Seks dengan Metode Babydust, Benarkah Bisa Tentukan Jenis Kelamin Bayi?

13 Oktober 2022 20:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seks dengan Metode Babydust, Benarkah Bisa Tentukan Jenis Kelamin Bayi?
Penjelasan tentang berhubungan seks dengan metode babydust yang disebut bisa membuat wanita hamil dengan jenis kelamin bayi yang diinginkan.
kumparanMOM
Seks dengan Metode Babydust, Benarkah Bisa Tentukan Jenis Kelamin Bayi? Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Seks dengan Metode Babydust, Benarkah Bisa Tentukan Jenis Kelamin Bayi? Foto: Shutter Stock
Saat merencanakan kehamilan, beberapa pasangan mungkin sudah punya harapan bayinya akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Pastinya, ada alasan tersendiri kenapa mereka menginginkan kehadiran anak laki-laki atau perempuan dalam keluarganya. Bila ingin mencoba mempunyai bayi berjenis kelamin tertentu, rupanya ada metode seks yang perlu dipahami yakni babydust.
Metode babydust dikemukakan oleh ahli mikrobiologi Kathryn Taylor dalam bukunya yang berjudul "The Babydust Method: A Guide to Conceiving a Girl or a Boy". Metode ini mengklaim bahwa pasangan dapat memilih jenis kelamin bayi dengan mengatur waktu hubungan seksual dengan benar. Tentunya, hal ini menarik perhatian para pasangan yang ingin memiliki bayi berjenis kelamin tertentu.
Taylor berusaha meneliti sendiri metode yang dicetuskannya setelah membaca beberapa metode lain, seperti misalnya Shettles, yang juga fokus pada pengaturan waktu berhubungan seksual. Lantas, seperti apa metode babydust dan bagaimana melakukannya?

Berhubungan Seks dengan Metode Babydust, Apa Maksudnya?

Ilustrasi Ovulasi. Foto: Shutter Stock
Dilansir Very Well Family, metode Babydust bekerja dengan meminta wanita memetakan hormon luteinizing-nya --atau hormon yang memicu ovulasi dua kali sehari selama setidaknya 12 minggu sebelum mencoba hamil. Hormon-hormon tersebut kemudian dipetakan menggunakan alat ovulasi metode Babydust.
Untuk menentukan hari ovulasi, Anda disarankan untuk mengambil tas ovulasi dengan menggunakan urine, lalu kemudian mengukur hormon luteinizing-nya. Jika menginginkan anak laki-laki, maka cobalah untuk tunggu sampai garis tesnya menjadi lebih gelap.
Sederhananya, metode ini mengatur pasangan berhubungan seks 2-3 hari sebelum ovulasi akan menghasilkan anak perempuan. Sedangkan berhubungan seks sedekat mungkin dengan masa ovulasi akan menghasilkan anak laki-laki. Sebagai tambahan, bila ingin anak laki-laki, maka Anda tetap perlu berhubungan seks tepat pada hari ovulasi, sehingga sperma laki-laki mendapatkan kesempatan untuk mencapai sel telurnya. Setelah bercinta di hari ovulasi, lakukan seks lagi dalam kurun waktu 24 jam kemudian.
Untuk memahami cara kerjanya, mari pahami tentang bagaimana bayi mendapatkan jenis kelamin biologisnya. Saat pembuahan, ada sel telur yang selalu mengandung kromosom X. Di sisi lain, ada juga puluhan juta sperma yang masing-masing memiliki kromosom X atau kromosom Y. Jika sperma yang membuahi sel telur memiliki kromosom X, maka kemungkinan besar anak yang akan lahir adalah perempuan. Dan apabila sperma yang membuahi sel telur memiliki kromosom Y, maka kemungkinan besar bayi yang lahir berjenis kelamin laki-laki.
"Penelitian menunjukkan bahwa sperma pria (Y) matang lebih dahulu kemudian mati. Baru kemudian sperma wanita (X) matang dan mati. Jadi, berhubungan seks sebelum ovulasi memungkinkan sperma matang dan mati sebelum sel telur dilepaskan, meninggalkan sebagian besar sperma untuk bayi perempuan matang lalu membuahi sel telurnya," ungkap Taylor.

Namun, Benarkah Seks dengan Metode Babydust Efektif?

Ilustrasi berhubungan seks. Foto: Getty Images
Beberapa pasangan yang mencoba metode ini mengaku kepada Taylor bahwa tidak mudah dilakukan. Tetapi, ia mengklaim tingkat keberhasilannya masih cukup tinggi.
"Saya akan mengatakan kami berada di tingkat keberhasilan 87 persen. Tapi kami belum melakukan uji klinis, jadi mungkin sulit untuk diukur," jelas Taylor seperti dikutip dari Cosmopolitan.
Meski begitu, beberapa komunitas dan ahli medis meragukan metode tersebut, Moms. Dokter kandungan di Northwestern Feinberg School of Medicine Chicago, Sam Rahman, MD, menilai cara tersebut pun masih terbilang 50/50 dan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan baik bayi laki-laki atau perempuan.
"Menurut bukti terbaik kami dalam literatur medis, metode ini hanya memberikan Anda peluang 50/50. Anda memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan anak laki-laki atau perempuan, seperti yang Anda lakukan jika berhubungan seks pada hari-hari masa subur," ujar Rahman.
Menurutnya, satu-satunya cara yang cukup efektif untuk memilih jenis kelamin bayi adalah dengan teknik invasif, seperti fertilisasi in vitro (IVF). Saat menjalani proses implantasi embrio dengan IVF, embrio akan diuji diagnosis genetik potensial dan jenis kelamin bayinya.
Trending Now