Alkisah Kampung Apung: Dari Sawah, Empang, Kini Permukiman Terapung
27 Oktober 2025 22:32 WIB
·
waktu baca 3 menit
Alkisah Kampung Apung: Dari Sawah, Empang, Kini Permukiman Terapung
Sekitar 200 KK di Kampung Apung, Kapuk Teko, Jakarta Barat, hidup di rumah panggung akibat terendam permanen sejak 1990-an. Warga kesulitan air bersih dan berharap bantuan pemerintah.kumparanNEWS

Kampung Apung, sebuah pemukiman terapung di Kapuk Teko, Kalideres, Cengkareng, Jakarta Barat dulunya merupakan areal persawahan hingga empang yang subur. Kini, sekitar 200 Kepala Keluarga yang ada di sana sebagian besar tinggal di rumah-rumah terapung.
Air mulai menggenang sekitar tahun 1990-an. Ada beberapa faktor, salah satunya pembangunan di sekitar kawasan.
Ketua RT 10 Kampung Apung, Rudi (55), mengatakan pembangunan di sekitar kawasan yang membuat kampung menjadi dataran paling rendah.
“Prosesnya ya karena pembangunan-pembangunan di sekitar kita itu kawasan industri. Dulu persawahan, nah ini juga dulu empang-empang. Karena sekelilingnya sudah pada diuruk-urukin buat kawasan industri, perumahan, jadi kampung kita ini jadi paling rendah,” jelasnya.
Bahkan, warga mendirikan rumah-rumah terapung itu dari kuburan wakaf warga asli.
“Ini kan kuburan, makam,” ujarnya sambil menunjuk genangan air.
Rudi menuturkan, sejak pertengahan 1990-an, air di wilayah itu mulai sulit surut hingga akhirnya kampung terendam sepanjang tahun.
“Dari mulai tahun 90-an tuh sudah mulai kerendam, permanen, 90 pertengahan,” ujarnya.
Ia mengenang, pada masa kecilnya di tahun 1980-an, kawasan itu masih asri dan penuh sawah. Air tanah pun masih bisa diminum langsung dari sumur.
“Air tanah dulu tahun 80 saya masih minum. Saya main lari-larian di sawah-sawah gitu kan. Ketemu sumur, saya timba. Dulu ada padasan di pinggir sumur buat wudu, saya buka, minum. Itu masih enak airnya,” kenang Rudi.
Namun kondisi itu berubah drastis saat banjir mulai rutin menggenangi kampung menjelang 1990. Air pun tak lagi surut hingga kini mencapai kedalaman dua sampai tiga meter di beberapa rumah.
“Satu rumah abis. Dua meter sampai tiga meter,” ucapnya.
Warga pun berinisiatif menguruk tanah dan membangun rumah panggung agar bisa tetap bertahan.
“Makanya usaha warga itu inisiatifnya, kalau dia punya uang lebih, mungkin rumahnya, lahannya diuruk. Kalau yang nggak mampu, cari kayu-kayu bekas. Dipanggung,” ujar Rudi.
Hal serupa disampaikan Usman (60), warga asli Kampung Apung yang sudah tinggal di kawasan itu sejak lahir. Ia masih ingat masa-masa ketika kampungnya kering dan bisa dijadikan tempat bermain anak-anak.
“Dulu mah tahun 80-an ya enak. Kita bisa lari ke sana kemari. Karena mah air semua. Itu kuburan masih kering,” katanya.
Kini, genangan air menjadi pemandangan sehari-hari di Kampung Apung. Warga berharap pemerintah dapat menata kembali wilayah tersebut agar lebih layak huni, termasuk penyediaan fasilitas umum yang masih minim
“Pemerintah yang mudah-mudahan diurus. Ya warga paling mintanya memang nggak neko-neko sih. Bikin fasilitas umum. Kayak sekolahan, puskesmas. Pemerintah juga punya masuknya, bukannya ke perorangan,” ucap Usman.
Rudi menambahkan, dari 200 KK yang menempati Kampung Apung, sebagian besar merupakan warga asli DKI Jakarta.
“Di RT saya ini ada 200 KK. 120-an itu KTP DKI,” katanya.
Meski hidup berdampingan dengan genangan air, warga masih berupaya memperbaiki lingkungan kampung secara swadaya. Rudi berharap pemerintah dapat membantu menata wilayah mereka agar lebih aman dan layak huni.
“Kita pengin kampung ini nggak ada genangan air. Pengin agak rapi. Karena kita sudah ada korban jiwa dua balita tahun 2011 tenggelam,” ucapnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku telah menerima laporan terkait warga yang mengeluhkan air keruh di Kampung Apung Kapuk Teko dan memerintahkan Pemkot Jakarta Barat segera menyalurkan bantuan air bersih.
“Air PAM juga enggak masuk. Ketika air keluar bening, tapi 20–30 menit kemudian keruh dan tidak bisa dikonsumsi,” demikian laporan yang disampaikan kepada Pramono saat peninjauan lahan di RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Senin (27/10).
Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan PAM untuk pengiriman air bersih.
“Segera saya koordinasi dengan PAM untuk dikirimkan air bersih. Karena memang betul untuk Cengkareng dan Kalideres, kekurangan air bersih dan akses PAM masih dalam proses. Insyaallah dalam waktu dekat nanti masuk,” ujar Uus.
