Ini Vitamin yang Dibutuhkan Anak Sesuai Usia, Apa Saja?
12 September 2025 14:44 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Ini Vitamin yang Dibutuhkan Anak Sesuai Usia, Apa Saja?
Suplementasi vitamin pada anak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mikronutriennya. Berikut daftar vitamin yang bisa diberikan.kumparanMOM

Banyak orang tua yang percaya, vitamin dapat meningkatkan nafsu makan, kekebalan tubuh, hingga mempercepat penyembuhan saat anak sakit.
Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada dasarnya pemberian vitamin dan mineral bersifat suplementasi. Itu artinya, vitamin dan mineral hanya diberikan kepada bayi dan anak yang kebutuhan mikronutriennya tidak terpenuhi hanya dari asupan makanan sehari-hari.
Untuk mendeteksi kekurangan vitamin dan mineral biasanya akan dilakukan pemeriksaan marker biokimia mikronutrien. Namun, pemeriksaan ini memerlukan biaya yang cukup besar dan menimbulkan rasa tidak nyaman karena proses pengambilan darah. Selain itu, kadar vitamin/mineral dalam darah tidak selalu berhubungan dengan keluhan pasien.
Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pedoman suplementasi vitamin dan mineral. Panduan tersebut disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing, serta memperhitungkan prevalensi masalah kesehatan yang paling banyak terjadi pada daerah tersebut.
Apa saja vitamin yang dibutuhkan anak sesuai usianya? Simak di bawah ini!
Vitamin yang Dibutuhkan Anak Sesuai Usia
1. Vitamin A
Vitamin A tidak hanya membantu proses tumbuh kembang anak, tetapi juga dapat menjaga kesehatan selaput lendir yang melapisi saluran pencernaan dan pernapasan. Selaput ini berperan penting sebagai pertahanan pertama tubuh terhadap bakteri dan virus.
Selain itu, vitamin A dalam tubuh menstimulasi produksi sel darah putih yang berperan dalam pembentukan tulang, menjaga dan mendukung pertumbuhan sel-sel tubuh, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Sumber vitamin A bisa didapatkan dari sayuran berdaun hijau, tomat, wortel, buah, hati sapi, minyak ikan, telur, dan lain sebagainya. Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi beragam bahan makanan yang kaya akan vitamin A, khususnya buah dan sayur, dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit.
Untuk pemberian suplementasi vitamin A, pemerintah telah memiliki program bulan vitamin A setiap Februari dan Agustus.
2. Vitamin D
Vitamin D dapat diperoleh secara alami dari sinar matahari dan sumber makanan. Jika mendapat paparan sinar matahari yang cukup, manusia juga perlu vitamin D dari makanan. Makanan yang kaya vitamin D seperti, ikan salmon, tuna, mackerel, jamur, hingga minyak ikan.
Kadar vitamin D yang cukup dalam tubuh dapat memelihara kesehatan tulang, meningkatkan ketahanan tubuh, serta menurunkan risiko penyakit autoimun dan keganasan. Namun, kekurangan vitamin D dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, Moms.
Oleh karena itu, suplementasi vitamin D bisa diberikan pada:
3. Zat Besi
Kekurangan zat besi bisa berdampak negatif pada anak, mulai dari pertumbuhuan yang terhambat, mudah lelah dan lemas, penurunan nafsu makan, kesulitan fokus, hingga gangguan kognitif.
Bila Anda berpikir ASI saja cukup memenuhi kebutuhan zat besi pada bayi, ternyata kurang tepat ya, Moms. Sebab, ASI hanya mengandung sedikit zat besi, meski begitu zat besi yang terkandung dalam AS mudah diserap oleh saluran cerna bayi.
Setelah usia 6 bulan, ASI saja tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan zat besi bayi dan cadangan zat besi juga sudah berkurang, maka bayi membutuhkan zat besi tambahan dari makanan pendamping ASI (MPASI).
Zat besi alami bisa didapat dari daging-dagingan merah seperti daging sapi, daging kambing, hati ayam, hati sapi, kemudian sayur-sayuran hijau misalnya bayam dan brokoli.
Ingin memberikan suplementasi zat besi pada si kecil? Maka ikuti pedoman ini!
4. Zinc
Mineral lain yang penting bagi bayi dan anak-anak adalah zinc (seng). Suplementasi zinc terbukti dapat menurunkan diare dan pneumonia, mendukung pertumbuhan anak, dan memiliki efek positif dalam menurunkan angka kematian terkait penyakit infeksi.
Suplementasi zinc diberikan rutin selama minimal 2 bulan setiap 6 bulan sekali, pada bayi usia 6-23 bulan.
