Anies: Sekolah Kita Masih Pola Pikir Abad Ke-20, padahal Muridnya Abad Ke-21

5 Oktober 2025 19:23 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anies: Sekolah Kita Masih Pola Pikir Abad Ke-20, padahal Muridnya Abad Ke-21
Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyoroti sistem pendidikan Indonesia.
kumparanNEWS
Anies Baswedan saat menjadi keynote speaker ASEAN for the Peoples Conference di The Sultan Hotel, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anies Baswedan saat menjadi keynote speaker ASEAN for the Peoples Conference di The Sultan Hotel, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyoroti sistem pendidikan Indonesia. Ia menilai pendidikan Indonesia masih menggunakan pendekatan abad ke-20, sementara para murid sudah hidup di era abad ke-21.
Hal itu disampaikan Anies saat menjadi keynote speaker dalam konferensi ASEAN for the Peoples Conference bertajuk “Ideas to Upgrade and Reform Our Education Ecosystem” di The Sultan Hotel, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (5/10).
“Saya pikir ada fenomena hari ini yang kita hadapi, yaitu kita memiliki anak-anak abad ke-21. Namun, sistem sekolah kita masih beroperasi dengan pola pikir abad ke-20. Jadi, murid-muridnya abad ke-21, gurunya abad ke-20, dan tata letak kelasnya sebenarnya abad ke-19,” ujar Anies.
Menurutnya, akar masalah pendidikan Indonesia terletak pada sistem yang masih dirancang untuk era industri, bukan era digital.
“Instruksi massal, hafalan, konformitas, dan itu belum dirancang untuk era digital, jaringan, dan perubahan cepat saat ini. Jadi, itu masalah nomor satu,” kata eks Gubernur DKI Jakarta itu.
Selain itu, Anies juga mengungkap bahwa ada kesenjangan dalam imajinasi anak-anak. Perbedaan ini terjadi antara anak yang tinggal di daerah miskin dengan anak-anak yang tinggal di perkotaan.
Anies Baswedan usai membesuk Tom Lembong yang menerima abolisi, di Rutan Cipinang, Jaktim, Jumat (1/8). Foto: Thomas Bosco/kumparan
“Dan kemudian ada kesenjangan tersembunyi. Kesenjangan ini tidak hanya tentang dalam hal akses ke guru, atau akses ke fasilitas, atau akses ke sekolah. Tetapi kesenjangan imajinasi. Ini bahkan lebih menantang,” tutur Anies.
“Anak-anak di kota terpapar pada kemungkinan yang begitu besar. Di sisi lain, anak-anak di daerah pedesaan atau di daerah miskin, mereka mungkin tidak pernah bertemu orang yang kuliah di universitas,” tambahnya.
Ia menilai tanpa imajinasi tentang masa depan, banyak potensi siswa yang akhirnya terbuang. Karena itu, reformasi pendidikan menurutnya bukan hanya soal memperkecil kesenjangan keterampilan, tetapi juga kesenjangan mimpi.
“Mimpi adalah fungsi dari pengetahuan dan sangat penting hari ini untuk, satu, mereformasi sistem sekolah kita dari pola pikir abad ke-20 menjadi pola pikir abad ke-21,” ujar Anies.
“Kemudian mengatasi tidak hanya kesenjangan keterampilan tetapi juga kesenjangan imajinasi,” tandasnya.
Anies pun menegaskan, masa depan pendidikan tidak bisa lagi bergantung pada metode hafalan, melainkan kreativitas.
“Kita telah mengajar anak-anak kita dengan hafalan dan segalanya. Kita perlu menggeser itu. Jadi, jika saya boleh menyimpulkan, sangat penting bagi kita untuk mulai beralih ke pendekatan abad ke-21 dalam pendidikan,” tandasnya.
Trending Now