274 Jurnalis Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Sejak Serangan 7 Oktober 2023

12 Agustus 2025 11:19 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
274 Jurnalis Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Sejak Serangan 7 Oktober 2023
Kematian Anas Al-Sharif, Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Zaher, Mohammad Noufal, dan Moamen Aliwa, menambah panjang daftar jurnalis yang terbunuh saat meliput di Gaza sejak serangan 7 Oktober 2023.
kumparanNEWS
Jurnalis Anas Al-Sharif, saat melaporkan kondisi Gaza untuk televisi Al-Jazeera. Foto: X/@AnasAlSharif0
zoom-in-whitePerbesar
Jurnalis Anas Al-Sharif, saat melaporkan kondisi Gaza untuk televisi Al-Jazeera. Foto: X/@AnasAlSharif0
Sebanyak lima jurnalis Al Jazeera tewas akibat serangan terarah Israel ke tenda tempat mereka bekerja di Gaza City pada Minggu (10/8) malam waktu setempat.
Kematian kelimanya menambah panjang daftar jurnalis yang terbunuh saat meliput di Gaza sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023.
Lantas ada berapa banyak jurnalis yang tewas akibat Israel di Gaza?
Mengutip Al Jazeera, Selasa (12/8), total 274 jurnalis dan pekerja media telah tewas akibat serangan Israel sejak perang dimulai--rata-rata 13 orang setiap bulan.
Sebagian besar korban adalah warga Palestina (269 orang), disusul tiga jurnalis Lebanon dan dua jurnalis Israel.
Jika dihitung sejak 2000 di seluruh wilayah Palestina, jumlah korban meningkat menjadi 317 orang. Data ini bersumber dari laman Shireen.ps, situs pemantauan yang dinamai dari jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, yang ditembak mati oleh pasukan Israel di Tepi Barat pada 2022.
Menurut situs tersebut, pada periode 2023–2024 Israel mencatatkan 845 pelanggaran terhadap pers di Palestina, yang terdiri dari pelanggaran fisik--termasuk penembakan, pemukulan, atau serangan mematikan--dan bentuk pelanggaran lain seperti intimidasi dan represi.
Rincian pelanggaran Israel terhadap pers sejak perang Gaza pecah:
2024: 28 pelanggaran fisik, 99 pelanggaran lainnya
2023: 250 pelanggaran fisik, 468 pelanggaran lainnya
Sedangkan jumlah jurnalis yang ditahan sejak 1993–2024: 44 orang
β€œPembunuhan bukanlah satu-satunya cara yang digunakan pendudukan untuk mengintimidasi para duta kebenaran di Palestina. Penangkapan, represi, dan penargetan fisik adalah metode lain yang terus digunakan pasukan pendudukan untuk membungkam suara Palestina serta menghalangi jurnalis, baik Palestina maupun asing, meliput peristiwa sehari-hari di Palestina,” tulis keterangan lama tersebut.
Penyebab tingginya korban ini beragam, mulai dari jurnalis yang terjebak di wilayah yang dibombardir Israel hingga mereka yang diduga menjadi target langsung.
Serangan Israel pada Minggu lalu, misalnya, menghantam tenda tempat lima jurnalis--Anas Al-Sharif (28), Mohammed Qreiqeh (33), Ibrahim Zaher (25), Mohammad Noufal (29), dan Moamen Aliwa (23)--Al Jazeera bekerja. Israel sengaja menyerang target non-militer ini dengan dalih salah satu korban, yakni Al-Sharif, sebagai anggota dari kelompok Hamas. Contoh lain, pada ada tanggal 24 Maret, Hossam Shabat (23), tewas dalam serangan Israel di bagian timur Beit Lahiya di Gaza utara.
Anas Al-Sharif, jurnalis terkemuka Al-Jazeera di Jalur Gaza, tewas dibom Israel, Agustus 2025. Foto: X/AnasAlSharif0

Kelima jurnalis tewas diserang drone Israel

Mengutip Al-Jazeera, kelima jurnalis mereka yang tewas akibat serangan drone yang diluncurkan tentara Israel.
Militer Israel mengeklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
"Anas Al Sharif menjabat sebagai kepala sel teroris di organisasi teroris Hamas dan bertanggung jawab atas serangan roket terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF," kata militer dalam sebuah pernyataan.
Al Jazeera pun membantah tuduhan tersebut, dan menyebut serangan itu adalah upaya putus asa untuk membungkam kebenaran di tengah rencana Israel yang ingin menguasai Gaza secara penuh.
"[Serangan Israel itu adalah] upaya putus asa untuk membungkam suara-suara di tengah rencana pendudukan Gaza," tulis Al Jazeera dalam keterangannya.
Trending Now