123 Pelajar di Kebumen Keracunan MBG

26 September 2025 19:09 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
123 Pelajar di Kebumen Keracunan MBG
123 pelajar di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (25/9).
kumparanNEWS
Siswa SDN Slipi 15 menyantap makanan dari program makan gratis nasional di ruang kelas SDN Slipi 15, Jakarta Barat, Senin (6/1/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Siswa SDN Slipi 15 menyantap makanan dari program makan gratis nasional di ruang kelas SDN Slipi 15, Jakarta Barat, Senin (6/1/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
123 pelajar di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (25/9). Hingga Jumat (26/9), masih ada 35 anak yang dirawat inap.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelajar yang keracunan itu berasal dari beberapa sekolah tingkat SD, SMP, hingga pondok pesantren.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen, Iwan Danardono, mengatakan keracunan itu terjadi setelah para pelajar menyantap makanan MBG yang dihidangkan pada Kamis (25/9). Gejala keracunan muncul pada malam harinya.
โ€œPaling banyak (siswa) dari tingkat SMP, ada juga pondok pesantren. Karena ada sekitar tiga sekolah terinfo ke kami, yang alami gejala 123 anak, dirawat 35 anak,โ€ kata Iwan, Jumat (26/9).
Ratusan siswa itu mengalami gejala keracunan seperti muntah, pusing, mual, hingga diare setelah menyantap menu MBG berupa soto.
โ€œMakanan yang disajikan soto. Mungkin (keracunan) bisa jadi dari sayur, ayam, air, atau apa yang terkontaminasi bakteri,โ€ jelasnya.
Pihaknya sudah mengirimkan sampel makanan MBG yang diduga bermasalah ke laboratorium untuk diperiksa. Ia juga berharap ada evaluasi prosedur dan standar operasional pekerja (SOP) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kebumen agar peristiwa ini tidak terulang.
โ€œHarapannya kebersihan ditingkatkan, laksanakan sesuai prosedur yang telah ditetapkan BGN (Badan Gizi Nasional). Karena kami hanya bisa pantau secara berkala, tidak bisa rutin,โ€ kata Iwan.
Trending Now