Populasi Lansia RI Makin Meningkat, Kesehatan Perlu Jadi Perhatian Pemerintah

30 Mei 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Populasi Lansia RI Makin Meningkat, Kesehatan Perlu Jadi Perhatian Pemerintah
Kesehatan lansia dinilai perlu menjadi fokus pemerintah dan stakeholder lain, mengingat populasi lansia diproyeksi akan semakin bertambah.
kumparanMOM
Restoractive Fest 2025 bersama Nestle Boost Optimum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Restoractive Fest 2025 bersama Nestle Boost Optimum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Indonesia telah memasuki fase struktur penduduk tua sejak tahun 2021, di mana 1 dari 10 penduduk adalah lansia, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Pembina PP PERGEMI (Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia), Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M.Epid, FINASIM, diperkirakan populasi lansia berada di angka 12 persen atau lebih dari 30 juta penduduk Indonesia.
Mengingat angka populasi lansia RI yang diperkirakan akan semakin bertambah, wanita yang akrab disapa Prof Ati itu mengungkapkan pentingnya kesehatan lansia menjadi isu yang tidak boleh terlewatkan.
"Kita tahu bahwa sebagian lansia itu menghadapi problem-problem kesehatan, penyakit-penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, jantung, stroke, dan sebagainya. Dan tidak jarang satu orang yang sama punya beberapa penyakit," ungkap Prof Ati dalam acara jumpa pers Restoractive Fest 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (28/5).
Selain itu, ia menyinggung soal masalah kesehatan lain pada lansia, yakni malnutrisi. Menurut Prof Ati, ketika lansia mengalami kekurangan nutrisi, makan membuat tubuh mereka lebih rentan terhadap berbagai macam penyakit, yang akhirnya bisa menurunkan daya tahan tubuhnya. Bila lansia mendapat kecukupan nutrisi, maka tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga mental dan kognitif.
Restoractive Fest 2025 bersama Nestle Boost Optimum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Tantangan dari sisi kesehatan lansia juga menjadi sorotan pemerintah. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menyebut pada tahun 2021, angka harapan hidup penduduk Indonesia meningkat 71,57 persen. Akan tetapi, angka harapan hidup sehat hanya 60,7 tahun.
"Artinya, rata-rata lansia menjalani 11 tahun kehidupannya dalam kondisi sakit. Seiring bertambahnya usia, lansia menghadapi masalah kesehatan kronis dan penurunan fungsi fisik. Kondisi ini menurunkan kualitas hidup lansia, dan jika tidak diatasi, akan semakin meningkatkan beban keluarga dan sistem kesehatan nasional," ungkap Woro.
Ia menyayangkan semakin bertambah usia, kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada lansia semakin menurun, sehingga menurunkan juga proteksi pada kesehatannya.
"Jadi kalau kita lihat memang JKN untuk lansia itu membebani 24 persen JKN nasional. Upaya atau program yang arahnya penyuluhan, intervensi medis, kemudian akses pada gizi seimbang itu harus terus kita dorong," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Asisten Deputi Kesejahteraan Lanjut Usia dan Penyandang Disabilitas Kemenko PMK, Ricky Radius Siregar, menjelaskan alasan mengapa lansia dianggap sebagai kelompok rentan, yaitu karena sudah tidak produktif secara ekonomi, mengalami masalah kesehatan fisik dan mental, dan kebutuhan pendampingan baik karena disabilitas atau bedridden (sehari-hari hanya terbaring di tempat tidur).
Maka dari itu, Ricky menyampaikan beberapa upaya pemerintah untuk mendorong usia harapan hidup sehat para lansia bisa meningkat. Menurutnya, pemerintah fokus pada pencegahan berbagai macam penyakit hingga manajemen risiko penyakit kronis, sehingga memungkinkan para lansia tidak membutuhkan perawatan jangka panjang.
Kemudian adanya akses pada jaminan sosial, terutama bagi mereka yang merupakan pekerjaan informal dianggap belum memiliki jaminan khusus saat sudah pensiun.
Restoractive Fest 2025 bersama Nestle Boost Optimum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
"Dan ketiga, kita juga lagi concern terhadap perawatan jangka panjang atau caregiver. Bagaimana harmonisasi perawatan mandiri dari dukungan keluarga dan perawatan formal. Dan terakhir, paradigma saat ini bahwa lansia adalah beban pasif itu harus kita ubah, dengan fasilitasi kebijakan dan program-program dari seluruh pemangku kepentingan bahwa lansia itu bisa aktif dan produktif," jelas Ricky.
Sementara dari sisi kesehatan mental, Woro menyebut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat sebanyak 14 persen lansia berusia 60 tahun ke atas hidup dengan gangguan mental, seperti depresi dan kecemasan. Belum lagi lansia yang tidak tinggal bersama dengan anak-anaknya yang sudah berkeluarga, tidak sedikit juga mereka merasa kesepian.
"Jadi memang perlu program berbasis komunitas, support group, jadi ada kegiatan yang dilakukan. Kegiatan kerohanian, kelas kerajinan, jadi kegiatan-kegiatan sosial yang memang dibutuhkan oleh lansia supaya mereka tidak merasa sendiri," kata Woro.
Woro meyakini bila intervensi sudah dilakukan sedari para lansia masih sehat, maka diharapkan beban pemerintah khususnya JKN bisa berkurang. Intervensi tersebut bisa diupayakan dari tingkatan terkecil, yaitu keluarga, agar memastikan lansia mendapat asupan gizi yang layak, pemeriksaan kesehatan rutin, dan kesempatan berinteraksi di tingkat komunitas mereka.

Upaya Nestlé Boost Optimum Bantu Lansia di Indonesia Makin Sehat dan Produktif

Restoractive Fest 2025 bersama Nestle Boost Optimum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/5). Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup lansia tentu tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Apalagi, dalam beberapa tahun ke depan, jumlah populasi lansia di Indonesia diperkirakan akan meningkat dua kali lipat.
"Data BPS tahun 2023 menyebut 1 dari 10 orang Indonesia saat ini adalah lansia. Dan hal ini diperkirakan akan meningkat seiring waktu sampai tahun 2045 sebanyak dua kali lipat. Artinya, populasi lansia semakin meningkat, sehingga kesehatan lansia menjadi isu yang krusial bagi pemerintah untuk terus selalu difokuskan," tutur Business Executive Officer Nestlé Health Science, Erfin Suraida.
Maka dari itu, dalam rangka merayakan hari lanjut usia nasional yang jatuh setiap tanggal 29 Mei, Nestlé Boost Optimum melalui program Bakti Sepanjang Usia membangun komunitas peduli lansia. Program ini sendiri menjadi bentuk kepedulian terhadap lansia agar bisa hidup lebih aktif dan sehat.
Komunitas peduli lansia ini merupakan kerja sama Nestlé dengan Kemenko PMK, PP PERGEMI, hingga puskesmas. Dengan adanya penguatan komunitas bagi para lansia, diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup lansia di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Trending Now