yang hangat dan lembap untuk dapat berkembang. Telur yang telah dibuahi dan mencemari tanah akan menjadi matang dalam waktu tiga minggu, pada suhu 25-30 derajat celcius.
Sejak telur infektif tertelan pada tubuh seseorang, maka diperlukan waktu lebih kurang 2-3 bulan sampai cacing dewasa dan kemudian bertelur lagi. Dan cacing gelang dapat hidup hingga dua tahun di tubuh manusia, lho!
"Cacingan membutuhkan perantara tanah untuk menjadi bentuk yang infektif. Jadi, kalau ada orang dewasa yang cacingan di rumah, maka anak pun akan jadi berisiko," tuturnya.
"Jadi, menularnya melalui perantara tanah, bukan cacing yang tumbuh. Ada manusia yang kecacingan, misalnya, buang air besar tidak pada tempatnya, telurnya keluar, satu cacing saja bisa 200.000 telur, kemudian berkembang. Prosesnya memerlukan perantara di tanah terlebih dahulu," lanjut Dr. Riyadi.
Sehingga, yang masuk ke dalam tubuh seseorang bukanlah cacing yang sudah dewasa, tetapi masih berbentuk telur atau larva. Kemudian, telur cacing itu masuk ke pembuluh darah hingga usus, barulah berkembang menjadi cacing dewasa. Seluruh proses ini bisa berlangsung 2-3 bulan.
Pada fase inilah, Dr. Riyadi menekankan intervensi dengan obat-obatan sudah bisa dilakukan sebelum telur-telur cacing semakin berkembang. Anda perlu memperhatikan gejala klinis tidak khas, seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi, lesu, hingga kurang konsentrasi.

Pengobatan Anak yang Terinfeksi Cacingan

Ilustrasi Anak Minum Obat. Foto: Shutterstock
Dr. Riyadi menegaskan, kecacingan memang jarang menyebabkan kematian, tetapi berisiko kronis hingga dapat menyebabkan kesehatan memburuk jika tidak diobati dengan cepat.
"Penyakit cacing berjalannya lambat, tidak segera, dan butuh waktu untuk sampai menimbulkan gejala dan gejala yang dirasakan anaknya, bahkan sampai berat. Kenapa cacingan penting untuk tidak dilupakan? Karena kalau diobati dengan cepat dan pencegahan dilakukan, maka tidak akan sampai [bergejala] berat," tegas dia.
Terkait obat-obatannya tentu tidak bisa diberikan tanpa ada konsultasi dengan dokter anak. Hal ini tidak hanya berlaku pada anak, tetapi juga orang dewasa.
"Kalau memang ada gejala, ada indikasi, tentu boleh. Tapi jangan lupa, namanya minum obat itu harus dengan saran dokter. Ini penting karena obat cacing itu seperti obat antibiotik. Dia itu antimikroba, antimikroorganisme. Jangan digunakan secara berlebihan," ungkap Dr. Riyadi.
Ia menjelaskan, obat cacingan memiliki sejumlah efek samping pada penggunanya. Beberapa obat cacing yang sering digunakan untuk pengobatan bagi pengidap kecacingan di antaranya Albendazol, Mebendazol, dan Pirantel Pamoat. Masing-masing obat memiliki dosis dan lama pemakaian yang berbeda-beda antarpasien, jadi pastikan selalu berkonsultasi dulu dengan dokter.
Pencegahan tentunya sangat bisa dilakukan, yaitu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan dan bermain. Lalu menjaga kebersihan tubuh dengan mandi teratur hingga rutin memotong kuku. Gunakan juga alas kaki saat bermain di luar rumah.
"Kuku jarang dipotong itu jadi salah satu faktor risiko, enggak pakai alas kaki, itu bisa nempel larvanya," ucap dia.
Trending Now