โ Ada 6 Jalan Tan Malaka di RI: Kami Datangi yang di DKI, Tempat Madilog Ditulis

21 Agustus 2025 10:31 WIB
ยท
waktu baca 9 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
โ Ada 6 Jalan Tan Malaka di RI: Kami Datangi yang di DKI, Tempat Madilog Ditulis
Di Indonesia, ada enam jalan yang diberi nama Tan Malaka. Tepatnya di Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, dan DKI Jakarta.
kumparanNEWS
Tan Malaka Muda. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tan Malaka Muda. Foto: Istimewa
Di Indonesia, ada enam jalan yang diberi nama Tan Malaka. Tepatnya di Sumatera Barat, ada tiga jalan bernama Tan Malaka. Sementara di Sulawesi Tengah, ada satu jalan. Lalu di Jakarta, ada Gang Tan Malaka I dan Gang Malaka II yang lokasinya hanya seperlemparan batu di daerah Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan.
Data-data tersebut kami peroleh dari OpenSourceMap (OSM) Indonesia yang disimpan dengan format .osm.pbf. File itu lalu kami proses menggunakan library pyosmium via bahasa pemrograman Python untuk mengekstraksi data jalan.
Setelah itu, nama-nama jalan dinormalisasi dengan regular expression dan unicodedata, lalu dibandingkan dengan daftar 206 pahlawan nasional menggunakan metode string similarity dari difflib.SequenceMatcher.ratio(). Hasilnya, jumlah jalan bernama Tan Malaka memang tidak sebanyak Jalan Soedirman yang jumlahnya 310 maupun Kartini yang jumlahnya 269.
Nah, kumparan lalu menelusuri jejak sang pemikir di Gang Tan Malaka I dan Gang Tan Malaka II di Jakarta. Letaknya tidak jauh dari dua stasiun Commuter Line lintas Bogor-Jakarta Kota, Stasiun Duren Kalibata dan Stasiun Pasar Minggu Baru. Tan Malaka sempat singgah dan menulis buku Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang terkenal itu di sana.
Situasi Gang Tan Malaka I dan II, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
Sesampainya di sana, kami berada di bagian belakang gang, tepatnya dari Jalan Rawajati Timur. Jalan ini tidak terlalu ramai, saat itu cuaca gerimis. Lalu kami melewati Gang Kober, gang yang sedikit lebih besar dan letaknya tepat di depan Gang Malaka I.
Setelah berbelok di persimpangan pertama, kami hanya menemukan plang bertuliskan Gang Tan Malaka II.
Setelah menyusuri jalan sepanjang kira-kira 140 meter, kami menemukan plang bertuliskan Gang Tan Malaka I yang cukup mencolok, warnanya kuning terang. Gang Tan Malaka II juga ditandai dengan plang kuning serupa.
Gang Tan Malaka I dan II di Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
Sisi depan kedua gang tersebut langsung berhadapan dengan Jalan Rawajati Timur II. Di ujung kedua gang yang mengarah ke jalan ini ramai orang berjualan, suasananya mirip pasar.
Namun saat kami bertanya kepada pedagang di sekitar, tempat tersebut katanya bukan pasar, melainkan hanya tempat berjualan dengan banyak ruko-ruko dan pedagang kaki lima. Kawasan itu rupanya juga dikenal sebagai Pasar Kaget Rawajati.
Situasi Gang Tan Malaka I dan II, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
Hiruk pikuk memang terasa saat kami berada di ujung gang. Namun suasana di dalam kedua gang saat itu sedang hening, cuaca saat itu memang gerimis dan sejuk.
Hanya ada beberapa warga yang berlalu-lalang, ada yang berjalan kaki dan ada yang pakai motor. Gang ini kecil sehingga tidak bisa dilalui mobil, umumnya gang-gang kecil di Ibu Kota.
Situasi Gang Tan Malaka I dan II, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
Saat menyusuri Gang Tan Malaka I, kami bertemu dengan dua ibu-ibu yang sedang mengobrol di depan rumah, Kasminah dan Siti Masturoh. Kasminah warga lama, sudah tinggal di sana dari tahun 1968, atau sejak dirinya lahir. Sedangkan Siti sudah menetap di sana 35 tahun.
