Mual Parah Selama Hamil Tingkatkan Risiko Depresi, Ini yang Harus Dilakukan!

23 September 2025 13:30 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mual Parah Selama Hamil Tingkatkan Risiko Depresi, Ini yang Harus Dilakukan!
Morning sickness yang parah rentan membuat ibu hamil mengalami masalah kesehatan mental, mulai dari depresi hingga PTSD.
kumparanMOM
Ilustrasi ibu hamil mual Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil mual Foto: Shutterstock
Mual dan muntah di pagi hari atau morning sickness cukup banyak dialami oleh ibu hamil. Namun, beberapa ibu hamil bisa mengalami morning sickness ekstrem, yang bahkan menyebabkan mual dan muntah parah selama kehamilan. Kondisi ini disebut hiperemesis gravidarum.
Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum akan mengalami mual selama berbulan-bulan kehamilannya, bahkan sampai menyebabkan kelelahan dan perlu mendapat perawatan berulang di rumah sakit. Tentunya, kesehatan fisik bisa jadi terganggu.
Tetapi, dampak dari hiperemesis gravidarum tidak berhenti sampai di situ saja, Moms. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam The Lancet Obstetrics, Gynaecology, and Women's Health mengungkap fakta lainnya. Tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kesehatan mental Anda, misalnya meninggalkan luka emosional yang berkepanjangan.
Motherly melansir, ibu hamil dengan kondisi ini bisa mengalami risiko depresi, gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD), dan gangguan kesehatan mental lainnya yang jauh lebih parah.

Hasil Penelitian Mengungkap Temuan Mengejutkan pada Ibu Hamil dengan Hiperemesis Gravidarum

Ilustrasi ibu hamil mual Foto: Shutterstock
Para peneliti melakukan analisis rekam medis hampir setengah juta perempuan di 18 negara. Hasil temuannya mengungkap fakta mengejutkan, antara lain:
Ingat! Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum selalu berusaha melawan rasa mual, dehidrasi, dan rawat inap jika dibutuhkan. Bagi yang mengalaminya, mungkin mereka akan merasa kehamilannya bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati, tetapi terasa berat bahkan menakutkan.
Sehingga, bila dirangkum, temuan ini bisa memperjelas bahwa hiperemesis gravidarum tidak boleh disepelekan, karena dapat mendorong gangguan emosional dan psikologis yang berkepanjangan. Dan selama fase ini, ibu memerlukan lebih banyak dukungan, dan bukan komentar-komentar yang menganggap kondisi tersebut adalah hal sepele.
Jadi, apa yang harus dilakukan ketika Anda mengalami kondisi tersebut?
1. Temui dokter atau psikolog yang bisa membantu gejala fisik dan emosional yang dirasakan. Bahkan, bila perlu, mendapat skrining kesehatan mental untuk mengetahui tanda-tanda depresi, kecemasan, atau PTSD.
2. Carilah bantuan konkret, seperti meminta tolong orang yang bisa dipercaya untuk membantu mengasuh anak.
3. Rutin memeriksakan diri bahkan sampai setelah melahirkan, agar risiko gangguan mental dapat diminimalisir.
Trending Now