Meisya Siregar Ungkap Pengalaman Perimenopause, Didiagnosis 3 Masalah Rahim

16 Agustus 2025 14:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Meisya Siregar Ungkap Pengalaman Perimenopause, Didiagnosis 3 Masalah Rahim
Meisya Siregar menjalani prosedur histeroskopi karena mengalami tiga masalah rahim sekaligus. Kondisinya terdiagnosis ketika mengalami perdarahan di luar siklus menstruasi.
kumparanMOM
Artis Meisya Siregar saat hadir di launching busana muslim di Hotel Grand Mahakam, Jakarta, Senin, (24/9). Foto: Dok. Ronny
zoom-in-whitePerbesar
Artis Meisya Siregar saat hadir di launching busana muslim di Hotel Grand Mahakam, Jakarta, Senin, (24/9). Foto: Dok. Ronny
Artis sekaligus istri musisi Bebi Romeo, Meisya Siregar, mengabarkan kondisi kesehatannya yang baru menjalani histeroskopi di rumah sakit. Tindakan ini dilakukan lantaran ditemukan masalah pada rahimnya, yang membuat dokter memutuskan untuk dilakukan tindakan.
Dikutip dari akun Instagramnya @meisya__siregar, ia menceritakan pengalamannya yang mengalami perdarahan tiada henti, bahkan terjadi di luar siklus menstruasinya. Di sisi lain, ia tidak merasakan gejala sakit atau keluhan lainnya.
Meisya rupanya sudah sempat bolak-balik ke rumah sakit, dan dokternya mendiagnosis dirinya mengalami beberapa masalah pada rahimnya, yaitu:
Dalam kasus Meisya, kondisi-kondisi ini ditemukan ketika menjalani USG transvaginal.
"[Kondisi ini] akibat dari hormon progesteron rendah, sementara hormon estrogen tinggi. Yang terjadi: Imbalance hormone," ucap Meisya. kumparanMOM telah diizinkan untuk mengutip kisahnya.
Meisya menduga kondisi yang dialaminya karena saat ini ia sudah menginjak usia 46 tahun. Dan ada kemungkinan dirinya sudah masuk fase perimenopause atau masa transisi menuju menopause.
Meisya Siregar saat ditemui di peluncuran 5 produk baru Aisaa β€˜Inspirasi Pesonamu’, Rabu (11/3). Foto: Sarah Yulianti Purnama/kumparan
Tidak ingin sakit berkepanjangan, Meisya pun menjalani prosedur histeroskopi. Histeroskopi merupakan prosedur medis dengan menggunakan histeroskop (alat seperti teleskop tipis dengan kamera) untuk mendiagnosis kondisi rahim maupun tindakan bedah untuk memperbaiki masalah yang terjadi. Dalam kasus Meisya, histeroskopi dilakukan karena ia mengalami perdarahan abnormal serta mengangkat polipnya.
Selama histeroskopi berlangsung, dokter membersihkan dan mengambil polipnya untuk dilakukan biopsi. Sementara miomnya dibiarkan karena ternyata ukurannya terbilang kecil dan tidak akan berbahaya.
"Minta doanya boleh ya, supaya hasilnya bagus yaaa πŸ™πŸ» dikasih hati yang ikhlas sama Allah nantinya. Dilanjut dengan treatment terapi hormon," tutur Meisya.
Dalam sebuah unggahan Instagram story-nya, Meisya mengungkapkan ketidakseimbangan hormon cukup sering dialami wanita di usia matang dan memasuki perimenopause. Kondisi ini terjadi secara alamiah. Dan Meisya pun membagikan pola hidupnya agar bisa menyeimbangkan hormon progesteron dan estrogennya, yaitu:
Setelah menjalani prosedur histeroskopi, Meisya pun diminta tidak melakukan aktivitas berat termasuk berolahraga berintensitas tinggi selama 7-10 hari setelah tindakan.

Apa Kata Dokter soal Masalah Rahim yang Dialami Meisya Siregar?

Moms, masa perimenoupause merupakan masa transisi dari masa reproduksi ke pasca-reproduksi, yang biasanya mulai dialami wanita di usia 40-an. Dikutip dari Parents, selama masa perimenopause, hormon reproduksi terutama estrogen menjadi tidak seimbang dalam tubuh. Akibatnya, ibu mungkin mengalami perubahan siklus menstruasi, penambahan berat badan, dan gejala lainnya.
"Dalam kondisi normal, hormon estrogen dan progesteron bekerja sama secara bergantian untuk mengatur siklus menstruasi dan mempersiapkan kehamilan," ujar dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, Sp.OG, kepada kumparanMOM.
Namun, bila tubuh mengalami ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, terutama di masa perimenopause, maka bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti yang dialami Meisya Siregar.
"Termasuk penebalan dinding endometrium yang mengakibatkan perdarahan abnormal dan pertumbuhan polip hingga mioma di rahim," tutur dr. Andrew.
Ketidakseimbangan hormon pada wanita juga bisa disebabkan oleh berbagai faktor lainnya, termasuk gaya hidup yang tidak sehat, kondisi medis, hingga faktor alami seperti menarche (menstruasi pertama) dan menopause, hingga faktor lingkungan.
Ilustrasi sakit perut. Foto: 9nong/Shutterstock
Lantas, apakah masalah rahim seperti penebalan dinding rahim, polip, dan miom merupakan kondisi yang berbahaya dan perlu segera diobati?
"Kondisi penebalan dinding rahim endometrium dapat ditangani dengan obat hormonal. Namun, penting dilakukan biopsi guna menilai kelainan patologi, yang takutnya berisiko hingga ke kanker rahim ke depannya," jelas dokter yang praktik di RSIA Bina Medika itu.
"Untuk polip dan mioma cenderung jinak dan terapi pembedahan akan sesuai dengan gejala," imbuh dia.
Oleh karena itu, dr. Andrew mengingatkan para wanita di usia berapa pun untuk tetap menjaga kualitas dan menerapkan pola hidup sehat. Bagi yang sudah menikah, ia menyarankan untuk rutin melakukan pap smear atau pemeriksaan kesehatan leher rahim untuk mendeteksi dini kanker serviks.
"Para wanita baiknya tetap melakukan rutin medical check up. Dan bagi yang sudah menikah harus rutin melakukan pap smear," tutup dr, Andrew.
Trending Now