Survei: Orang Tua Bisa Berkata 'Hati-hati' ke Anak hingga 27 Kali Sehari
7 November 2025 13:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Survei: Orang Tua Bisa Berkata 'Hati-hati' ke Anak hingga 27 Kali Sehari
Rasa ingin tahu pada anak itu penting dan perlu difasilitasi. Di sisi lain, keingintahuan tersebut membuat orang tua bisa berkali-kali memberi peringatan dalam sehari.kumparanMOM

Orang tua sering berkata bahwa rasa ingin tahu itu penting. Tidak mengherankan ketika anak balita kita mungkin dengan cepatnya akan memegang serangga yang lewat di depannya, atau mencoba untuk memainkan peralatan masak di dapur.
Motherly melansir, survei terhadap 2.000 orang tua dengan anak usia 0โ6 tahun yang dilakukan oleh Talker Research atas nama Lightbridge Academy menemukan hal yang mungkin sudah sering kita lihat di rumah: anak-anak zaman sekarang selalu penasaran oleh dunia di sekitar mereka.
Tapi, di saat yang sama, rasa ingin tahu anak juga kerap membuat orang tua akhirnya mengucapkan 'hati-hati' sebanyak 27 kali dalam sehari, menurut sebuah penelitian.
Ya Moms, meskipun 91 persen orang tua mengakui pentingnya mendorong rasa ingin tahu alami anak, mereka juga mengatakan โHati-hati!โ rata-rata 27 kali sehari. Dan juga, sekitar 25 kali berucap โJangan sentuh itu!โ. Intinya, terucap kata-kata peringatan lainnya, Moms.
Penelitian juga menemukan, orang tua rata-rata bisa menjawab 46 pertanyaan per hari. Dan menariknya, mereka tak punya jawaban untuk sekitar 35 persen pertanyaan yang diajukan anak-anaknya.
Pertanyaannya pun sering tak terduga:
โBerapa lama kuda nil bisa berlari lebih cepat daripada gajah?โ
โKe mana mimpi pergi ketika kita bangun?โ
โGimana kalau kita semua cuma manusia LEGO kecil dan ada orang di langit yang mainin kita?โ
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah yang bisa dijawab dengan cepat. Makanya, survei tersebut menemukan sebagian besar orang tua (52 persen) mengaku kebingungan dari mana pertanyaan-pertanyaan itu datang. Sementara 42 persen lainnya memilih mencari jawabannya bersama anak, dan 27 persen melakukan riset sendiri setelahnya.
Namun, penelitian menemukan hal menarik: hanya 34 persen peringatan 'hati-hati' benar-benar terkait dengan bahaya nyata. Bagi 45 persen orang tua, ucapan itu hanyalah reaksi spontan atau keluar begitu saja, bahkan sebelum mereka sempat memproses apa yang sedang terjadi.
Refleks ini mencerminkan gaya pengasuhan masa kini. Di satu sisi, orang tua berusaha hadir dan mendukung setiap minat anak, menyediakan sumber daya, dan memberi perhatian penuh. Namun, di sisi lain, kita juga sering tak memberi mereka cukup ruang untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan belajar dari konsekuensinya.
Generasi sebelumnya jauh lebih lepas tangan: anak-anak dibiarkan bermain, jatuh, dan belajar dari pengalaman. Sekarang, anak-anak justru lebih sering memainkan gawai mereka daripada berpetualang langsung di dunia nyata. Maka, refleks berucap 'hati-hati' itu mungkin lahir dari kasih sayang, tapi tanpa sadar bisa membatasi eksplorasi yang sebenarnya ingin kita dorong.
Bagaimana Membuat Anak Aman dan Bebas Bereksplorasi?
Para ahli dari Lightbridge Academy --sebuah pusat pendidikan anak usia dini di Amerika Serikat-- menekankan pentingnya keseimbangan. Orang tua perlu membantu anak membangun kebiasaan aman, tapi juga memupuk rasa ingin tahu dan ketahanan yang akan bermanfaat seumur hidup.
Tujuannya adalah mengganti ucapan โkarena dulu orang tua ayah atau ibu berkata seperti ituโ dengan penjelasan yang membantu anak memahami sebab dan akibat.
Bahkan, survei mereka menemukan 77 persen orang tua merasa anak mereka jauh lebih penasaran dibanding saat mereka kecil dulu. Dan menariknya, tiga perempat orang tua melaporkan reaksi positif dari anak-anak mereka. Hal ini menandakan perubahan pendekatan tersebut benar-benar membawa hasil baik.
