Ahli Sebut Penjarahan Rumah Sahroni-Uya Kuya dkk Sudah Ditargetkan
3 November 2025 15:30 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Ahli Sebut Penjarahan Rumah Sahroni-Uya Kuya dkk Sudah Ditargetkan
Ahli menyebut, massa yang merusak dan menjarah rumah Sahroni hingga Uya Kuya sudah disetting oleh oknum.kumparanNEWS

Sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI menghadirkan sejumlah ahli dan saksi dalam persidangan terhadap lima anggota nonaktif, pada Senin (3/11).
Lima anggota DPR nonaktif itu yakni Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari NasDem, Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio) dan Surya Utama (Uya Kuya) dari PAN, serta Adies Kadir dari Golkar.
Salah satu ahli yang turut memberikan pandangan adalah Adrianus Eliasta Sembiring, pakar krimonologi Universitas Indonesia. Adrianus dalam paparannya menyoroti penyebaran hoaks di ruang digital, terutama pasca demo besar di DPR akhir Agustus.
Menurut Adrianus, hoaks bukan hanya mencederai demokrasi, tetapi memicu konflik sosial dan kesalahpahaman publik terhadap lembaga negara. Ia menegaskan pentingnya penegakan hukum yang tegas terhadap penyebar hoaks.
βSaya setuju hukum dipergunakan secara tegas, tanpa pandang bulu. Bahwa ada pembuat hoaks yang dimaafkan, bisa dimediasikan, itu bagus juga tetapi mungkin akan memberi satu sinyal yang salah bagi banyak orang bahwa, βoh its okay ya membuat hoaksβ, atau βoh its okay ya menyakiti orangβ, itu yang saya kira perlu dipertimbangkan,β ujar Adrianus dalam persidangan MKD DPR RI.
Massa penjarah rumah Sahroni dkk sudah disetting
Saat ditanya salah satu hakim MKD, Rano Alfath, terkait provokasi tragedi penjarahan, Adrianus menyebut adanya targeted looting yang turut dikemas melalui media sosial.
βAda 10 rumah tapi hanya rumah-rumah tertentu yang dijarah. Ini yang menunjukkan adanya targeted looting, penjarahan yang memang ditargetkan, bukan spontan. Yang kedua, sebagai akademik, saya melihat dari video yang beredar (di-edit) seakan-akan ada hubungan langsung dengan penjarahan,β jelasnya.
Ia menjelaskan faktor yang memengaruhi dan juga efek yang ditimbulkan setelahnya, memberikan sinyal kepada orang-orang untuk melakukan hal serupa, yaitu penjarahan dan pembakaran.
βDari video-video itu lalu memengaruhi putusan orang, untuk kemudian melakukan tindakan penjarahan. Dan ditambah adanya triggering, pencetus, ajakan-ajakan untuk kumpul di sini, bakar Monas, serang Mabes Polri,β tambahnya.
Ada penggiringan opini
Sementara Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, juga hadir dalam sidang sebagai ahli. Ia membeberkan analisisnya terhadap demo rusuh di DPR. Menurutnya memang ada narasi di media sosial yang bertujuan untuk mengarahkan massa demo.
"Pada saat, katakan itu Agustus kelabu ya. Kami membuat analisis dan kita sudah share juga analisis Drone Emprit. Tapi kita enggak spesifik per isu, misalnya video ini. Tapi peristiwa Agustus ini. Di dalamnya mungkin ada video itu," kata Ismail.
"Jadi yang kami analisis adalah apa yang terjadi sebelum 25 Agustus. Kami menemukan sejak tanggal 10 Agustus itu sudah ada narasi itu. Narasinya adalah akan ada demo. 10 Agustus. Demonya adalah demo buruh tanggal 25 sampe tanggal berapa. Dan isu berkembang terus, memang akan ada demo," tambah dia.
Ismail menuturkan, selain arahan, muncul juga penggiringan opini. Namun, ia tidak merinci siapa pihak yang bertanggung jawab dalam penggiringan opini itu.
"Jadi saya lihat memang ada penggiringan opini dari awal yang sudah diciptakan, oleh akun siapa, ya tadi akun-akun anonim juga memang. Dan ini seperti memanfaatkan momen, ini yang harus kita perhatikan juga ke depan," kata Ismail.
