54 Pasangan di Gaza Menikah Massal, Simbol Kehidupan Baru di Tengah Perang
3 Desember 2025 14:59 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
54 Pasangan di Gaza Menikah Massal, Simbol Kehidupan Baru di Tengah Perang
54 pasangan menikah massal di Gaza, menjadi momen harapan setelah dua tahun kehancuran, kematian, dan konflik. kumparanNEWS

Eman Hassan Lawwa memakai gaun bercorak tradisional Palestina dan Hikmat Lawwa memakai setelan jas saat berjalan bergandengan tangan melewati reruntuhan bangunan di Gaza selatan, berbaris bersama pasangan lain yang memakai pakaian yang sama.
Mereka salah satu dari antara 54 pasangan yang menikah di acara pernikahan massal yang digelar pada Selasa (2/12). Pernikahan massal ini menjadi momen harapan yang langka setelah dua tahun kehancuran, kematian, dan konflik.
"Terlepas dari semua yang terjadi, kami akan memulai kehidupan baru," kata Hikmat Lawwa, dikutip dari AP, Rabu (3/12).
"Insyaallah, ini akan menjadi akhir dari perang," lanjutnya lagi.
Pernikahan merupakan bagian penting dari budaya Palestina yang langka terjadi di Gaza selama perang. Tradisi ini mulai kembali digaungkan setelah gencatan senjata, meski pernikahan itu berbeda dari upacara-upacara rumit yang pernah diadakan sebelumnya.
Sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza, termasuk Eman dan Hikmat Lawwa, harus mengungsi karena perang. Seluruh wilayah di kota rata dengan tanah, kekurangan bantuan, dan pecahnya konflik terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pasangan Eman dan Hikmat Lawwa yang merupakan kerabat jauh melarikan diri ke kota terdekat, Deir al-Balah, selama perang dan kesulitan mencari kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat berlindung. Mereka mengatakan tidak tahu bagaimana akan membangun kehidupan bersama mengingat situasi di sekitar mereka.
"Kami ingin bahagia seperti orang-orang lain di dunia. Saya pernah bermimpi memiliki rumah, pekerjaan, dan menjadi seperti orang lain. Sekarang mimpi saya adalah menemukan tenda untuk ditinggali," kata Hikmat Lawwa.
"Kehidupan mulai pulih, tetapi tidak seperti yang kami harapkan," lanjutnya.
Pernikahan massal ini dibiayai oleh Al Fares Al Shahim, sebuah operasi bantuan kemanusiaan yang didukung oleh Uni Emirat Arab. Selain menyelenggarakan pernikahan massal, organisasi itu juga menawarkan sejumlah uang dan perlengkapan lain kepada para pasangan untuk memulai hidup baru.
Bagi warga Palestina, pernikahan sering kali merupakan perayaan yang rumit dan berlangsung selama berhari-hari. Pernikahan dalam budaya Palestina dipandang sebagai pilihan sosial dan ekonomi yang penting yang menentukan masa depan bagi banyak keluarga.
Pernikahan Palestina biasanya diwarnai dengan tarian dan prosesi penuh suka cita di sepanjang jalan oleh keluarga besar dengan kain bermotif yang dikenakan oleh pasangan dan orang-orang terkasih mereka, serta makanan yang berlimpah.
Profesor sosiologi di Barnard College yang mempelajari pernikahan Palestina, Randa Serhan, mengatakan pernikahan juga menjadi simbol ketahanan dan perayaan generasi baru keluarga yang meneruskan tradisi Palestina.
"Setiap pernikahan baru akan lahir anak-anak dan itu berarti bahwa kenangan dan garis keturunan tidak akan mati. Para pasangan akan melanjutkan hidup dalam situasi yang mustahil," kata Serhan.
Iring-iringan mobil yang membawa para pasangan melewati reruntuhan bangunan. Hikmat Lawwa dan Eman mengibarkan bendera Palestina bersama pasangan lain, sementara para keluarga di sekitar mereka menari mengikuti alunan musik yang menggelegar di tengah kerumunan.
Pasangan Hikmat, Eman, mengatakan pernikahan ini memberikan sedikit kelegaan setelah penderitaan selama bertahun-tahun. Namun, pernikahan ini juga menandai kehilangan ayah, ibu, dan anggota keluarga lain yang tewas selama perang.
"Sulit untuk merasakan sukacita setelah duka semacam itu. Insyaallah kami akan membangun kembali pelan-pelan," kata Eman.
