Veronica Tan Ungkap Alasan Perempuan Masih Mengabaikan Kesehatan Serviks
24 November 2025 15:30 WIB
·
waktu baca 2 menit
Veronica Tan Ungkap Alasan Perempuan Masih Mengabaikan Kesehatan Serviks
Partisipasi perempuan dalam vaksinasi HPV dan pemeriksaan serviks masih rendah meskipun layanan sudah tersedia.kumparanMOM

Meskipun program vaksinasi dan pemeriksaan serviks telah disediakan pemerintah, partisipasi perempuan dalam memanfaatkannya masih tergolong rendah. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menilai akar masalahnya bukan pada akses, melainkan pada kuatnya faktor budaya dan stigma yang mengekang perempuan.
Budaya dan Stigma Jadi Penghambat Utama Perempuan Mengakses Vaksin dan Pemeriksaan Kanker Serviks
Sikap “legowo” dan terbiasa menempatkan diri di urutan terakhir sering membuat perempuan mengabaikan kesehatan sendiri. Banyak perempuan merasa harus menerima keadaan apa adanya sehingga enggan memprioritaskan kesehatan diri. Akibatnya, upaya pencegahan seperti vaksin HPV dan screening serviks belum berjalan optimal di banyak daerah.
“Ketika program prioritas ada, akses dapat, vaksin ada, misalnya. Kok masyarakat gak mau ngelakuin? Pertama, faktor budaya. Faktor budaya ini harus dipahami banget. Perempuan itu merasa selalu punya stigma. Mereka itu, hidup itu ya, memang legowo. Terima aja,” tutur Veronica dalam acara Kelas Jurnalis 2025: Lawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era AI, di Jakarta Selatan, Senin (17/11).
Selain itu, stigma sosial terhadap perempuan yang sudah menikah juga turut menjadi penghalang. Pemeriksaan serviks dianggap menyentuh area tubuh yang tertutup, sehingga banyak perempuan merasa tidak nyaman atau takut dinilai negatif.
Dalam beberapa komunitas, menurut Veronica, norma agama tertentu juga dapat menimbulkan rasa malu atau keyakinan bahwa pemeriksaan tersebut “tidak boleh dilakukan”, meski tujuannya adalah untuk menyelamatkan nyawa.
Ibu 3 anak ini juga menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci untuk mengatasi hambatan ini. Ia mengajak masyarakat, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga komunitas untuk bersama-sama mendorong vaksinasi dan screening sebagai langkah melindungi perempuan.
“Ketika dikasih edukasi semacam apa pun, mereka juga tetap akan merasa, secara tidak semua, tapi kemungkinan faktor-faktor agama yang membuat rasa malu, rasa tidak boleh, itu terhambat. Jadi saya mengajak kita semua, mengedukasi untuk ayo gerakan vaksin,” tegas Veronica.
Perlu diketahui bahwa pap smear dan skrining serviks memang ditanggung BPJS Kesehatan, tetapi vaksin HPV belum ditanggung untuk masyarakat umum, sehingga harus dibayar mandiri.
Sedangkan vaksin HPV untuk yang diberikan melalui program imunisasi sekolah sudah ditanggung BPJS.
