Nutrisi Anak di Tempat Penampungan Bencana: Apa yang Perlu Diperhatikan?

4 Desember 2025 14:03 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nutrisi Anak di Tempat Penampungan Bencana: Apa yang Perlu Diperhatikan?
Dalam situasi bencana seperti banjir dan longsor, pemenuhan nutrisi anak di tempat penampungan jadi tantangan.
kumparanMOM
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengunjungi anak-anak di posko pengungsi korban banjir Sumatera. Foto: Dok. Humas Komdidigi
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengunjungi anak-anak di posko pengungsi korban banjir Sumatera. Foto: Dok. Humas Komdidigi
Sejak akhir November 2025, banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di tengah situasi darurat ini, IDAI bergerak cepat memberi layanan kesehatan bagi anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.
Namun, dalam situasi bencana, pemenuhan kebutuhan dasar anak termasuk asupan nutrisi, sering kali menjadi tantangan besar. Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, dr Kurniawan Taufiq Kadafi, M. Biomed, Sp.A, Subsp.E.T.I.A(K), menekankan bahwa pemilihan makanan untuk anak di lokasi bencana tidak bisa disamakan dengan kondisi normal.

Ini Cara Memilih Asupan Aman untuk Anak di Pengungsian

Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, dr Kurniawan Taufiq Kadafi, M. Biomed, Sp.A, Subsp.E.T.I.A(K), dalam webinar IDAI, Senin (1/12/2025). Foto: Dok. Istimewa
Menurutnya, prinsip utama dalam memberikan bantuan makanan adalah memastikan bahwa makanan tersebut dapat diolah dengan optimal dan tidak menimbulkan masalah baru.
β€œSecara prinsip, ketika kita akan memberikan bantuan berupa makanan, harus berpikir apakah makanan ini akan terolah dengan optimal, atau justru akan menimbulkan masalah setelahnya,” ucap dr.Kadafi dalam webinar bersama IDAI, Senin (1/12).

Tantangan Pengolahan Makanan di Lokasi Bencana

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengunjungi anak-anak di posko pengungsi korban banjir Sumatera. Foto: Dok. Humas Komdidigi
dr. Kurniawan memberi contoh tentang makanan kering yang memerlukan air bersih untuk diolah. Dalam kondisi biasa, hal ini tidak menjadi masalah. Namun, di daerah bencana akses air bersih sering terbatas. Akibatnya, makanan yang seharusnya dimasak justru dimakan langsung.
β€œSaya sering lihat, kalau bawa mi instan ke sana, yang terjadi dikremes sama anak-anak, malah dimakan langsung. Yang kita tidak tahu cuci tangan juga tidak, dan lain sebagainya,” katanya.
Prajurit TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Yonif 122/Tombak Sakti (TS) Kodam I/BB menyalurkan bantuan logistik di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (2/12/2025). Foto: Dok. Puspen TNI
Kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan gangguan pencernaan. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pemberi bantuan perlu mempertimbangkan proses pengolahan makanan sejak awal. Makanan yang paling ideal adalah makanan siap saji yang aman dikonsumsi tanpa perlu dimasak serta memiliki daya simpan panjang.
Sementara untuk bayi berusia di bawah satu tahun, terutama yang masih menyusu, Satgas Bencana IDAI bersama Satgas ASI, telah menetapkan pedoman khusus melalui buku Panduan Penanggulangan Bencana. Sebab, pemberian makan pada kelompok usia ini tidak boleh sembarangan dan harus memprioritaskan keberlanjutan menyusui serta keamanan pangan.
Trending Now