Keduanya mengaku, walaupun sudah puluhan tahun tinggal di sana, mereka tidak mengetahui secara detail sosok Tan Malaka maupun jejaknya di Gang kecil itu.
โ€œEnggak tahu,โ€ kata Siti kepada kumparan, Selasa (19/8).
Kasminah dan Siti Masturoh, warga Gang Tan Malaka I, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
Keduanya bilang, yang lebih paham soal jejak Tan Malaka itu orang-orang yang sudah lebih lama tinggal di sana, atau yang rumahnya lebih dekat dengan rumah persinggahan Tan Malaka.
Berpamitan dengan Kasminah dan Siti, kami lanjut menyusuri gang itu. Kami bertemu dengan Ketua RT 07 RW 02 Rawajati, Supryanto.

Ternyata Sejak 2010 Jadi Nama Gang

Supryanto rupanya tahu siapa Tan Malaka dan jejaknya di gang itu. Kata dia, saat itu Tan Malaka sedang dicari oleh pihak pemerintah. Bahkan, kata dia, pemerintah memeriksa rumah singgah sementara Tan Malaka yang letaknya di gang tersebut, rumah ketiga dari ujung belakang gang.
โ€œJadi dia itu singgah di sini. Dulu itu semacam kalau dulu itu sama aja kayak kos-kosan sih. Jadi dulu ini pekerja semua nih. Dulu di sini (banyak) pekerja, kemudian pedagang. Lalu si Tan Malaka sempat singgah di sini,โ€ terang Supryanto saat mengobrol dengan kumparan.
Supryanto, Ketua RT 07/RW 02 Rawajati, warga Gang Tan Malaka I, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
โ€œAda pemerintahan sama polisi atau pemerintahan Belanda atau Indonesia. Dia udah pergi duluan. Nah di kamarnya itu ditemukan catatan-catatan Tan Malaka,โ€ tambahnya.
Tan Malaka saat itu tidak menggunakan identitas asli. Pendiri Partai Murba itu menggunakan nama samaran dan pada akhirnya jejaknya di Rawajati terendus. Supryanto juga bercerita kalau dulu gang itu namanya hanya Gang Malaka, namun dipertegas menjadi Gang Tan Malaka sejak tahun 2010.
โ€œDulunya itu Gang Malaka. Karena kalau Tan Malaka kan terlalu mencolok. Karena kan ada yang bilang dia berbasis sayap kiri di pemerintahan kan. Mungkin juga dari pengaruh PKI di pemerintahan. Dan memang tidak boleh dari pihak kelurahan,โ€ terangnya.
Penggalian kembali jejak Tan Malaka di Rawajati tidak terlepas dari upaya Sejarawan Belanda, Harry Poeze. Supryanto menyebut, Poeze sempat berbincang langsung dengan saksi hidup Tan Malaka dan terbukti bahwa Tan Malaka sempat menetap di sana, ada catatan-catatannya pada saat pemerintah memeriksa rumah itu.
Rumah singgah Tan Malaka itu, kata dia, kini ditinggali oleh Ibu Sianturi dan keluarga. Menurutnya, sudah 25 tahun Sianturi tinggal di rumah tersebut sebagai penghuni ketiga. Adik Sianturi yang membeli rumah tersebut.
Keluarganya sempat merenovasi rumah tersebut dari bentuk aslinya yang sudah tidak layak huni.
"Ibu Sianturi, tinggal di sini juga. Jadi rumah tinggal biasa ajalah kayak gitu," kata Supryanto.
Supryanto bilang, Ibu Sianturi tidak tahu kalau rumah yang dia tinggali merupakan bekas rumah singgah Tan Malaka. Rumah itu juga kini jadi tempat tinggal biasa, pemerintah belum mengambil langkah untuk menetapkan rumah tersebut sebagai tempat mengenang sang pahlawan.
"Belum ada," ujarnya.
