Studi: Suami Bersikap Positif Turunkan Risiko Istri Melahirkan Prematur

15 November 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Studi: Suami Bersikap Positif Turunkan Risiko Istri Melahirkan Prematur
Studi mengungkap ibu hamil lebih kecil kemungkinannya melahirkan prematur jika suaminya memiliki sikap positif.
kumparanMOM
Ilustrasi Suami Temani Istri Lakukan Yoga Hamil. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Suami Temani Istri Lakukan Yoga Hamil. Foto: Shutterstock
Setiap ibu hamil menginginkan proses persalinan yang terbaik untuk diri mereka dan bayi di dalam kandungan. Meski begitu, tidak sedikit ibu yang pada akhirnya harus menghadapi kelahiran prematur, atau bayi lahir sebelum 37 minggu kehamilan, karena berbagai penyebab.
Bayi lahir prematur lebih berisiko mengalami masalah kesehatan seumur hidupnya. Namun, kelahiran prematur pun juga tidak sepenuhnya dapat dicegah.
Tetapi, ada kabar baik bila Anda ingin mencegah hal ini terjadi, Moms. Penelitian terbaru menemukan bahwa sikap positif suami —mulai dari rasa percaya diri hingga ketahanan emosional— dapat berperan penting dalam menurunkan risiko kelahiran prematur pada pasangan yang sedang hamil.

Studi tentang Sikap Positif Suami terhadap Kehamilan Istrinya

Dikutip dari New York Post, studi ini menunjukkan kondisi emosional pasangan dapat memengaruhi kesehatan ibu dan usia kehamilan.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Biopsychosocial Science and Medicine oleh Universitas California, Merced, itu melibatkan lebih dari 200 pasangan hamil. Para peneliti menemukan ayah yang memiliki ketahanan psikologis dan harga diri tinggi cenderung memiliki pasangan dengan tingkat peradangan tubuh lebih rendah selama kehamilan.
Temuan tersebut diperoleh melalui analisis sampel darah ibu hamil, yang diukur menggunakan protein C-reaktif atau penanda peradangan yang telah lama dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur.
Selain itu, kedua orang tua diminta menilai tingkat harga diri, dukungan emosional yang diterima, serta kepercayaan diri mereka. Hasilnya, calon ayah yang merasa lebih didukung secara sosial berkontribusi pada kadar peradangan yang lebih rendah pada ibu, sehingga peluang kehamilan berlangsung lebih lama dan lebih sehat meningkat.
Ilustrasi Suami Memegang Perut Istrinya yang Hamil Besar. Foto: Shutterstock
Sebaliknya, perempuan yang tidak tinggal bersama pasangan atau tidak mendapatkan dukungan emosional memadai tercatat memiliki penanda peradangan lebih tinggi dan kehamilan yang lebih pendek.
Salah satu penulis studi, Jennifer Hahn-Holbrook, menyebut temuan ini sebagai bukti awal bahwa kekuatan mental seorang ayah, termasuk optimisme dan kemampuan menghadapi tantangan, bisa berdampak biologis pada keluarga.
“Ini adalah salah satu studi pertama yang menunjukkan bahwa kekuatan batin seorang ayah dapat memengaruhi keluarga secara biologis,” ujar Hahn-Holbrook dalam keterangan resminya.
Hubungan sosial yang kuat sebelumnya juga dikaitkan dengan kehamilan yang lebih sehat. Perempuan yang mengalami kecemasan dan depresi lebih rendah selama kehamilan umumnya memiliki pasangan yang mendukung.
Menurut Hahn-Holbrook, sikap positif calon ayah dapat menciptakan lingkungan rumah yang lebih sehat bagi ibu dan bayi.
“Ayah yang percaya diri dan merasa didukung cenderung melakukan perilaku sehari-hari yang lebih positif, seperti memasak makanan sehat, memberikan dorongan, dan mengurangi stres di rumah,” kata Hahn-Holbrook.
“Hubungan emosional juga mungkin berperan, karena pasangan cenderung mengatur suasana hati dan bahkan sistem kekebalan tubuh mereka," pungkas dia.
Trending Now