Tanya Jawab Seputar Melahirkan di Tengah Pandemi Corona

4 April 2020 17:02 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanya Jawab Seputar Melahirkan di Tengah Pandemi Corona
Moms, bila Anda dipenuhi tanya seputar melahirkan yang sebentar lagi akan dijalani, coba simak dulu penjelasannya di sini. #kumparanMOM
kumparanMOM
Ilustrasi ibu melahirkan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu melahirkan. Foto: Shutter Stock
Di tengah pandemi virus corona seperti sekarang, maka membuat masyarakat jadi berpikir tak terkecuali ibu hamil yang sebentar lagi akan melahirkan. Misalnya mulai dari pendamping persalinannya nanti bagaimana, soal prioritas Anda dibanding pasien positif corona, hingga belum lagi bila skenario terburuknya, Anda juga positif COVID-19. Apakah tetap bisa IMD (Inisiasi Menyusu Dini), menyusui, dan sebagainya?
Memang, dalam kondisi normal saja, melahirkan merupakan pengalaman luar biasa bagi orang tua baru. Namun, jika Anda harus melahirkan di tengah wabah corona, hal ini tentu bisa cukup menegangkan. Tenangkan diri serta perbanyak informasi bermanfaat untuk meredam rasa khawatir Anda, Moms.
Dilansir Badan Kesehatan Dunia WHO dan berbagai sumber, berikut kumparanMOM telah merangkumnya bagi Anda:
Ilustrasi suami menemani istri bersalin. Foto: Shutterstock

1. Apakah pasangan saya diizinkan untuk mendampingi persalinan di rumah sakit?

Dikutip dari Todays Parent, sebagian besar rumah sakit umumnya hanya akan mengizinkan satu pendamping saat Anda akan melahirkan. Sementara beberapa rumah sakit di New York, Spanyol, Italia, dan Jerman telah melarang semua pengunjung atau pendamping berada di ruang bersalin --termasuk pasangan Anda, Moms.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Nisa Fathoni, SpOG, IBCLC., sekaligus konsultan menyusui dalam Highlight di Instagram pribadinya mengatakan bahwa sebagian besar RS telah membuat kebijakan, bahwa pendamping Anda selama melahirkan akan dibatasi. Sebab, hal ini untuk mencegah penyebaran corona. Karenanya, cobalah mencari tahu di tempat Anda bersalin. Setelahnya, pastikan dipatuhi demi kebaikan bersama.
Ilustrasi Doula. Foto: Shutter stock

2. Bagaimana dengan pengunjung, yakni anak saya yang lebih tua atau doula saya?

Sebagian besar fasilitas kesehatan tidak mengizinkan lebih dari satu pengunjung di ruang bersalin, termasuk doula dan anak-anak lainnya. Selain itu, hal ini mungkin akan sangat sulit bagi Anda, ketika nenek atau kakek sang buah hati Anda ingin melihat cucunya yang baru lahir itu.
Ya, mereka disarankan untuk tidak dekat dengan Anda atau si kecil sementara waktu karena mempunyai risiko yang lebih tinggi terpapar virus corona. Anda bisa menyampaikan hal ini secara sopan dan lembut, agar kakek-neneknya si kecil dapat mengerti dan secara sukarela melakukannya.

3. Apakah persalinan saya dianggap sebagai prioritas lebih rendah dibanding pasien positif virus corona?

Tidak sama sekali, Moms. Ibu hamil harus yakin bahwa persalinan akan tetap menjadi prioritas sepanjang pandemi ini. dr. Nisa kembali menjelaskan, jika memang hari perkiraan si kecil sudah tiba atau Anda mengalami pecah ketuban, Anda tetap bisa datang ke rumah sakit untuk melahirkan.
Ilustrasi ibu yang baru melahirkan. Foto: Shutterstock

4. Apakah bayi saya akan terpisah dari saya setelah melahirkan, jika saya menderita COVID-19?

Ibu yang terkena virus corona dianjurkan untuk tetap memberikan ASI kepada bayi mereka. Tetapi sebelumnya, ibu disarankan untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan corona seperti sering mencuci tangan, mandi sebelum skin to skin dengan bayi, dan menggunakan masker ketika menyusui si kecil
ibu dan bayi baru lahir di rumah sakit Foto: Shutterstock

5. Jika saya dan bayi baru lahir saya sama-sama sehat, apakah saya bisa keluar dari rumah sakit lebih cepat dari biasanya?

Kemungkinan besar ya, Moms. Protokol untuk keluar setelah melahirkan biasanya 48 jam (setelah operasi caesar) dan 24 jam (setelah melahirkan secara normal). Tetapi dalam keadaan seperti ini, sebagian besar rumah sakit akan berusaha membuat Anda pulang lebih cepat atau secepat kondisi medis dari masing-masing ibu jika memungkinkan.

6. Perawatan apa yang harus tersedia selama kehamilan dan persalinan?

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), semua ibu hamil, termasuk mereka yang terinfeksi atau dicurigai terkena COVID-19, memiliki hak untuk mendapatkan perawatan berkualitas tinggi sebelum, selama, dan setelah melahirkan. Hal ini termasuk antenatal, newborn, postnatal, intrapartum, dan perawatan kesehatan mental.
Pengalaman melahirkan yang aman dan positif pun meliputi:
-Diperlakukan dengan hormat dan bermartabat.
-Memiliki teman pilihan yang hadir saat melahirkan.
-Komunikasi yang jelas oleh staf bersalin.
-Strategi penghilang nyeri yang tepat.
-Mobilitas dalam persalinan jika memungkinkan dan posisi lahir pilihan.
Namun, jika Anda dicurigai terkena COVID-19, petugas kesehatan harus mengambil semua tindakan pencegahan yang sesuai untuk mengurangi risiko infeksi pada diri mereka sendiri maupun orang lain. Termasuk kebersihan tangan dan penggunaan pakaian pelindung yang tepat, seperti sarung tangan, baju tindakan operasi, dan masker medis.
Ilustrasi ibu hamil Foto: Shutterstock

7. Apakah ibu hamil yang dicurigai atau dikonfirmasi COVID-19 perlu melahirkan melalui operasi caesar?

Tidak. WHO telah menyarankan bahwa operasi (caesar) hanya boleh dilakukan ketika secara medis dibenarkan. Cara melahirkan pun harus individual dan didasarkan pada preferensi wanita bersama indikasi kebidanan.
ibu dan bayi baru lahir Foto: Shutterstock

8. Bisakah saya menyentuh dan menggendong bayi saya yang baru lahir jika saya menderita COVID-19?

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Jakarta Raya (POGI JAYA), dr. Ulul Albab, SpOG mengatakan bahwa bila ibu melahirkan dalam keadaan normal, inisasi menyusu dini (IMD) dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. Itu artinya itu dapat menyentuh dan menggendong bayinya secara lansung. Kontak yang dekat dan menyusui dini dan eksklusif membantu bayi untuk berkembang. Namun jangan lupa, untuk selalu cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi Anda, serta menjaga semua permukaan tetap bersih.
Meski begitu, bila ibu dinyatakan positif COVID-19, maka IMD sebaiknya tidak dilakukan. Hal itu, bertujuan untuk mencegah penularan virus corona dari ibu ke bayi. Sehingga, demi keselamatan bersama, ibu dan bayi harus dipisahkan sementara waktu, hingga ibu dinyatakan benar-benar sembuh.
Walau tidak bisa menyusui langsung hingga keadaan pulih, ibu tetap bisa memenuhi nutrisi bayi dengan memberinya ASI perah menggunakan botol, sendok, dan sebagainya.
**********
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
Trending Now