Makam Tan Malaka di Kediri Foto: Prasetia Fauzani/Antara
Kata Supryanto, memang sempat ada pembahasan untuk mengalihfungsikan rumah itu jadi tempat mengenang Tan Malaka atas saran dari Harry Poeze. Namun, sampai saat ini belum ada kelanjutannya
Dari sejumlah literatur, termasuk buku autobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka berkisah bahwa dia tinggal di sebuah gubuk tak jauh dari pabrik sepatu Kalibata. Gubuk itulah yang kini berubah wajah menjadi rumah Sianturi. Sementara itu, pabrik sepatu itu kini sudah menjadi apartemen Kalibata City.

Sekilas Riwayat Tan Malaka

Tan Malaka. Foto: Shutterstock
Ibrahim gelar Datouk Sutan Malaka (Tan Malaka) lahir pada 2 Juni 1897 di Desa Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia merupakan anak dari ayah HM. Rasad Caniago yang merupakan buruh tani dan ibunya Rangkayo Sinah Simabur seorang putri dari tokoh terpandang di desa.
Tan Malaka tumbuh sebagai anak yang cerdas. Bahkan, ia berkesempatan mengenyam pendidikan sekolah lanjut di Kwekschool, yaitu sekolah guru pertama yang didirikan pemerintah Belanda. Berlokasi di Bukittinggi, sekolah ini terkenal hanya untuk kelompok bangsawan dan golongan priyai yang bisa masuk.
Kejeniusan Tan Malaka selama bersekolah di Kwekschool mengantarkannya untuk meraih beasiswa sekolah ke Belanda. Ia juga mendapatkan dana dari orang-orang di kampung halamannya dan guru-guru yang mendukung Tan Malaka melanjutkan sekolahnya di Rijskweekschool (sekolah pendidikan guru di Belanda).
Tan Malaka (ilustrasi). Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan
Tan Malaka memanfaatkan kesempatannya itu untuk banyak bertukar pikiran dengan pemikir-pemikir politik, mulai dari liberalisme, nasionalisme hingga komunisme. Ia juga mulai tertarik dengan sejarah revolusi yang terinspirasi dari buku De Fransche Revolutie karya Thomas Carlyle. Di tahun 1917, Tan Malaka semakin tertarik dengan komunisme dan sosialisme, ia pun mulai membaca banyak karya dari Karl Marx hingga Friedrich Engels.
Sepulangnya dari Belanda, Tan Malaka mengajar anak-anak buruh perkebunan teh hingga tembakau di Sanembah, Sumatera Utara. Selain mengajar, Tan Malaka aktif sebagai jurnalis dan menulis berbagai karya kritis terkait ketimpangan yang terjadi antara pemilik dengan pekerja. Ia juga aktif tergabung dalam organisasi-organisasi politik dan menyuarakan keresahan masyarakat terhadap kolonialisme yang sedang dialami di Indonesia.
Ia pun tergabung dalam Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) yang merupakan cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). Tahun 1920-an, Tan Malaka pindah ke Jawa dan membangun sekolah rakyat di Semarang bernamakan Sekolah Sarekat Islam.
Tugu Peringatan Tan Malaka Foto: Prasetia Fauzani/Antara
Dalam buku Tan Malaka: Sebuah Biografi Lengkap (2018), terdapat pemikiran-pemikiran penting yang melatarbelakangi Tan selama terjun ke dunia pendidikan. Di antaranya wajib belajar bagi seluruh penduduk Indonesia secara cuma-cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.
Sekolah pertama yang didirikan Tan Malaka pun disebut sukses dan menjadi banyak percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya. Tak lama usai berhasil membangun sekolah itu, Tan Malaka terpilih menjadi anggota volksraad di tahun 1921(DPR pemerintahan Hindia Belanda) kelompok sayap kiri. Namun, setahun kemudian ia memutuskan untuk mengundurkan diri.
