Pentingnya Kenalkan Tekstur Makanan pada Anak untuk Cegah GTM

18 Desember 2025 14:10 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pentingnya Kenalkan Tekstur Makanan pada Anak untuk Cegah GTM
Pengenalan berbagai tekstur makanan sejak dini merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak.
kumparanMOM
Pentingnya Membangun Rasa Aman Anak Lewat Pengenalan Tekstur Makanan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Pentingnya Membangun Rasa Aman Anak Lewat Pengenalan Tekstur Makanan. Foto: Shutterstock
Tak sedikit orang tua menghadapi tantangan saat anak mulai menolak makanan atau enggan mencoba tekstur baru. Padahal, di usia dini anak sedang berada pada fase penting dalam mengenal makanan melalui seluruh panca indra.
Dokter sekaligus konsultan laktasi, dr. Ayudya Soemawinata, BMedSc (Hons), IBCLC, menjelaskan bahwa fase oral pada anak berlangsung hingga usia sekitar tiga tahun. Pada fase ini, mulut menjadi pusat rasa nyaman dan aman bagi anak.
Namun, sebelum anak berani memasukkan sesuatu ke dalam mulut, ia perlu merasa aman terlebih dahulu melalui indera lain, terutama indera peraba.
Dokter, Konsultan Laktasi, dr. Ayudya Soemawinata, BMedSc (Hons), IBCLC Foto: kumparan/Eka Nurjanah
β€œJadi kalau misalkan dari awal pegang aja dia jijik, dia nggak akan mau untuk masukin ke mulut dia. dia nggak nyaman rasanya di lidahnya di gusinya.
Makanya penting untuk kenalin dari awal,” ucap dr. Ayudya dalam acara Grand Opening Play At Sora di Jakarta Selatan, Minggu (14/12).

Pentingnya Mengenalkan Berbagai Tekstur Makanan Sejak Dini pada Anak

Oleh karena itu, mengenalkan makanan sejak dini tidak cukup hanya soal memegang benda yang lembek. Anak justru perlu diperkenalkan dengan berbagai macam tekstur secara bertahap.
Ilustrasi Anak Menyuapi Bayi Makan. Foto: Shutterstock
Salah satu contoh yang baik untuk stimulasi sensorik adalah buah markisa. Anak biasanya akan melalui banyak tahap, mulai dari melihat, menyentuh kulitnya, memegang bagian dalamnya, hingga akhirnya berani memasukkannya ke mulut.
β€œBiasanya dia akan pegang-pegang dulu. Kalau dia udah ngerasa aman dia masukin. lama-lama cuma mau jilat-jilat, lama-lama dia mulai gigit. Itu tuh kalau di markisa, dari mulai lembeknya sampai ke bijinya, semua kan bisa dimakan,” imbuhnya.
Ilustrasi Markisa Foto: Shutterstock/Lukas Gojda
Menurut dr. Ayudya, orang tua tidak perlu repot menyiapkan stimulasi khusus di rumah. Aktivitas sehari-hari di dapur justru bisa menjadi sarana sensorik yang sangat baik. Misalnya saat memasak sayur sop, anak bisa diajak memegang kentang, kulit kentang, atau bahan lain yang sedang disiapkan.
Seiring bertambahnya usia, anak juga bisa dilibatkan dalam aktivitas sederhana seperti memecahkan telur. Intinya, anak dibiasakan melihat dan menyentuh bahan makanan dalam kondisi mentah maupun matang, mengenal berbagai tekstur, serta mencium beragam aroma.
Ilustrasi bayi makan. Foto: Shutterstock
β€œSupaya dia nggak kayak baru nyium aja udah enek karena nggak biasa,” katanya.
Dengan begitu, anak tidak mudah merasa mual atau menolak makanan hanya karena belum terbiasa dengan bau atau tekstur tertentu. Jadi, pengenalan sensori sejak dini bisa menjadi fondasi penting dalam proses makan dan perkembangan oral anak ke depannya, Moms.
Trending Now