Saat Sarekat Islam mengadakan Muktamar ke-5 yang membahas keaggotaan ganda antara Sarekat Islam (SI) dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Sarekat Islam pun terpecah. Tan Malaka akhirnya diminta untuk ke Semarang dan bergabung dengan PKI. Ia pun ditunjuk sebagai ketua PKI menggantikan Semaun yang keluar negeri pada Desember 1921.
Namun, tak lama ditunjuk menjadi ketua, Tan Malaka ditangkap pemerintah kolonial dan diasingkan ke Belanda. Sebab, ia dinilai pemerintah saat itu sebagai ancaman, karena aktivitas politiknya yang cukup radikal dan berbahaya. Sumber lain menyebut Tan Malaka berhasil menyelaraskan kelompok Islam dengan Komunis yang bisa menjadi ancaman bagi keberadaan Belanda di Indonesia waktu itu.
Tan Malaka. Foto: Shutterstock
Akhirnya, Tan Malaka melakukan pelarian ke banyak negara, seperti China, Rusia, Jepang, Singapura, Filipina, dan Hong Kong. Ia pun tumbuh dengan berbagai pemikirannya mengenai penindasan di dunia, situasi politik, dan dampak revolusi industri. Tan Malaka juga ditunjukkan sebagai wakil Komunis Internasional (Komitern) untuk Asia Tenggara di China pada 1925. Saat itu, ia menulis konsep bangsa Indonesia ke dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia).
Dalam buku tersebut, Tan Malaka menuliskan cita-cita dan struktur negara Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Selain itu, buku tersebut juga memiliki tujuan mulia lain, seperti menghapus perbudakan dan pemerasan satu bangsa oleh bangsa lain atau satu manusia dan manusia lain.
Dari perjalanan intelektualitas dan pengalamannya itu, Tan Malaka mendapatkan julukan sebagai Bapak Republik Indonesia. Ia pun memutuskan kembali ke Indonesia pada 1942, dari Malaya hingga Sumatra dan Lampung kemudian melalui Banten, Tan Malaka akhirnya menuju ke Jakarta. Ia sempat tinggal di Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan.
Gang Tan Malaka I dan II di Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025). Foto: Aurelia Lucretie/kumparan
Sambil hidup menyamar dan bersembunyi dari tentara Jepang, Tan kembali melanjutkan penulisan bukunya yang terkenal hingga saat ini, yaitu Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika). Buku Madilog berisi tentang analisnya terhadap masyarak Indonesia yang tak terbiasa berpikir kritis, tidak logis, serta belum mampu berdialog dengan baik.
Seiring kehidupannya di Indonesia pascakemerdekaan, Tan Malaka sempat tak sejalan dengan kabinet Sjahrir dan Soekarno & Hatta yang memilih jalan diplomasi saat Belanda kembali datang di akhir 1945. Tan yang memiliki sifat revolusioner merasa gerah, menurutnya tak seharusnya mereka bisa dengan lantang menyebut Indonesia sudah merdeka dan tak perlu berunding lagi.
Pendukung Tan Malaka turut kecewa dengan pemerintahan kabinet Sjahrir pada saat itu. Tan Malaka mendirikan koalisi Persatuan Perjuangan (Front Perjuangan) dan diikuti dengan pendukungnya. Kelompoknya dinilai melawan kebijakan dan mengancam pemerintahan yang baru. Tan Malaka bersama Soebardjo dan Soekarni yang juga bagian dari kelompok Perjuangan akhirnya dijebloskan ke penjara.
Makam pahlawan nasional aliran kiri Indonesia, Tan Malaka, di Kediri. Foto: Istimewa
Setelah dibebaskan dari penjara, pada 1948, Tan Malaka mendirikan partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak). Partai Murba dibentuk untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Kerasnya Tan menjadi oposisi dinilai membahayakan Indonesia. Ia pun harus hidup kembali menjadi buronan, tetapi kali ini Tan menjadi buronan negara sendiri yang ia konsepkan.
Saat melarikan diri ke Gunung Wilis di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, Tan Malaka ditangkap oleh Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya, kemudian dieksekusi mati. Pada 1963, Soekarno memberikan gelar pahlawan nasional kepada Tan Malaka.
Trending Now